
Sikap Riyan benar-benar membingungkan Fara. Wajahnya yang selalu datar seketika berubah ceria. Selain bingung, Fara yang berada tepat di samping Riyan mulai kesal karena Riyan belum juga mengatakan tujuan mereka datang menemui Dr Viko. Dengan kening yang berkerut, Fara mendekatkan wajahnya ke samping Riyan dan mulai berbisik.
"Mas,, sebenarnya ini ada apa sih? Ko kamu aneh? Kasih tahu dong sama aku. Kalau ngga aku pulang sekarang." Tanya Fara di iringi ancaman karena Riyan masih tetap membisu.
"Mas... Ya sudah aku pulang." Tambah Fara dan hendak berdiri dari tempat duduknya.
"Mau pulang sama siapa kamu? Sini aku kasih tahu!" Ujar Riyan sambil meraih tangan Fara.
"Ini sebenarnya ada apa?" Tanya Fara yang sangat tidak sabar ingin tahu apa yang sedang di sembunyikan oleh suaminya.
"Kamu mau punya anak kan?" Tanya Riyan yang membuat Fara langsung menatapnya tajam.
"Maksud kamu kita mau melakukan program bayi tabung?" Tanya Fara dengan segera.
"Buat apa bayi tabung? Memangnya kita ngga bisa buat anak dengan cara alami?" Tanya balik Riyan sambil memalingkan wajahnya.
"Terus maksud kamu apa dengan semua ini?" Tanya Fara sambil menarik pundak Riyan.
"Tanpa sepengetahuan kamu, aku sudah memberikan hasil tes kamu yang kemarin kepada Dr Viko. Dan hasil pemeriksaan Dr Viko, yang membuatku jadi seperti ini." Jelas Riyan yang membuat Fara kaget.
"Bagaimana hasilnya Mas? Apa aku bisa memiliki anak?" Tanya Fara.
"Saat ini, di dalam perut kamu sudah ada janin yang mulai berkembang." Jawab Riyan yang membuat Fara langsung memeluknya tanpa bisa berkata-kata.
Mendengar kabar bahagia itu, Fara hanya bisa terdiam dengan bercucuran air mata yang tak kuasa untuk dia tahan. Kebahagiaan Fara dan Riyan saat itu tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Riyan yang juga ikut terharu, segera mendekap tubuh Fara sambil berbisik.
"Aku sangat mencintaimu. Hanya kamu satu-satunya wanita yang akan mendampingi hidupku selamanya." Bisikan Riyan yang membuat air mata Fara semakin meluncur deras.
"Selamat ya Ibu Fara. Saya turut berbahagia dengan kabar baik ini." Ujar Dr Viko yang baru saja memasuki ruangannya dengan membawa amplop coklat berukuran besar.
__ADS_1
"Apakah Dr yakin dengan semua hasil pemeriksaan itu?" Tanya Fara sambil mengusap air matanya.
"Sudah tiga kali saya mengulangi tesnya. Dan hasilnya tetap sama. Di dalam rahim Ibu Fara sudah ada janin yang baru mulai berkembang. Jadi mulai sekarang, Ibu Fara harus menjaga diri. Jangan terlalu melakukan aktivitas yang dapat membahayakan kandungan Ibu Fara." Jelas Dr Viko yang membuat Fara kembali memeluk Riyan yang ada di sampingnya.
"Aku akan berusaha untuk menjaga kandunganku Dok. Karena inilah yang sudah kami berdua nantikan." Ujar Fara sambil menatap Dr Viko.
"Iya,, apalagi kandungan Ibu Fara begitu lemah. Jadi Ibu Fara tidak bisa beraktivitas yang terlalu berlebihan." Tambah Dr Viko memperingati Fara.
"Bagaimana Pak Riyan?" Tanya Dr Viko kepada Riyan yang hanya membisu dengan ekspresi wajah ceria bercampur haru.
"Aku tidak bisa berkata-kata banyak. Hanya terimakasih yang bisa aku ucapkan. Kalau bukan karena Dr, mungkin aku dan istriku tidak akan mengetahui kabar bahagia ini." Jawab Riyan dengan senyum bahagia menghiasi wajah tampannya.
"Aku hanya perantara untuk membawa kabar baik ini. Semua ini sudah di takdirkan Tuhan." Ujar Dr Viko.
"Ini hasilnya Ibu Fara. Saya hanya ingin mengingatkan sekali lagi untuk lebih berhati-hati." Ujar Dr Viko sambil memberikan amplop coklat yang ada di tangannya.
Harapan Fara untuk menjadi seorang istri yang sempurna untuk Riyan akhirnya terwujud dengan adanya janin yang dia sama sekali tidak menyadarinya. Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Fara tidak melepaskan pelukannya pada lengan Riyan dengan air mata yang masih saja meluncur membasahi wajah.
"Mas,, aku sangat bahagia dengan karunia ini. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada keluarga besar kita. Mereka pasti bahagia mendengarnya." Ujar Fara sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Riyan yang sedang mengemudi.
"Iya sayang. Tapi kalau menurut aku, biar ini menjadi rahasia kita dulu untuk sementara." Jawab Riyan dengan tatapan lurus ke depan.
"Memangnya kenapa Mas?" Tanya Fara sambil mengangkat muka menatap Riyan bingung.
"Itu demi kebaikan kamu juga anak kita. Ikutilah apa aku bilang." Jawab Riyan dan Fara langsung mengiyakannya.
"Iya Mas. Aku akan mengikuti apa yang kamu mau"
Sampainya di apartemen, Riyan langsung meminta Fara untuk ke kamar dan tidak boleh melakukan apapun. Melihat sikap Riyan yang sedikit berlebihan, para Bibi yang melihatnya jadi menatap satu sama lain dengan tampang kebingungan. Karena tidak biasanya Riyan bersikap seperti itu.
__ADS_1
"Bi,, jangan biarkan Fara melakukan apapun! Dia tidak boleh kelelahan." Ujar Riyan.
"Iya Den." Jawab salah seorang Bibi sambil melirik Bibi yang satunya.
Fara yang sudah biasa keluar dan beraktifitas setiap harinya, seketika merasa bosan dengan hanya terkurung di dalam kamar. Akhirnya untuk mengurangi rasa bosannya, Fara pun memilih untuk menghubungi Alfa untuk menayangkan kabar keluarganya.
("Halo Mas.. Mas lagi apa?" Tanya Fara setelah telponnya tersambung.)
("Mas lagi di rumah teman. Kamu ko tumben telpon Mas?" Tanya Alfa.)
("Aku kangen sama Mas. Bagaimana kabar Mba Shelina dan semua yang ada di situ?" Tanya Fara.)
("Baik kabar kita semua. Kalau kabar kamu dan Riyan gimana?" Tanya Alfa.)
("Kita baik juga Mas. Dan kita lagi bahagia banget. Soalnya aku sekarang lagi.." Fara yang hampir saja keceplosan tiba-tiba terdiam yang membuat Alfa jadi penasaran.)
("Kamu lagi apa?" Tanya Alfa.)
("Ngga apa-apa ko Mas. Aku mendapatkan nilai yang bagus di Kampus. Jadi aku bahagia banget." Jawab Fara berbohong.)
("Mas,, kapan Mas punya anak? Apa Mas ngga malu kalau nanti aku yang punya anak duluan?" Tanya Fara yang membuat Alfa jadi salah tingkah.)
("Apa-apaan sih kamu? Biarin saja kalau kamu punya anak duluan. Mas belum kepikiran untuk punya anak." Jawab Alfa.)
("Ya sudah kalau gitu. Mas mau pulang dulu. Nanti kita telponan lagi." Alfa yang sudah mulai terganggu dengan pembicaraan adik kesayangannya segera memilih untuk menyudahi pembicaraan mereka.)
"Mas Alfa,,, Mas Alfa,,, kapan sih dia bisa berubah? Kasihan banget Mba Shelina mendapatkan suami kaku seperti itu." Fara berkata-kata sendirian setelah telponnya terputus.
Sedangkan di kantor, Riyan begitu bersemangat mengerjakan semua pekerjaannya. Kehamilan Fara benar-benar membuat Riyan jadi semakin bersemangat untuk bekerja. Dia ingin sekali membahagiakan Fara juga calon bayinya dengan semua hasil kerja kerasnya.
__ADS_1