Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 100. Pemandangan Yang Menggoda.


__ADS_3

Riyan melangkah keluar dari kamar mandi dengan senyum yang terpancar dari wajahnya. Dia terlihat begitu bahagia bisa menjahili istrinya. Ekspresi Fara di saat sedang kesal, selalu menjadi satu hiburan terhadap laki-laki kaku itu. Sedangkan Fara yang begitu mudah mengubah suasana hatinya. Segera membersihkan badannya sambil bernyanyi tidak jelas.


Selesai mandi, Fara memilih untuk mengenakan handuk putih yang terlihat begitu pendek di tubuhnya. Dia melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya. Karena merasa begitu dingin dengan rambut yang masih basah, akhirnya Fara mengambil hair dryer, dan mengarahkan ke tubuhnya sambil menutup mata.



Fara yang begitu menikmati udara hangat yang keluar dari hair dryer, sama sekali tidak ingin membuka matanya. Dan penampilannya saat itu, benar-benar membuat Riyan yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu, hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan tanpa bersuara.



Setelah merasa sudah tidak terlalu dingin, Fara pun langsung bergegas untuk meraih kopernya yang ada di dekat situ. Tapi karena tidak hati-hati, membuat handuk yang dia kenakan jadi tersangkut, di samping meja rias dan terlepas dari tubuhnya. Tapi dengan begitu santainya, Fara langsung membongkar kopernya dengan gaya jongkok, tanpa memperdulikan handuknya yang sudah tergeletak di atas lantai.


Melihat pemandangan yang begitu menggoda di depannya, membuat batin Riyan jadi tertekan dengan rasa yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Keinginan yang begitu menuntut dengan pikiran liar seorang laki-laki mulai melumpuhkan akal Riyan. Namun dengan segera dia langsung membuang muka sambil bersuara, dan membuat Fara langsung terkejut.


"Ehem.. ehem.." Suara Riyan yang membuat Fara langsung tersentak, sampai terduduk di atas lantai tanpa ada gaya.


"Mas.... Ngapain kamu ada di situ..?" Teriak Fara sambil buru-buru meraih handuk, untuk menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun.


"Terus aku mau kemana? Apa aku harus pergi ke kamar orang?" Tanya Riyan tanpa menatap Fara.


"Setidaknya kamu tu bersuara sejak tadi. Biar aku bisa tahu kalau ada orang di dalam kamar ini." Ketus Fara dengan tatapan penuh kekesalan.


"Ngga usah salahi aku! Kamu yang terlalu ceroboh. Lagian kamu kan sudah tahu. Kalau sekarang kamu tidak sendirian di sini. Ada aku suamimu. Atau jangan-jangan kamu sudah lupa dengan suamimu sendiri?" Ujar Riyan sambil menatap Fara tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Masa aku bisa lupa dengan suami rakus seperti kamu. Aku tu hanya kaget dengan keberadaan mu." Jawab Fara dengan kening berkerut saking kesal bercampur malu.


"Oooo,, jadi kamu tidak pernah lupa dengan kerakusan ku? Berarti kamu selalu membayangi hal itu kan?" Tanya Riyan yang membuat wajah Fara seketika memerah saking malunya. Namun dia tetap berusaha untuk mengelak.


"Siapa yang membayanginya? Aku tu hanya tidak bisa melupakannya. Karena..."


"Karena apa..? Karena kamu begitu menikmatinya kan?" Tanya Riyan yang membuat Fara segera berbalik membelakanginya, dan berusaha untuk menyangkal apa yang di tanyakan suaminya.


"Ngga... Aku ngga menikmatinya." Jawab Fara tanpa mau menatap Riyan.


"Ngga menikmati,,? Tapi seingat aku, tadi malam ada yang berteriak-teriak. Bahkan mendorong kepalaku sampai aku hampir tidak bisa bernafas, karena terjepit paha." Ujar Riyan yang membuat Fara langsung berteriak sambil melemparkan sesuatu ke arahnya.


"Mas Riyan.... Berhenti...!" Teriak Fara sambil melempar Riyan dengan sesuatu yang dia ambil dari dalam kopernya.


"Apa-apaan ini Fara..? Ko baunya ngga enak?" Tanya Riyan sambil meraih celana dalam Fara, yang sedang menutupi wajahnya.


Mendengar apa yang di katakan oleh Riyan. Fara langsung buru-buru berbalik dan menatap dengan mata terbuka lebar, saking kagetnya dengan apa yang dia lihat di tangan Riyan. Mulut Fara tiba-tiba jadi kaku untuk berkata-kata. Di saat melihat celana dalam bekasnya sedang di perhatikan oleh Riyan. Bahkan di hirup Riyan dengan ekspresi wajah yang sangat aneh.


Tanpa menunggu lama, Fara segera berdiri dan melangkah cepat ke arah Riyan yang masih kebingungan, menatap apa yang ada di tangannya. Karena merasa sangat malu dengan suaminya, Fara pun langsung meraih celana dalamnya dari tangan Riyan, dan menyembunyikannya di bagian belakang.


"Itu celana bekas kamu..? Kamu ko jorok bangat? Celana dalam bekas di lempar sembarangan." Ujar Riyan sambil menatap Fara dengan kening berkerut.


"Aku ngga tahu kalau yang aku lempar celana dalam bekas." Jawab Fara dengan polosnya tanpa berani menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Lain kali ngga boleh gitu! Kamu ni terlalu ceroboh. Celana dalam bekas dan bau, di simpan di dalam koper yang ada pakaian bersih. Jorok bangat kamu." Ujar Riyan sambil menatap layar ponselnya, tanpa memperdulikan Fara yang sudah berekspresi aneh di depannya.


Tanpa bersuara, Fara pun langsung berbalik dan kembali melangkah ke arah kopernya. Sedangkan Riyan yang lagi asyik membalas pesan dari salah satu teman kuliahnya, sudah tidak menghiraukan Fara.


"Sebentar malam kamu mau kemana? Soalnya besok pagi kita sudah harus kembali ke Amerika. Minggu depan kita sudah aktif kuliah." Ujar Riyan sambil menatap Fara dari arah belakang. Namun Fara yang sedang menghadap kopernya, sama sekali tidak bersuara.


"Fara.. Kamu dengar ngga apa yang aku katakan?" Tanya Riyan dengan tatapan serius ke arah Fara. Tapi Fara tetap tidak bersuara.


"Kamu kenapa..? Kamu nangis..?" Tanya Riyan di saat menyadari kalau Fara sedang menangis di depan kopernya. Tapi tetap tidak di jawab oleh Fara.


"Fara.. Aku tu ngga marah. Aku hanya ingin menasehati mu, biar kamu tu bisa rapi dan tidak ceroboh lagi." Ujar Riyan tanpa ada lembut-lembutnya.


"Terus mau kamu apa..? Apa aku harus membuangnya di jalanan..? Atau aku harus meninggalkannya di toilet bandara..?" Tanya Fara dengan nada suara yang sangat bergetar.


"Bukan seperti itu. Tapi setidaknya, kamu tu menyimpannya tidak bersamaan dengan pakaian bersih. Jadi wanita itu harusnya lebih rapi, lebih teliti, dan lebih bersih." Jawab Riyan.


"Aku tahu aku ini ngga rapi, ceroboh juga bau.. Hiks,,,hiks,,,hiks." Ketus Fara yang di iringi suara tangisan.


"Fara.. Ko kamu kaya anak kecil bangat sih? Di bilangin suami malah nangis." Ujar Riyan dengan tampang datarnya.


"Ayo cepat pakai pakaianmu! Aku tu mau menghadiri rapat pagi ini." Seru Riyan dengan nada yang tetap sama.


Riyan memang termasuk laki-laki beku dan jauh dari kata romantis. Dia tidak pernah bersikap lembut walaupun dia tidak bermaksud untuk bersikap kasar. Tapi sikapnya itulah, yang membuat Fara wanita manjanya itu selalu berpikir salah. Apalagi tadi Riyan sempat berkata-kata, yang begitu menyinggung perasaan Fara sebagai seorang wanita. Fara sangat berkecil hati mendengar kata bau yang di lontarkan suaminya.

__ADS_1


Fara yang tadinya begitu bersemangat untuk menemani suaminya, menghadiri rapat terakhir sebelum kembali ke Amerika, jadi patah semangat karena merasa tersinggung dengan apa yang tadi di katakan oleh Riyan. Setiap wanita pasti akan merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan Fara saat itu. Tanpa sadar, Riyan yang begitu tidak peka akan perasaan wanita, sudah menyakiti hati wanita cantiknya itu dengan kata-kata yang semustinya tidak dia katakan.


__ADS_2