
Dalam perjalanan pulang, Reza sama sekali tidak melepaskan tangan Melda yang berada di dalam genggamannya. Sambil menyetir, Reza terus mengecup punggung tangan Melda berulang-ulang, dengan senyum penuh kebahagiaan. Begitupun dengan Melda yang sedang menatap suaminya yang tampan itu. Pancaran senyuman dari wajah sepasang suami istri itu, menandakan kalau dunia mereka sedang di hiasi dengan indahnya anugerah terindah yang di berikan Tuhan.
Tapi setelah beberapa kali melirik istri cantiknya itu, perasaan Reza seketika di selimuti rasa khawati, yang membuat senyum di wajahnya tiba-tiba meredup. Melihat ekspresi suaminya yang mendadak berubah, Melda pun merasa bingung juga cemas dengan suaminya yang terlihat murung.
"Bang,, ada apa? Ko kamu tiba-tiba murung." Tanya Melda sambil menatap sendu wajah tampan suaminya.
"Abang ngga apa-apa ko sayang. Abang hanya kasihan sama kamu yang belum bisa juga untuk jalan." Jawab Reza sambil tersenyum memaksa kepada Melda.
"Aku ngga apa-apa ko Bang, mungkin sudah takdirku seperti ini. Dan aku sudah ikhlas ko, menerima keadaanku." Ujar Melda berbesar hati.
"Tapi sekarang kamu tu lagi mengandung sayang. Pasti kamu akan kesulitan membawa-bawa anak kita, di dalam perut kamu dengan keadaan seperti ini." Kata Reza.
"Bang,, Tuhan itu maha kuasa lo,, apapun kondisinya, Tuhan akan membantu kita di saat sedang mengandung apalagi melahirkan. Jadi Abang ngga perlu khawatir! Selama ada Abang di samping aku, aku yakin pasti bisa." Melda yang sudah semakin berpikir dewasa, mencoba untuk meyakinkan suaminya yang merasa khawatir akan dirinya.
__ADS_1
"Kamu janji ya sayang, ngga boleh berpikiran macam-macam! Apapun yang terjadi, kita harus menghadapinya bersama." Kata Reza sambil mengusap rambut Melda yang terurai.
"Iya,, aku janji Bang." Jawab Melda sambil memeluk Reza dari arah samping, dengan senyum mekar di wajah cantiknya.
Reza yang begitu mengasihi istrinya, sangat merasa kasihan dengan keadaannya yang tidak bisa berdiri apalagi melangkah. Pernah Reza mencoba membuat Melda menggunakan alat yang bisa membantunya berjalan. Tapi baru sekali mencoba, Melda sudah sangat kesakitan. Akhirnya Reza pun melarang Melda untuk menggunakannya.
Melda sendiri sudah ikhlas dengan keadaannya. Dia tidak pernah mengeluh selama Reza selalu ada di sampingnya. Reza adalah tumpuan hidup bagi Melda. Tidak ada yang Melda inginkan selain hidup bersama Reza untuk selamanya. Dan Reza juga yang sangat mencintai istrinya, selalu membuktikan janji yang telah dia ucapkan, kepada Melda juga keluarganya.
Selama mengarungi bahtera rumah tangga bersama Reza, Melda tidak pernah merasa minder dengan keadaannya. Itu semua karena Reza selalu menjaga perasaan Melda di saat mereka hanya berdua, ataupun di depan orang lain. Reza tidak ingin membuat Melda merasa beda dengan yang lainnya. Tapi suatu ketika di saat kandungannya sudah terlihat, ada satu kejadian yang membuat Melda menyadari betapa besar kekurangannya. Tapi walaupun begitu, Melda tetap tegar dalam menghadapinya.
Kedatangan Reza dan Melda sedikit terlambat dari tamu yang lainnya. Setelah keluar dari dalam mobil, Reza langsung melangkah memasuki hotel berbintang itu, sambil mendorong Melda di atas kursi rodanya. Senyum manis di wajah Melda menunjukkan, betapa dia sangat bahagia bisa menemani suaminya di acara itu. Sedangkan Reza hanya berekspresi datar seperti biasanya. Reza melangkah dengan tatapan lurus ke depan. Tapi tiba-tiba langkahnya pun tertahan di saat ada seseorang yang memanggilnya.
"Hay Za,,," Suara seorang laki-laki yang terdengar begitu jelas.
__ADS_1
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, langkah kaki Reza pun langsung tertahan dan segera berbalik ke arah suara yang memanggilnya. Ternyata yang memanggilnya itu Radit, salah seorang teman sekolahnya dulu, yang saat itu sedang berdiri dengan beberapa orang lainnya. Dan di antara beberapa orang itu, salah satunya wanita yang pernah ada di dalam kehidupan Reza.
"Hay Dit,," sapa Reza dengan sangat ramah.
Reza yang sudah tidak punya perasaan apa-apa terhadap mantannya itu, hanya bersikap biasa-biasa saja. Sedangkan Melda yang sama sekali tidak mengenali orang-orang di hadapan mereka, hanya terdiam dengan senyum yang begitu manis. Tapi tidak lama, senyuman di wajah Melda langsung meredup, di saat mendengar pertanyaan wanita yang ada di antara orang-orang di hadapan mereka itu.
"Siapa wanita lumpuh itu Za,,?" Tanya wanita itu dengan begitu sombongnya.
"Dia istriku." Jawab Reza singkat.
"Istri..? Sungguh malang nasibmu Za,, kamu mendapatkan wanita cacat. Aku pikir setelah pacarku ini meninggalkanmu, kamu bisa mencari yang lebih. Tapi ternyata kamu malah mendapatkan seorang wanita lumpuh seperti ini." Sambung seorang laki-laki, yang tidak lain adalah pacar dari mantan kekasih Reza itu.
Kesombongan laki-laki itu memang tidak pernah berubah sejak dulu. Sebenernya laki-laki itu juga sahabat Reza, tapi dia selalu bersikap tidak baik terhadap Reza sejak dulu. Selain merebut kekasih Reza, dia juga selalu menghina Reza setiap kali mereka bertemu. Dia bersikap sombong seperti itu, hanya karena kekayaan orang tuanya yang tidak seberapa, kalau di bandingkan dengan kekayaan keluarga Permana.
__ADS_1
"Iya,, kasihan juga nasib kamu Za. Di tinggal sama aku yang sempurna, malah mendapatkan yang lumpuh." Sambung mantan pacar Reza dengan tingkah laku yang sangat angkuh.
Kesombongan mantan kekasih Reza dengan pacarnya itu, membuat Reza seketika jadi emosi. Dan di saat Reza ingin bersuara, Melda langsung menahannya. Melda memilih untuk menahan Reza, bukan karena dia menerima hinaan dua orang di hadapannya itu. Tapi dia ingin memberitahukan kepada kedua orang sombong itu, siapa dia sebenarnya.