
Cerahnya mentari telah berganti dengan gelapnya malam. Seusai melaksanakan salat isya dan menemani tidur kedua anaknya. Vinka duduk bersantai diteras samping rumah.
Kebetulan saat ini cuaca sangat cerah disertai sinar bulan yang sangat terang. Vinka bersyukur atas nikmat pemberian Tuhan dan mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat indah.
" Masya Allah. Indahnya cahaya bulan saat ini."
Mungkin karena ia jarang memiliki waktu santai. Sehingga hari ini ia begitu menikmati sinar bulan dengan kesendiriannya. Sendiri, karena biasanya Wahyu selalu bersamanya menikmati indahnya suasana malam.
" Mas Wahyu sedang apa ya? Apa dia juga merindukanku. Sama seperti diriku yang selalu merindukan dan memikirkannya." Raut wajah Vinka murung seketika.
" Semoga ingatanmu cepat pulih Mas. Kasihan anak-anak. Apalagi Safa, yang hampir tidak mengenalimu."
Saking asyiknya melamun dan menikmati suasana malam. Vinka sampai tidak menyadari jika sang Ayah telah duduk dikursi sebelahnya.
" Vinka. Apakah kamu sudah mengambil keputusan untuk kelanjutan rumah tanggamu dengan Wahyu? Bapak tidak tega melihat cucu-cucu Bapak bersedih."
Vinka menatap sang Ayah." Vinka bingung Pak. Vinka tidak bisa memaksa Mas Wahyu untuk segera mengingat semuanya. Vinka takut, kondisi Mas Wahyu akan memburuk jika dipaksakan."
" Bapak tau Vinka. Tapi kalau seperti ini terus, juga tidak akan baik untuk kelangsungan rumah tangga kalian."
Vinka menghela nafas panjang. Ia bingung harus melakukan apa. Ia ingin mencoba bertanya kepada temannya yang berprofesi sebagai dokter. Agar ia bisa mengambil langkah untuk bisa menyelamatkan rumah tangganya.
" Doakan saja Pak. Semoga Vinka segera bisa mengatasi masalah ini. Doakan juga Mas Wahyu. Semoga ingatannya kembali pulih."
" Bapak selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak. Bapak yakin, kamu bisa menangani masalahmu sendiri. Bapak hanya berpesan. Apapun yang terjadi, kamu harus kuat, ikhlas dan tabah. Serahkan semua masalahmu kepada Allah."
" Terimakasih nasihatnya Pak." Vinka menghambur memeluk sang Ayah.
Walau Vinka sudah dewasa. Tapi tetap saja, ia adalah putri kecil bagi Ayahnya. Pak Sarif menepuk nepuk punggung Vinka. Ia sungguh merasa kasihan akan nasib anak sulungnya. Orang tua mana yang tega melihat anaknya bersedih. Pasti mereka akan melakukan berbagai cara untuk kebahagiaan anaknya.
" Sudah malam. Istirahatlah."
" Iya Pak. Sebentar lagi. Vinka masih ingin menikmati suasana indah ini."
" Jangan terlalu malam. Kamu bisa sakit."
Vinka mengangguk. Pak Sarif segera masuk ke dalam rumah. Kini Vinka benar-benar sendiri menikmati indahnya suasana malam yang bercahaya terang dan bercampur bintang.
Ponsel Vinka bergetar, ada pesan masuk dari Leni. Vinka menggeser layar ponselnya dan membaca pesan dari Leni. Dunia seakan runtuh, bahkan ia seperti melayang mendengar kabar dari Leni.
" Ya Allah. Kenapa cobaan ini begitu berat. Apakah aku sanggup melewatinya?"
Vinka terduduk lemas di kursi. Ia sangat syok mendapat kabar dari Leni bahwa ruko mereka kebakaran. Tanpa sengaja ia menyenggol gelas diatas meja.
Suara benda yang jatuh membuat kedua orang tua Vinka terkejut. Mereka tambah terkejut saat mendapati anak sulung mereka yang tengah tidak sadarkan diri.
Vinka pingsan setelah terduduk lemas dikursi. Pak Sarif dengan sigap membopong Vinka ke kamarnya. Bu Tami segera mengambil minyak kayu putih dan membaluri seluruh tubuh Vinka yang dingin.
" Sebenarnya ada masalah apa lagi sih, Pak? Kenapa cobaan hidup anak kita begitu berat?" Bu Tami sedih melihat keadaan Vinka.
" Aku tidak tau Bu." Pak Sarif menggidikkan bahunya. Samar-samar ia mendengar suara. Ia menajamkan pendengarannya.
" Bentar Bu. Kaya ada suara diluar." Pak sarif keluar untuk memastikan sesuatu.
Ponsel Vinka masih menyala. Sambungan telfon juga masih terhubung. Pak Sarif segera menempelkan ponsel Vinka ditelinganya.
" Hallo."
" Maaf Om. Ini saya Leni."
" Iya Leni. Ada kabar buruk apalagi sampai Vinka tiba-tiba pingsan?"
" Vinka. Pingsan Om." Leni terkejut mendengar Vinka sampai pingsan.
__ADS_1
" Iya. Dia sedang ditemani Ibunya didalam. Katakan pada Om. Apa yang sebenarnya terjadi?"
" Ruko mengalami kebakaran Om." jawab lirih Leni.
Pak Sarif menarik nafas dalam untuk menetralkan keterkejutannya. Masalah yang dihadapi putri sulungnya sangatlah berat. Ia tidak menyangka, Vinka memikul beban yang amat berat.
" Om akan minta bantuan Restu untuk membantumu menangani masalah ini. Tolong kamu cari tau apa penyebabnya. Om harus bantu tante didalam."
" Iya Om. Leni akan berusaha semaksimal mungkin. Semoga Vinka segera sadar."
" Kamu hati-hati. Assalamu'alaikum"
" Waalaikum salam."
Panggilan telfon terputus. Pak Sarif masuk kembali ke kamar Vinka. Pak Sarif juga mwnghubungi Restu untuk meminta bantuan.
...********...
Restu terkejut mendapat kabar dari Pak sarif dan juga Leni. Restu baru saja sampai dirumah dan merebahkan badannya di ranjang. Ia terlihat sangat lelah setelah seharian bekerja.
Mendengar kabar buruk mengenai kebakaran ruko. Restu tidak bisa tinggal diam. Ia khawatir akan kondisi Vinka. Apalagi sekarang ini bahkan berita tentang kebakaran ruko milik Vinka sudah tersebar di mana-mana.
Restu segera menyambar jaket dan kunci mobilnya. Ia tak lupa membawa dompet dan juga ponselnya. Bu Endang yang melihat Restu hendak pergi segera menyusul Restu.
" Restu. Mau kemana kamu malam-malam begini?"
Suara Budhenya membuat langkah Restu berhenti. Ia menengok ke belakang, mendapati Budhenya berjalan kearahnya.
" Maaf Budhe. Aku buru-buru. Aku harus segera mengurus ruko Vinka yang mengalami musibah kebakaran."
" Innalillahi. Ruko Vinka kebakaran!! Kapan Restu? Terus sekarang Vinka gimana?"
" Budhe yang tenang. Vinka baik-baik saja. Tidak ada korban jiwa. Hanya kerugian material saja."
" Doakan saja Budhe. Aku yakin, Vinka wanita yang kuat."
Restu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di ruko. Ia akan mencari tau penyebab kebakaran. Restu sudah menghubungi asisten dan orang kepercayaannya mencari tau semuanya.
Kini mobil Restu sudah sampai diplataran ruko. Restu bersyukur karena ruko tidak terbakar seutuhnya. Bagian paling parah terdapat di ruang penyimpanan barang. Restu berjalan cepat menghampiri petugas kepolisian yang sedang mengamankan tempat kejadian.
" Selamat malam Pak."
" Selamat malam. Ada yang bisa kami bantu." jawab petugas kepolisian ramah.
" Saya salah satu pemilik ruko ini. Apakah sudah ada informasi mengenai penyebab kebakaran ruko ini?"
" Tim kami masih menyelidiki tempat ini. Kami harap, Bapak bisa bersabar. Kami akan melakukan yang terbaik."
" Baik. Saya akan menunggu dan tidak akan mengganggu jalannya proses penyelidikan."
" Terimakasih atas kerjasamanya."
Restu dan dua petugas kepolisian itu saling berjabat tangan. Restu tidak bisa tinggal diam saja, ia tetap menyelidiki sendiri kasus kebakaran itu. Ia yakin, ruko ini sengaja di bakar oleh seseorang.
Restu sedikit menjauh saat ponselnya berdering. Ia cepat-cepat mengangkat telfon dari asisten pribadinya.
" Hallo. Bagaimana? Kamu sudah menemukan bukti tentang dalang dibalik kebakaran ini?" Restu tidak sabar ingin tahu siapa dalang dibalik musibah yang menimpa Vinka.
" Kalau dalangnya, ini masih terus kami selidiki Bos. Kami sudah mengantongi wajah pelaku. Benar dugaan anda, ruko sengaja dibakar."
Wajah Restu memerah, tangannya terkepal kuat, emosinya memuncak. Restu masih bisa mengontrol dirinya sehingga semua yang ada disana tidak menyadari kemarahannya.
" Terus selidiki!!! Aku tak akan kasih ampun pada mereka. Sekalipun mereka bersujud dan menangis darah!" geram Restu.
__ADS_1
" Baik Bos. Akan kami laksanakan."
Panggilan telfon terputus. Restu segera kembali ke tempatnya semula untuk mengecek barang-barang Vinka. Ia segera menghampiri Leni yang sedari tadi sibuk membereskan semua barang-barang milik Vinka.
" Leni. Apakah sedari tadi kamu melihat ada seseorang yang mencurigakan di sekitar ruko? Aku sangat yakin, ada orang yang dengan sengaja ingin membakar ruko."
" Dari tadi siang aku memang melihat ada seorang pria dengan gerak gerik mencurigakan seperti sedang mengawasi Vinka dan ruko. Karena aku sibuk dan banyak pelanggan yang komplain, aku jadi tidak begitu memperhatikannya. Setelah Vinka pulang tadi, aku sempat melihat ia menghubungi seseorang. Lalu beranjak pergi." tutur Leni.
Restu mengangguk faham. Benar dugaannya, ada seseorang yang dengan sengaja ingin menghancurkan Vinka. Restu semakin khawatir dengan keselamatan Vinka. Ia bergegas mengirim pesan kepada asisten pribadinya untuk segera mengirim orang untuk berjaga dirumah Vinka.
...******...
Dikediaman orang tua Vinka begitu ramai saat ini. Banyak tetangga yang kepo karena penjagaan ketat disana. Pak Sarif sampai heran, Restu sampai segitunya mengkhawatirkan keselamatan ia dan keluarganya. Pak Sarif bersyukur, walaupun Restu bukan siapa-siapa mereka tapi Restu selalu membantu kesulitan keluarganya.
" Ada apa Pak? Sepertinya ramai sekali diluar. Apakah kali ini masalah Vinka begitu serius?" Bu Asty mencoba mengintip di jendela.
" Restu menyuruh orang untuk berjaga di depan. Entah masalah mereka seberat apa? Bapak yakin, Restu tau yang terbaik. Semua ini ia lakukan untuk keselamatan kita."
Hendri sedikit terkejut mendapati rumahnya dikerumuni banyak orang. Ia mengenali salah satu orang yang berbadan tegap dan menyeramkan yang berjaga didepan rumahnya. Salah satunya adalah asisten pribadi Restu. Hendri menghampiri mereka.
" Hallo Bro. Gimana kabarnya?. Ada apa ya? Kok banyak orang gini?"
Asisten Restu mengernyitkan dahinya." Kamu dari mana saja?. Berita seheboh ini kamu bahkan tidak tahu."
" Berita apa? Aku baru saja pulang touring." Hendri menatap asisten pribadi Restu dengan tatapan penuh tanya.
" Ruko kakakmu kebakaran. Bos Restu mencurigai ada yang ingin berniat jahat terhadap Kakakmu. Maka dari itu, kami ditugaskan berjaga disini."
Hendri jadi ingat kejadian beberapa hari lalu. Saat ia baru saja pulang dari rumah temannya. Ia pernah melihat ada beberapa orang seperti sedang mengawasi rumahnya. Namun Hendri enggan menceritakan kepada siapapun. Ia takut keluarganya akan ketakutan.
" Kenapa? Kamu mencurigai sesuatu?" tanya asisten pribadi Restu.
" Ya. Beberapa hari lalu aku pernah melihat ada beberapa orang seperti sedang mengintai rumahku. Saat menyadari keberadaanku, mereka langsung pergi."
Asisten pribadi Restu itu manggut-manggut." Aku berfikir, ini ada kaitannya."
" Aku tak akan tinggal diam jika keselamatan keluargaku terancam. Akan ku basmi sampai tuntas siapa yang berani mengusik keluargaku. Apalagi sampai membuat orang-orang yang aku cintai terluka."
" Aku akan membantumu."
Hendri sangat geram, ia tidak akan main-main dengan ucapannya. Walau ia masih sangat muda. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki dikeluarganya. Ia akan melindungi keluarganya walaupun harus bertarung nyawa.
Sementara itu, Vinka masih belum sadarkan diri. Nenek Siti begitu sedih akan nasib cucunya yang sangat memprihatinkan. Perlahan kelopak mata Vinka terbuka. Nek Siti sungguh senang. Cucu kesayangannya sadar.
" Vinka. Kamu sudah sadar?. Kamu butuh apa biar Nenek ambilkan."
" Pusing Nek. Aku hanya sedikit pusing saja."
" Kamu berbaring saja."
Vinka menuruti nasihat neneknya. Ia begitu lelah dan pusing dengan keadaan dan masalah yang menimpanya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁💞💞💞💞💞
Maaf guyysss.
dikit2 dulu ya!
Jangan lupa, like, komen, subcribe, vote dan hadiahnya.
Jangan pernah bosen menunggu next episodenya ya!!!
🤭🤭🤭
__ADS_1
Terimakasih sudah berkenan baca🥰🥰🙏