Wanita Tangguh

Wanita Tangguh
53. melihat sosok Wahyu yang dulu


__ADS_3

Setelah makan siang bersama. Mereka bertiga kembali ke tempat pembangunan ruko. Wahyu yang belum bisa mengingat apapun hanya diam saja saat Restu dan Vinka membahas desain dan konsep dari ruko baru mereka.


Bukan Wahyu tidak ingin menyumbangkan suara. Namun ia takut salah jika memberi ide. Wahyu yang sangat ahli dalam membuat sketsa gambar mulai mencoret- coret kertas yang ada di dekatnya saat ini. Vinka tau sebenarnya Wahyu sangat ahli dalam membuat sketsa gambar. Makanya dia dengan sengaja menaruh pulpen dan kertas didekat Wahyu. Dan ternyata sesuai dugaannya. Wahyu menunjukkan keahliannya dalam membuat sketsa.


" Waaahh Mas. Sketsa gambar kamu bagus sekali. Aku yakin, Rukoku akan semakin bagus dan menarik jika didesain seperti ini." Seru Vinka bahagia melihat sketsa yang Wahyu buat.


" Mana sini aku lihat. Kalau cocok, aku akan segera menyuruh mereka membuatnya." Restu mengambil sketsa gambar Wahyu dan melihatnya dengan teliti.


" Ternyata Wahyu pandai juga menggambar. Sketsa yang dia buat bagus sekali. Dia bahkan bisa jadi desain interior terkenal jika dia mau." batin Restu yang puas dengan sketsa yang Wahyu buat.


" Maaf. Aku sudah lancang. Gambarku tidak begitu bagus. Hanya iseng coret-coret saja tadi." Wahyu ingin mengambil sketsa dari Restu.


" Kamu ini kenapa tidak percaya diri,Yu. Gambar kamu ini sangat bagus. Aku suka dan akan segera menyerahkan kepada pimpinan mereka. Semoga tidak ada hambatan dan proses pembangunan ruko bisa segera selesai."


" Aamiin. Semoga Kak. Aku tidak sabar ingin segera melihat ruko ini berdiri kokoh dan berkembang. Hheee." Vinka sangat antusias.


" Alhamdulillah kalau kamu kalian suka. Aku memang suka menggambar." Wahyu tersenyum melihat Vinka yang begitu bahagia.


" Kamu harus percaya diri,Yu. Kalau kamu mau, aku akan rekomendasikan kamu kerja ditempat temanku. Kebetulan ia seorang kontraktor. Pasti dia senang bisa mempunyai patner seperti dirimu," ungkap Restu menyemangati Wahyu.


" Ternyata Restu begitu baik. Dia juga mudah akrab. Mungkin aku telah salah menilainya kemarin." batin Wahyu.


Saking asyiknya mengobrol, tanpa mereka sadari waktu sudah menginjak sore. Vinka dan yang lainnya bersiap-siap untuk pulang.


" Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu. Aku harus bersiap pulang. Kasihan anak-anak sudah menunggu dirumah." Vinka segera membereskan berkas dan memasukkan barang berharganya ke dalam tas.


" Iya, aku juga harus segera pulang. Hari ini Budhe mau ada acara lamaran anaknya." Restu ikut membereskan barang-barangnya.


" Lamaran? Wina mau menikah?" tanya Vinka antusias.


" Iya. Akkhh aku keduluan lagi decchh." Canda Restu.


" Makanya Kak. Jangan terlalu pemilih. Kalau udah cocok, langsung gas poooll." Vinka menimpali candaan Restu.


" Memang mau balapan gaspol." Restu yang gemas mengacak kepala Vinka yang tertutup hijab.


" Maaf. Aku terbawa suasana. Vinka sudah bukan anak kecil lagi sekarang." Restu tersenyum canggung karena ulahnya.


" Kalian sangat akrab. Aku sangat senang melihat ke akraban kalian. Aku yakin, kamu pemuda yang baik Restu. Kamu pasti akan mendapatkan wanita yang baik dan sesuai keinginanmu," ucap Wahyu.


" Andai kamu tahu Yu. Aku sangat mencintai Vinka istrimu. Walaupun aku mencoba ikhlas melepaskannya. Nyatanya hatiku tidak bisa. Vinka mengikat hatiku terlalu dalam. Mungkin karena kami masih sering bersama. Aku akan menjauh, hingga rasaku ini tidak terlalu dalam menyakitiku." batin Restu.


" Sudah sudah. Ayo pulang!. Aku takut dua putri cantikku sudah menungguku dirumah." Vinka bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Wahyu dan Restu menyusul keluar. Mereka berjalan beriringan hingga sampai di plataran ruko.


" Aku duluan Vinka. Kamu hati-hati." Restu mulai mendekat ke arah mobilnya." Wahyu. Jaga Vinka baik-baik. Awas jangan sampai lecet!" canda Restu sebelum ia membuka pintu mobilnya.


" Kamu tenang saja. Aku pasti akan menjaganya dengan hati-hati," jawab Wahyu.


" Baiklah. Aku percaya padamu. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


" Waalaikum salam."


Restu segera masuk dan menghidupkan mesin mobil. Ia menurunkan kaca mobilnya sedikit untuk melambaikan tangan kepada pasangan suami itu tersebut.


Tiiin


Restu membunyikan tlakson mobilnya sebelum ia benar-benar pergi dari sana. Vinka dan Wahyu melambaikan tangan ke arah mobil Restu yang semakin menjauh.


" Kamu terlihat akrab sekali dengannya. Apakah dulu aku sering cemburu dengannya?. Aku rasa, dia yang lebih mengerti kamu dan melakukan semua untuk kebahagiaanmu." Wahyu menatap Vinka yang masih tersenyum masih melihat ke arah mobil Restu.


Vinka menoleh dan menatap Wahyu." Kamu ini kenapa sih Mas?. Kamu cemburu?" canda Vinka.


" Kalau aku bilang iya. Terus tanggapan kamu gimana?"


" Ya nngak gimana-gimana. Tapi aku bahagia kamu cemburuin. Itu artinya kamu sudah mulai mengingatku dan mencintaiku lagi. Tapi-" Vinka tidak melanjutkan ucapannya. Ia menatap Wahyu intens.


" Tapi apa?" Wahyu juga sama menatap Vinka.


" Aku masih kefikiran dengan Ibu kamu, Mas. Beliau masih belum bisa menerimaku." Vinka menunduk sedih.


" Jangan bersedih. Aku yang akan meyakinkan Ibu bahwa kamu wanita terbaik untukku. Kamu tidak perlu khawatir." Wahyu menggenggam kedua tangan Vinka.


Vinka tersenyum dan mengangguk. Ia sangat bahagia hari ini. Ia seperti sudah melihat sosok Wahyu yang dulu. Perlahan, Vinka yakin bahwa Wahyu akan segera mengingat semuanya.


" Ayo aku antarkan pulang." Wahyu menarik tangan Vinka pelan.


" Aku bawa motor?. Kamu masih ingat cara bawa motor kan, Mas?" tanya Vinka ragu-ragu.


Vinka dibantu beberapa pekerja proyek memasukkan Wahyu ke dalam taksi.


" Terimakasih banyak Pak. Saya pamit dulu. Assalamu'alaikum." Vinka segera masuk menyusul Wahyu.


" Sama-sama Bu Vinka. Hati-hati. Waalaikum salam," ucap para pekerja yang tadi membantu Vinka.


Vinka merangkul dan mendekap tubuh Wahyu yang merasa sangat kesakitan. Vinka menyandarkan kepala Wahyu di bahunya agar Wahyu bisa sedikit lebih tenang.


" Tahan ya Mas. Sebentar lagi kita sampai." Vinka sangat khawatir melihat kondisi Wahyu saat ini.


Wahyu mengangguk lemah. Ia sangat merasa kesakitan dan tidak kuat lagi untuk mengucapkan sepatah kata pun. Setelah kurang lebih 20 menit. Taksi yang mereka tumpangi telah tiba diplataran rumah sakit. Vinka segera memanggil perawat untuk membantunya membawa Wahyu.


Tadi Vinka sudah menghubungi Dokter Ridwan. Kini mereka tinggal membawa Wahyu ke ruang pemeriksaan.


" Kamu yang sabar ya Mas. Aku yakin kamu pasti bisa sembuh." Vinka menyemangati Wahyu.


Kini mereka telah berada di dalam ruang pemeriksaan. Dokter Ridwan dibantu perawat pribadinya memeriksa kondisi Wahyu dengan teliti. Setelah menyuntikkan obat pereda nyeri ke tubuh Wahyu. Dokter Ridwan keluar untuk menyampaikan kondisi Wahyu kepada Vinka.


" Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Vinka.


" Pak Wahyu baik-baik saja. Hal seperti ini wajar dialami oleh seseorang yang mengalami trauma seperti Pak Wahyu," ungkap Dokter Ridwan.


" Bu Vinka harus sering memberi rangsangan agar ingatan Pak Wahyu segera pulih. Juga agar Pak Wahyu bisa menghilangkan rasa traumanya akibat kecelakaan tersebut." lanjut Dokter Ridwan memberikan penjelasan.

__ADS_1


" Saya akan berusaha semampu saya Dok. Saya akan mengupayakan yang terbaik untuk suami saya."


" Kalau begitu. Ini saya berikan resep obat dan beberapa Vitamin. Dan jangan lupa untuk selaku cek up rutin. Kami akan pantau kesehatan Pak Wahyu. Semoga ingatan Pak Wahyu segera kembali," ucap Dokter Ridwan seraya memberikan resep obat yang harus Vinka tebus.


" Terimakasih banyak Dok. Saya permisi dulu untuk menebus obatnya sekalian mengurus admistrasinya. Apakah suami saya bisa langsung pulang setelah ini?" tanya Vinka.


" Setelah Pak Wahyu sadar. Bisa untuk dibawa pulang. Tapi ingat, jangan buat Pak Wahyu merasa tertekan dan stres."


" Baik Dok. Saya mengerti." Vinka mengangguk.


Vinka segera mengurus admistrasi dan juga menebus resep obat untuk sang suami. Vinka tidak ingin meninggalkan Wahyu terlalu lama. Ia ingin ketika Wahyu sadar, ia sudah berada disamping Wahyu.


Kleekk


Vinka membuka pelan pintu ruangan dimana Wahyu berada. Wahyu masih belum sadarkan diri dan ada satu perawat yang sedang sibuk mencatat hasil pemeriksaan Wahyu.


" Sus, bagaimana kondisi suami saya?"


" Pak Wahyu baik-baik saja Bu. Sebentar lagi pasti sudah siuman. Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya sudah selesai."


" Silahkan Sus."


Vinka mendekat ke arah Wahyu dan duduk di kursi sebelah Wahyu. Benar ucapan perawat tadi. Tak berselang lama Wahyu mulai membuka matanya.


" Kamu sudah sadar Mas." Vinka membantu Wahyu duduk.


" Sekarang apa yang kamu rasakan?. Atau kamu ingin sesuatu?. Biar aku ambilkan." Vinka memberondong Wahyu dengan banyak pertanyaan.


" Aku tidak ingin apapun. Aku ingin kamu berada terus disampingku. Aku sangat takut kehilanganmu," ungkap Wahyu.


" Aku akan terus disampingmu Mas. Kamu tidak perlu khawatir." Vinka menggenggam erat tangan Wahyu.


Wahyu balas menggenggam tangan Vinka lebih erat. Mereka sama-sama hanyut dalam pikiran masing-masing.


💞💞💞💞💞💞🍁🍁🍁🍁🍁


Hayy readers


Maaf ya. Kalau ceritaku masih jalan ditempat dan kurang greget.


Author masih sangat pemula dan harus banyak belajar agar bisa memberikan cerita yang lbih bagus lagi.


Semangati Author trs ya!!


Jangan lupa untuk like, komen, Vote , subcribe dan hadiahnya.


Ohh iya.


berhubung Author baru nerintis untuk jualan lagi.


insya Allah akan ada hadiah dari Author untuk Readers setia. Nanti akan Author hubungi dan umumkan siapa yang beruntung mendapatkan bingkisan cantik dari Author.

__ADS_1


I Love You full😘😘😘


__ADS_2