
Anton mendekap erat tubuh Deni dan membawanya menuju jalan setapak di samping apartemen Riyan. Tapi tidak berapa lama, datang mobil polisi yang langsung berhenti di dekat mereka. Keadaan di sekeliling apartemen Riyan terlihat begitu sepi. Karena selain waktu masih terlalu pagi, apartemen Riyan tidak terletak di tempat umum, dan berjarak beberapa meter dari jalan raya. Jadi tidak ada orang yang lalu lalang di depan ataupun di sekeliling apartemennya.
"Jangan bergerak...!" Teriak salah seorang polisi yang buru-buru keluar dari dalam mobil, sambil menodongkan pistol ke arah Deni.
Menyadari kedatangan mobil polisi, Faris langsung menonaktifkan peledak yang ada di jaket Anton, dengan hanya menekan salah satu tombol pada benda yang dia keluarkan dari dalam saku jasnya. Riyan yang juga sempat mengkhawatirkan keadaan Anton, mengingat peledak yang sudah mereka pasang pada tubuhnya, seketika menarik nafas lega melihat apa yang baru saja di lakukan Faris.
Anton sama sekali tidak melepaskan Deni ataupun lengah, walaupun para polisi sudah berdiri tepat di depan mereka. Anton berniat melakukan semua itu, demi menebus kesalahan yang sudah dia lakukan terhadap temannya sendiri. Yang tidak lain adalah Riyan.
"Anton.. Kamu benar-benar brengsek. Kalau aku tahu akan jadi seperti ini, sudah aku habisi nyawa putramu lebih dulu." Ujar Deni dengan penuh kemarahan. Namun tidak di dengar yang lain selain Anton.
"Mana mungkin aku bisa percaya dengan seorang pengecut seperti kamu? Tidak mungkin kamu akan mempertemukan aku dengan putraku, walaupun aku melakukan semua yang kamu perintahkan." Bisik Anton tepat di samping telinga Deni.
Mendengar perkataan Anton, Deni semakin emosi dan mulai berpikir untuk bisa mencelakainya. Namun dia sama sekali tidak berdaya, dengan keberadaan beberapa anggota polisi di depan mereka.
"Lepaskan dia..! Biar kita saja yang menanganinya." Perintah komandan polisi terhadap Anton.
Saat Deni juga Anton sedang di tangani oleh beberapa anggota polisi, Riyan, Faris dan Reza dengan buru-buru langsung mengambil tindakan kepada Fara. Namun mereka sama sekali tidak menyadari, kalau ada kaki tangan Denis yang sudah menghilang dari tempat itu.
"Ayo Yan,,! Ayo cepat bawa Fara ke RS dengan beberapa anak buah Om!." Ujar Faris sambil mengusap-usap rambut Fara, yang sudah berada di dalam gendongan Riyan, dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Baik Om." Jawab Riyan dan segera melangkah menuju salah satu mobil yang sedang terparkir di dalam garasi.
Tanpa menunggu lama, Faris dan Reza segera melangkah menuju para polisi di luar pagar apartemen, untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan sampainya di luar, Faris dan Reza hanya bisa saling menatap satu sama lain, saat melihat kesungguhan Anton dalam membantu mereka membebaskan Fara.
Melihat sosok Deni yang berada tepat di depannya, Faris yang begitu marah hanya bisa mengepalkan tangan dengan tampang yang terlihat sangat menakutkan. Ingin sekali dia melenyapkan Deni dengan kedua tangannya yang sudah sangat lama tidak di basahi darah. Namun semua itu sama sekali tidak bisa dia lakukan. Karena semua kasus sudah dia serahkan kepada pihak yang berwajib.
__ADS_1
"Ayo jalan..!" Perintah komandan polisi sambil mendorong Deni dari arah belakang, setelah kedua tangannya di borgol.
Anton yang sudah merasa lega karena berhasil membantu sahabatnya, langsung tersenyum dan melangkah mendekati Faris dan Reza. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan dari arah samping. Dan lebih parahnya lagi, tembakan itu tepat mengenai kepala Anton. Dengan begitu kaget, mereka semua hanya bisa menatap Anton yang sudah tersungkur di tanah, dengan kepala berlumuran darah. Termasuk Riyan yang baru saja keluar dari apartemennya menggunakan mobil pribadinya. Menyadari apa yang terjadi di depannya, dengan tergesa-gesa Reza langsung berlutut dan meraih kepala Anton.
"Anton..." Teriak Riyan dari dalam mobil dengan begitu keras.
"Dia harus segera di larikan ke RS Ris." Ujar Reza sambil menahan kepala Anton yang ada di pangkuannya.
"Ayah... Om... Bagaimana keadaannya..?" Tanya Riyan yang tidak bisa keluar dari dalam mobil. Karena sedang menggendong istrinya.
"Kepalanya berdarah. Dia harus di larikan ke RS." Jawab Faris yang langsung membantu Reza mengangkat Anton.
Pagi itu semakin mencekam dalam ketegangan yang sedang menyelimuti benak Riyan. Di satu sisi, dia sangat mengkhawatirkan keadaan istri juga calon anaknya. Dan di sisi lain dia begitu kasihan melihat sahabatnya yang sempat dia anggap penjahat, sedang terkapar tidak sadarkan diri di atas tempat tidur RS.
"Siapa sebenarnya orang yang menembak Anton? Semua terjadi dengan begitu cepat." Tanya Riyan saat berada di depan ruang UGD bersama Reza dan Faris.
"Ayah,, apa yang terjadi? Apa Ayah kelelahan?" Tanya Riyan karena Reza hanya menunduk tanpa bersuara.
"Lebih baik kamu istirahat dulu Za!" Sambung Faris.
"Aku tidak kelelahan. Aku hanya merasa bersalah kepada Anton. Kalau bukan dia, mungkin aku yang sudah tertembak." Jawab Reza yang membuat mata Riyan seketika berkaca-kaca.
"Sudahlah Za. Ini semua terjadi dengan sendirinya. Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Fara, Anton, juga calon cucu kita." Ujar Faris mencoba menenangkan Reza.
Mendengar apa yang di katakan oleh Ayahnya, Riyan yang sempat tidak percaya kepada Anton semakin merasa bersalah. Dia yakin kalau Anton melakukan semua itu hanya untuk membuktikan, kalau dia tidak punya maksud jahat terhadap dirinya apalagi Fara. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Riyan menyandarkan kepalanya di pintu ruang UGD sambil berujar di dalam hatinya.
__ADS_1
"Anton,, kamulah sahabat terbaikku. Maafkan aku yang sempat meragukan mu. Cepatlah sembuh, biar kita bisa sama-sama mencari putramu."
Riyan benar-benar tidak dapat menahan kesedihannya di saat pikirannya tertuju kepada putranya Anton yang entah di mana. Dia juga merasa sangat berhutang nyawa terhadap Anton, yang sudah menyelamatkan Fara juga Ayahnya. Tidak ada yang bisa Riyan lakukan selain mendoakan sahabatnya yang lagi sekarat di dalam sana. Di saat Riyan sedang bersedih mengingat pengorbanan Anton, tiba-tiba keluar seorang Dr dari dalam ruang UGD.
"Pagi Pak.." Sapa Dr itu kepada Reza dan Faris yang sedang berdiri di belakang Riyan.
"Iya Pagi Dok. Bagaimana keadaan putra saya Dok?" Tanya Reza yang menyebut Anton dengan sebutan Putra.
"Dia sudah sadarkan diri. Tapi dia ingin bertemu dengan Pak Riyan." Jawab Dr itu dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Saya sendiri Dok." Jawab Riyan dengan segera.
"Pasien ingin segera bertemu dengan anda Pak. Silahkan pakai pakaian ini dan ikut dengan saya ke dalam!" Ujar Dr itu sambil memberikan baju khusus RS kepada Riyan.
Melihat Riyan yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya, Anton dengan perlahan berusaha meraih tangannya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya, yang sudah sangat pucat mungkin karena kehilangan banyak darah. Riyan yang tidak tega melihat kondisi sahabatnya itu, segera menggenggam tangan Anton sambil bertanya.
"Apa yang ingin kamu katakan? Kita bisa membicarakan semuanya kalau nanti kamu sudah keluar dari sini." Tanya Riyan dengan mata yang sudah sangat memerah.
"Yan,, aku,, ingin,, meminta,, sesuatu sama kamu. Kalau aku,, tidak di beri kesempatan,, untuk bertemu,, putraku,, tolong kamu,, menemukannya untukku. Dan tolong,, antar kan dia,, kepada kakak aku di Jerman. Hanya mereka berdua,, yang aku punya,, di dunia ini." Ujar Anton dengan suara terbata-bata.
"Apa yang kamu bicarakan? Kita berdua yang akan menemukan putramu." Jawab Riyan dengan bercucuran air mata.
"Tolong Yan! Aku mohon!" Pinta Anton dengan raut wajah yang terlihat semakin pucat.
"Iya. Aku janji akan menemukan putramu. Dan aku akan mengantarnya kepada kakak kamu di Jerman. Dan aku juga berjanji, untuk menjadikan putramu pelindung anakku nanti. Karena aku yakin, dia akan menjadi laki-laki pemberani seperti kamu." Jawaban Riyan yang membuat Anton semakin melebarkan senyum.
__ADS_1
Melihat senyum yang terpancar dari wajah Anton, Riyan pun turut bahagia karena merasa bisa menghiburnya dalam keadaan buruk seperti itu. Tapi Riyan sama sekali tidak menyangka, kalau itu senyum terakhir yang dia lihat dari wajah sahabatnya.