
Fara terlihat begitu sabar menemani Riyan bekerja. Dia sama sekali tidak beranjak dari samping Riyan, yang sedang fokus menyelesaikan pekerjaannya. Tapi tiba-tiba kepalanya tersandar di pundak Riyan tanpa ada suara. Merasa ada yang aneh, Riyan pun langsung melirik ke arah Fara. Dan tiba-tiba dia langsung tersenyum. Di saat melihat Fara yang sudah tertidur pulas seperti anak kecil.
"Fara,, Fara,," Suara Riyan berusaha membangunkan Fara, yang sudah terlelap dengan kepala tersandar di pundaknya.
"Fara,, Fara,," Panggil Riyan lagi, karena Fara sama sekali tidak bersuara.
"Dasar tukang molor.." Ujar Riyan dan langsung berdiri. Kemudian dia segera menggendong Fara dan melangkah menuju sebuah sofa yang ada di dalam ruang kerjanya itu.
Riyan yang sudah sangat mencintai dan menyayangi istri cantiknya itu, sangat tidak tega melihatnya tidur di sofa. Namun dia juga tidak bisa meninggalkan berkas-berkas penting yang harus dia tandatangani hari itu juga. Tanpa menunggu lama, Riyan langsung bergegas mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.
Fara yang sudah terbiasa tidur di ranjang empuk berukuran besar, tidak pernah bisa tidur tanpa bolak-balikan tubuhnya. Tidak lama Riyan membaringkannya di atas tempat tidur, Fara mulai bergerak ke sana kemari mencari posisi nyaman. Dan tiba-tiba dia langsung terjatuh ke atas lantai, sehingga membuat Riyan terkejut dan langsung buru-buru melangkah menghampirinya.
"Aduuuh..." Fara menjerit menahan sakit dengan posisi terlentang di atas lantai.
"Kamu kenapa sih..?" Tanya Riyan sedikit keras, karena merasa kesal dengan Fara yang tidak pernah bisa diam di atas tempat tidur.
"Aduuuuh... Sakit banget kepala aku Mas,, Mengapa aku bisa ada di sini Mas..?" Tanya Fara sambil meraba-raba bagian belakang kepalanya yang terbentur lantai.
__ADS_1
"Tadi kamu tu tertidur di samping aku. Jadi aku yang membawamu ke sini. Kalau ngga, bagaimana aku bisa kerja?" Jawab Riyan.
"Makanya,, kamu tu kalau tidur jangan terlalu banyak bergerak. Jadinya kayak gini kan..?" Tambah Riyan sambil membantu Fara bangun dari atas lantai.
"Aku kan ngga tahu Mas. Namanya juga orang tidur. Mana tahu kalau akan jatuh seperti ini..?" Ujar Fara yang sudah terduduk di atas sofa, menghadap Riyan yang sedang berdiri di depannya.
"Ayo kita pulang!" Ujar Riyan sambil meraih tangan Fara, yang sudah memasang wajah cemberutnya.
Dengan segera Fara pun langsung berdiri hendak melangkah bersama Riyan. Namun tiba-tiba langkahnya tertahan, di saat matanya tertuju pada noda darah yang ada di atas sofa. Tepat di bagian yang baru saja dia duduki. Merasa aneh karena Fara sama sekali tidak bergerak, Riyan akhirnya berbalik dan langsung kebingungan melihat ekspresi istrinya.
"Kamu kenapa..? Ayo kita pergi!" Ujar Riyan sambil menarik tangan Fara.
"Maksud kamu apa? Memangnya kamu kenapa?" Tanya Riyan dengan tatapan mencari tahu.
"Ni lihat!" Ujar Fara sambil membelakangi Riyan, untuk menunjukkan noda darah yang ada di bagian belakang.
"Hmmmm,, kamu datang bulan?" Tanya Riyan dengan tarikan nafas yang terdengar aneh.
__ADS_1
"Iya Mas. Aku juga ngga tahu." Jawab Fara.
Melihat keadaan Fara saat itu, Riyan jadi berpikir sembarangan. Dalam pikirannya, sekilas terlintas suatu hal yang membuatnya seketika bersikap datar. Riyan yang selama beberapa bulan belakangan selalu mengetahui setiap kali Fara datang bulan, merasa ada sesuatu yang Fara sembunyikan. Dengan tatapan penuh kecurigaan, Riyan pun mulai bertanya mengenai apa yang sedang dia pikirkan saat itu.
"Fara,, apa kamu mengkonsumsi obat tanpa aku tahu..?" Tanya Riyan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Maksud Mas apa..? Obat apa..?" Tanya Fara bingung.
"Setiap bulan aku perhatikan, kamu terus datang bulan. Jangan-jangan kamu mengkonsumsi pil KB." Jawab Riyan yang membuat mata Fara langsung terbelalak, saking kagetnya mendengar tuduhan suaminya.
"Apa-apaan sih kamu Mas..? Aku tu ngga pernah konsumsi obat. Apalagi obat yang seperti Mas bilang barusan." Jawab Fara sambil tersenyum menatap Riyan.
Fara memang sangat kaget dengan tuduhan Riyan barusan. Tapi di sisi lain, dia juga sangat bahagia karena Riyan ternyata sangat mengharapkan kehamilannya. Walaupun laki-laki dingin itu sama sekali tidak pernah mengungkapkannya dengan kata-kata.
"Astaga Mas.. Jadi kamu tu ingin banget aku hamil?" Tanya Fara dengan tatapan centilnya.
"Ya iyalah... Mana ada suami yang tidak menginginkan kehamilan istrinya..?" Jawab Riyan tanpa menatap Fara.
__ADS_1
"Astaga Mas... Aku juga ingin secepatnya hamil sayang,, jadi aku ngga mungkin mengkonsumsi obat yang seperti kamu bilang tadi." Ujar Fara sambil melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Riyan.
"Jangan coba-coba kamu mengkonsumsi pil KB. Aku ngga mau kamu menunda kehamilan mu. Aku ingin kita segera punya anak." Ujar Riyan sambil melepaskan jaketnya dan melingkar nya di pinggang Fara.