
Riyan seketika terdiam dengan tampang kebingungan mendengar penjelasan kedua sahabatnya. Arlan yang dia kenal begitu baik juga polos, bisa melakukan tindakan sekejam itu. Naluri Riyan sebagai salah seorang yang begitu dekat dengannya, sangat sulit menerima kenyataan kalau Arlan telah melakukan pembunuhan terhadap Rena dan Deni. Apalagi Deni bukan orang lain buat Arlan. Mereka memiliki ikatan persaudaraan. Namun di balik keraguannya, terselip rasa curiga dengan sesuatu yang menjadi beban pikirannya, di saat dia tersadar dari pingsan setelah kecelakaan. Sambil menatap kedua temannya secara bergantian, Riyan pun mulai bergumam di dalam hatinya.
"Aku sangat yakin, Arlan yang memasuki obat itu ke dalam minuman itu. Apa dia di tekan sama Deni dan Rena? Dan mungkin karena itu sehingga dia memilih untuk melenyapkan mereka. Tapi apa bisa dia melakukan itu?"
Keyakinan Riyan semakin kuat kalau Arlan telah memasukan obat perangsang di dalam jus buatannya malam itu. Tapi dia juga yakin, kalau semua yang Arlan lakukan ada unsur paksaan dari Deni juga Rena. Namun itu tidak membuatnya percaya kalau Arlan yang sudah menghabisi nyawa Rena dan Deni.
"Arlan melakukan semua itu pasti ada alasannya. Tapi aku kurang yakin, kalau dia yang telah melenyapkan Deni juga Rena." Riyan berkata-kata sambil menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Aku juga tidak yakin. Karena Arlan itu orang yang sangat tidak tega walau hanya dengan seekor hewan. Tidak mungkin dia bisa melakukan hal senekat itu." Sambung Erlando penuh kebimbangan.
"Aku juga berpikir seperti itu." Exel pun mengeluarkan pendapat yang sama.
"Watak seseorang tidak bisa di nilai dari sikap juga sifatnya. Siapapun bisa melakukan sesuatu di luar naluri kita, apabila itu adalah pilihan satu-satunya." Sambung Faris dengan begitu santainya.
Mendengar ucapan Faris, Aleta bersama Alfa langsung melirik satu sama lain dengan ekspresi yang terlihat penuh kecurigaan. Namun apa yang ada di dalam pikiran mereka, berusaha untuk mereka tutupi. Namun ekspresi Aleta saat itu, seketika membuat Melda yang sedang memperhatikannya jadi merasa curiga. Tanpa menunggu lama, Melda yang semakin penasaran dengan ekspresi Aleta, langsung berdiri dan mengajak Aleta ke dapur untuk melihat menu makan siang.
"Al,, kita ke dapur yuk! Kita lihat apa saja yang sudah di siapkan untuk makan siang nanti." Seru Melda sambil meraih tangan Aleta.
"Aku ikut ya Ma!" Sambung Fara yang sedang duduk di samping Riyan.
"Ngga usah sayang! Kamu sama Riyan saja." Ujar Melda.
__ADS_1
"Mel,, ko kita ngga ke dapur?" Tanya Aleta bingung di saat Melda membawanya menuju teras samping.
"Al,, aku tu mau bicara hal penting sama kamu." Ujar Melda.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Melda, Aleta sudah mulai berpikir apa yang mau di bicarakan sama Melda. Tapi dia tidak ingin berkata apa-apa sebelum Melda bersuara.
"Al,, aku yakin kamu pasti mengetahui sesuatu. Sejak tadi aku melihat kamu hanya terdiam menanggapi kasus kematian kedua anak muda itu. Apa yang kamu tahu Al?" Tanya Melda yang membuat Aleta langsung menarik nafas panjang.
"Mel,, aku tu juga sama kaya kamu. Aku ngga tahu apa-apa. Tapi aku merasa sedikit curiga dengan Mas Faris. Tapi aku yakin, kalau memang Mas Faris yang melakukannya, dia pasti punya alasan yang kuat. Dia memang pembunuh berdarah dingin. Namun semua kejahatan yang dia lakukan, bukan tanpa sebab." Jelas Aleta.
"Aku tahu itu Al. Aku tahu sifat Mas Faris, tapi aku ingin tahu mengapa sampai dia melakukan semua itu? Padahal dia sudah berjanji untuk tidak mengotori tangannya dengan darah lagi." Jawab Melda.
"Apa yang ingin kalian tanyakan.?" Tiba-tiba terdengar suara Faris yang mengagetkan kedua wanita itu.
"Mas,, ko kamu ada di sini?" Tanya Aleta sambil menatap wajah tampan yang sudah berada di belakang mereka.
"Tadi aku ke dapur mau melihat makanan apa saja yang sudah kalian siapkan. Tapi kalian ngga ada. Jadi aku langsung mencari kalian." Jawab Faris dengan begitu tenangnya.
"Mel,, apa yang membuatmu gelisah seperti itu?" Tanya Faris sambil melangkah melewati tempat duduk Melda dan Aleta.
"Mas,, aku sama Aleta sangat mencurigai Mas atas kasus pembunuhan itu. Apa Mas terlibat dengan kematian dua anak muda itu?" Tanya Melda sambil menatap ke sana kemari.
__ADS_1
"Aku yang melakukannya. Aku yang telah menghabisi kedua anak muda itu." Jawab Faris dengan begitu santainya.
"Astaga Mas... Bukannya kamu sudah berjanji untuk tidak lagi mengotori tanganmu dengan darah? Mengapa kamu melakukannya lagi?" Tanya Aleta dengan mata terbelalak saking kagetnya, melihat sikap tenang suaminya setelah melakukan pembunuhan.
"Itu salah mereka. Waktu aku dari ruangan Dr semalam, aku melihat mereka berdua melangkah tepat di depanku. Dan aku juga mendengar obrolan mereka. Kalau ternyata mereka yang sudah mencelakai Riyan. Dan bukan Riyan saja yang ingin mereka celakai. Tapi Fara juga ingin mereka celakai." Jelas Faris.
"Terus mengapa sampai Mas memilih untuk melenyapkan mereka? Kan bisa di kasih peringatan." Tanya Aleta yang belum bisa menerima apa yang di lakukan oleh suaminya.
"Aku dan beberapa anak buahku menangkap mereka dan membawa mereka ke lorong menuju kamar mayat. Di sana sudah aku kasih peringatan buat mereka. Dan aku juga melepaskan mereka. Tapi setelah mereka pergi dari sana, mereka langsung merencanakan sesuatu yang lebih buruk lagi." Jawab Faris.
"Dari lorong itu, aku melangkah menuju ruang rawat Riyan. Tapi tiba-tiba aku melihat ada seorang pemuda yang berlari menuju ruang rawat Riyan. Dengan segera aku langsung menahannya dan menanyakan tujuannya. Ternyata dia ingin menyampaikan apa yang akan di lakukan oleh kedua anak muda itu." Jelas Faris.
"Apa yang dia beritahu Mas?" Tanya Melda.
"Dia memberitahukan ku, kalau kedua anak muda itu akan meledakan bom di dalam ruang rawat Riyan, biar Riyan dan semua keluarganya tewas. Dan dia juga memintaku untuk menggagalkan rencana mereka. Karena dia adalah salah satu sahabat baik Riyan, yang sekarang telah di tangkap dengan tuduhan pembunuhan kedua anak muda itu." Jawab Faris dengan begitu tenang.
"Jadi Mas menggagalkan rencana mereka dengan menghabisi nyawa mereka?" Tanya Aleta.
"Aku menembak mereka di saat mereka hendak membakar bom untuk mencelakai seisi RS itu. Dan sahabat Riyan itu, memintaku untuk pergi dari sana setelah mereka berdua sudah tewas. Aku malah tidak tahu kalau dia mengakui semua itu sebagai perbuatannya. Makanya aku ingin menemuinya sebelum kita kembali ke Indonesia." Ujar Faris dengan gambaran rasa bersalah di wajahnya.
"Mas,, untung saja kamu cepat bertindak. Kalau tidak kita semua mungkin sudah mati. Kamu telah menyelamatkan banyak nyawa." Sambung Melda. Sedangkan Aleta hanya terdiam mendengar semua penjelasan suaminya.
__ADS_1