
Hati Fara saat itu hancur bagaikan kaca yang terhempas di atas batu, mendengar kenyataan pahit tentang masa lalu laki-laki yang telah menjadi suaminya. Ingin sekali dia menutup mata juga telinga agar tidak menyaksikan, juga tidak mendengar kisah yang ada sebelum dia berada. Namun hati yang sudah terlanjur terluka, sama sekali tidak bisa dia pungkiri. Dan dia tetap berusaha untuk menyembunyikan luka hatinya, dengan senyum yang di terukir di wajahnya.
Di dalam ruang kelasnya, Fara tetap berusaha ceria, di saat hatinya sedang merintih menahan luka yang sedang dia rasakan. Sakit di kakinya sama sekali tidak sebanding dengan sakit yang ada di dalam hatinya. Dia sangat tidak menyangka, Riyan bisa membohongi dirinya dengan semua kata-kata palsunya. Tapi semua telah terjadi, mau dan tidak mau Fara sudah mengetahui kisah kasih dalam masa lalu laki-laki yang sangat dia cintai itu.
"Ra,, kamu masih kesal sama kakak senior baru itu?" Tanya Klara setelah Dosen yang memberikan mata kuliah keluar dari ruangan mereka.
"Buat apa aku harus memikirkan dia..? Memangnya dia siapa..?" Tanya Fara berusaha tegar di balik keterpurukannya.
"Begitu dong.. Dia itu ngga ada apa-apanya di bandingkan sama kamu. Dia dan kamu bagaikan langit dan bumi yang sangat jauh terpisah." Sambung Anita sambil tersenyum menatap Fara.
"Aku dan dia memang jauh berbeda. Tapi dia lebih dekat dengan laki-laki yang aku cintai. Masa depanku telah hancur dengan kisah kasih mereka di masa lalu." Ujar Fara di dalam hatinya sambil mengembangkan senyum yang terlihat sangat di paksakan.
Kehancuran yang seketika mematahkan harapan Fara untuk masa depannya bersama Riyan, telah merubahnya dalam waktu sekejap. Sakit hati yang dia rasakan saat itu, benar-benar mempengaruhi dirinya. Namun dia tidak ingin semua itu di ketahui orang-orang yang belum tahu tentang hubungan antara dia dan Riyan.
"Ra,, kamu mau langsung pulang?" Tanya Klara.
"Aku mungkin mau jalan-jalan dulu. Bosan aku setiap hari di rumah." Jawab Fara.
"Ya sudah,, kalau gitu gimana kalau kita jalan-jalan bersama?" Sambung Anita bersemangat.
"Tapi kita mau jalan-jalan ke mana?" Tanya Anita.
"Gimana kalau kita nonton di bioskop saja." Sambung Prisil.
"Iya benar-benar. Ayo kita pergi sekarang!" Seru Klara bersemangat.
Tanpa menunggu lama, keempat wanita itu langsung melangkah pergi meninggalkan Kampus. Mereka akan pergi menggunakan mobil Klara, yang sedang terparkir di parkiran Kampus. Melihat Fara hendak memasuki mobil bersama beberapa temannya, Riyan yang juga sedang melangkah menuju parkiran, hanya terdiam sambil bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Mau kemana mereka? Apa Fara di antar pulang sama mereka?"
__ADS_1
Riyan bertanya-tanya di dalam hatinya tanpa melepaskan pandangannya dari arah Fara dan teman-temannya. Menyadari tatapan Riyan, Rena yang juga ada sama mereka segera bersuara memanggil Riyan, dengan sedikit keras biar di dengar oleh Fara yang hendak memasuki mobil Klara.
"Yan... Kita mau kemana..?" Tanya Rena sambil meraih pundak Riyan dengan gaya yang di buat begitu manja.
Mendengar suara Rena yang menyebutkan nama Riyan, membuat Fara dan beberapa temannya segera berbalik menatap ke arah mereka. Tapi setelah melihat kedekatan antara Riyan dan wanita iblis itu, Fara langsung memalingkan mukanya kemudian masuk tanpa ada reaksi apa-apa. Melihat sikap Fara yang begitu cuek, membuat Riyan seketika jadi merasa bersalah atas sikapnya tadi.
"Ra,, lihat tu wanita itu! Dia semakin dekat sama kak Riyan. Mereka memang masih saling mencintai menurut aku. Karena kalau tidak, mereka tidak mungkin bisa sedekat itu" Ujar Prisil setelah berada di dalam mobil.
"Biarin saja.. Memangnya ada urusan apa sama aku?" Jawab Fara dengan sangat cuek.
"Iya benar,, buat apa perdulikan mereka? Ngga ada untungnya buat kita." Sambung Anita.
Di dalam perjalanan menuju salah satu Mall besar yang terletak di pusat kota, Fara memilih untuk menelpon Mamanya di Indonesia untuk menanyakan acara pernikahan Abangnya.
("Halo Ma.." Fara bersuara setelah telponnya tersambung.)
("Iya sayang. Kamu lagi ngapain?" Tanya Aleta dari balik telpon.)
("Kamu jadi pulang lusa kan? Soalnya mingggu depan kita sudah ke Bandung sayang." Tanya Aleta yang membuat Fara langsung terdiam sejenak.)
("Fara,, kamu ko diam?" Tanya Aleta karena tidak mendengar suara putrinya.)
("Aku akan berangkat dengan pesawat besok pagi Ma." Jawab Fara yang membuat ketiga temannya, saling menatap satu sama lain dengan ekspresi kaget juga bingung.)
("Sudah dulu ya Ma. Besok aku akan berangkat dengan pesawat pagi." Ujar Fara)
("Iya sayang,, hati-hati ya! Mama rindu sama putri kecil Mama." Jawab Aleta dan langsung memutuskan sambungan teleponnya)
"Ra,, apa benar besok kamu akan pulang ke Indonesia?" Tanya Prisil dengan tatapan mencari tahu ke arah Fara.
__ADS_1
"Iya, besok aku harus balik ke Indonesia. Soalnya minggu depan Abang aku mau nikah. Setelah itu baru aku kembali lagi." Jawab Fara.
"Loh kok kamu ngga bilang-bilang sih Ra? Kita sedih deh." Ujar Prisil.
"Ra,, apa kamu sudah izin?" Tanya Anita.
"Aku sudah Izin tadi." Jawab Fara.
"Ra,, tap kamu jangan lama-lama ya di Indonesia! Kita pasti kangen deh sama kamu." Sambung Klara dengan tatapan sedih.
"Iya,, aku ngga lama kok." Jawab Fara yang juga ikut sedih, karena akan berpisah dengan ketiga sahabatnya.
"Ra,, ngomong-ngomong Mama kamu itu cantik bangat ya? Orang Malaysia ternyata cantik-cantik." Tambah Anita memuji kecantikan Aleta Mamanya Fara. Karena dia memang sudah pernah melihat gambar Aleta di salah satu majalah waktu di Indonesia.
"O ya? Aku boleh lihat foto Mama kamu ngga Ra?" Sambung Klara segera.
"Bisa dong. Ni foto Mama sama Papa aku waktu aku belum lahir." Ujar Fara sambil memperlihatkan gambar Mama dan Papanya yang ada di ponselnya.
"Wow... Cantik dan ganteng banget orang tua kamu. Pantesan kamu cantik banget. Wajah kamu mirip sama Mama kamu." Ujar Prisil sambil menatap foto kedua orang tua Fara.
"Kalau ini Abang aku yang mau nikah." Ujar Fara lagi sambil memperlihatkan foto Alfa.
"Ya ampun... Ganteng banget Abang kamu." Ujar Prisil kaget.
"Kalau saja dia belum punya pasangan, aku ikhlas menjadi istrinya. Walaupun jadi istri tanpa cinta." Sambung Klara.
__ADS_1
"Khayalan tingkat dewa kamu." Ketus Anita sambil mendorong kepala Klara yang membuat Fara dan Prisil langsung tertawa.