Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Ekstra part (2).


__ADS_3

Siang itu Riyan yang sudah siap untuk mengadakan rapat bersama beberapa klien bisnisnya, terlihat panik saat di bisikan sesuatu oleh asistennya. Beberapa orang penting yang sudah ada di kursi mereka masing-masing, Saling menatap satu sama lain dengan tampang kebingungan.


"Ada apa Pak Riyan?" Tanya salah seorang klien bisnis Riyan dari salah satu hotel berbintang, yang bernama Amora.


"Sebelumnya saya mohon maaf Bu. Rapat ini mungkin di tunda selama dua menit lagi." Jawab Riyan menggunakan bahasa Inggris.


"Memangnya ada masalah apa Pak?" Tanya yang lainnya.


"Sekretaris ku lagi dalam perjalanan. Rapat tidak bisa di mulai tanpa kehadirannya. Soalnya berkas untuk pembahasan rapat hari ini ada padanya. Dan dia yang bertanggung jawab atas rapat hari ini." Jelas Riyan.


"Tidak apa-apa kalau memang seperti itu Pak Riyan. Kita akan menunggu." Ujar Amora yang sejak tadi memperhatikan Riyan.


Tanpa Riyan sadari, Amora yang duduk bersebelahan dengannya itu sudah mulai melepaskan kancing bajunya di bagian paling atas. Dia sengaja ingin membuat Riyan melihat bagian dadanya yang menonjol ke depan.


"Pak Riyan,, apa anda sudah menikah?" Bisik Amora tepat di samping Riyan.


"Sudah Bu. Saya sudah menikah dan Istri saya sekarang lagi mengandung." Jawab Riyan tanpa menatap wanita tidak tahu malu itu.


"Saya juga sudah menikah dan memiliki satu orang anak. Tapi saya tidak bahagia dengan Suami saya. Dia tidak bisa memuaskan saya." Riyan pun seketika kaget mendengar ucapan Amora barusan.


"Ibu jangan seperti itu. Apapun yang terjadi di dalam rumah tangga kita, tidak bisa kita ceritakan kepada orang lain. Apalagi hal seperti itu." Riyan berujar sambil mengotak-atik ponselnya, menanyakan keberadaan sekretarisnya melewati pesan WhatsApp.

__ADS_1


{Kamu di mana? Ini sudah mau dua menit.}


{Maaf Pak. Saya lagi ada masalah di tengah jalan. Mobil saya menabrak mobil orang.}


{Ya sudah kalau begitu. Kamu atasi dulu masalah kamu}


Riyan yang sudah sangat pusing dengan kejadian hari itu, sama sekali tidak memperdulikan Amora yang sudah seperti cacing kepanasan di sampingnya. Dia malah merasa kesal melihat Amora yang tidak tahu menjaga sikap sebagai istri orang.


'Benar apa yang di katakan Aleta. Ada banyak wanita yang tidak tahu malu.' Batin Riyan sambil beranjak dari tempat duduknya hendak keluar.


Tujuan Riyan ingin menemui asistennya, karena tidak tahu harus berbuat apa tanpa kehadiran sekretarisnya. Riyan yang sudah terlanjur menyerahkan semuanya kepada sekretarisnya sama sekali tidak ada persiapan. Tapi belum sempat kakinya melangkah, tiba-tiba pintu di buka seseorang dari luar.


"Fara.. Kamu ngapain di sini? Tunggu saja di ruang kerjaku." Riyan benar-benar kaget dengan kedatangan Fara.


"Iya,, dia lagi terkena musibah di jalan." Jawab Riyan.


"Makannya itu aku langsung ke ruang rapat. Hari ini aku yang akan menggantikan sekretaris kamu." Ujar Fara dengan begitu percaya diri.


"Ini siapa Pak Riyan?" Tanya Amora tanpa sadar dengan keadaannya.


"Saya Fara Permana Istri Pak Riyan. Apa rapatnya bisa segera di mulai?" Ujar Fara dengan begitu santai.

__ADS_1


"Bisa kok Bu." Jawab Amora dan yang lainnya secara bersamaan.


"Tapi sebelum di mulai, ada baiknya kalau Ibu yang cantik ini memperbaiki kancing bajunya dulu. Mungkin terlepas tanpa sadar." Fara berujar dengan senyum yang terlihat aneh.


Fara yang sudah tahu watak wanita-wanita di Amerika, tidak segan-segan untuk berkomentar kalau ada sesuatu yang salah di mata dia. Dan apa yang baru saja di lakukan oleh Fara, seketika membuat Amora malu karena di tatap oleh semua orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut.


Dengan penampilan yang begitu cantik, Fara menjalankan tugasnya menggantikan sekretaris Riyan tanpa ada kendala. Dia terlihat sangat menguasai isi rapat hari itu. Melihat kemampuan istri cantiknya, Riyan hanya bisa terdiam sambil tersenyum lebar. Dia sangat bangga juga bersyukur, karena Fara bisa datang menolongnya di waktu yang sangat tepat.


Hanya memakan waktu setengah jam, rapat pun berakhir dengan tepukan tangan dari para klien bisnis Riyan, yang sangat mengagumi sosok cantik di hadapan mereka. Hanya Amora saja yang tidak bereaksi. Mungkin karena dia sudah terlanjur malu dengan sikap Fara.


"Luar biasa. Pantas saja Pak Riyan bisa sesukses ini di usia yang masih sangat muda. Ternyata langkahnya di iringi seorang wanita luar biasa." Ujar salah seorang klien bisnis Riyan memuji Fara.


"Terima kasih Pak. Memang saya tidak pernah membiarkan Suamiku melangkah sendirian." Jawab Fara sambil memeluk sebelah lengan Riyan.


"Wajar Bu. Priya sesukses Pak Riyan harus di jaga baik-baik. Begitupun dengan wanita secantik Ibu. Dia luar banyak bahaya untuk orang-orang yang sempurna seperti kalian." Sambung yang lainnya.


"Kurang lebihnya seperti itu Pak." Tutur Fara dengan senyum yang terlihat mengejek.


Pembicaraan Fara dan beberapa klien bisnis Riyan, membuat Amora semakin malu dan tidak bisa berkutik. Semua itu memang rencana Fara yang ingin mempermalukan Amora, saat melihat gelagat mencurigakan dari wanita tidak tahu malu itu.


'Malu kan kamu? Makanya,, jangan main-main dengan Fara Permana.' Batin Fara sambil menatap sinis ke arah Amora.

__ADS_1


Riyan yang sudah sangat hafal watak Istrinya, hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata-kata. Dia yakin Fara sudah bisa membaca situasi yang ada. Karena menurut dia, insting istrinya itu lebih tajam dari tim penyidik saat melihat wanita-wanita seperti Amora.


__ADS_2