Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 65. Kekhawatiran Mama Alira.


__ADS_3

Pukul 3:30 dini hari, Alfa yang sedang terlelap tiba-tiba di kagetkan dengan nada dering ponselnya yang berada tepat di samping bantal. Sambil menggaruk-garuk kepalanya, dia pun langsung terduduk dengan tampang sedikit kesal, karena merasa masih sangat ngantuk. Setelah menyadari kalau itu panggilan masuk dari Papanya, Jantung Alfa seketika berdetak kencang karena takut terjadi apa-apa dengan keluarganya.


("Halo Alfa.") Suara Faris dari balik telpon.


("Iya Pa ada apa? Semua baik-baik saja kan Pa?") Tanya Alfa dengan nada yang terdengar khawatir.


("Ngga ada apa-apa. Papa cuman mau bilang sama kamu, kalau kita berdua harus berangkat besok pagi jam 7 menuju London.") Jawab Faris.


("Kenapa mendadak seperti itu Pa? Kan acaranya di mulai minggu depan.") Ujar Alfa kebingungan.


("Kesepakatan awal memang kaya gitu. Tapi mendadak di percepat.") Jawab Faris.


("Jadi kita ngga ada pilihan lain. Sebab kedatangan kita ke sana sangat di tunggu.") Tambah Faris.


("Ya sudah Pa. Kalau gitu aku langsung bersiap-siap untuk kembali sekarang juga.") Ujar Alfa.


("Kalian hati-hati di jalan ya!") Ujar Faris mengingatkan putranya.


("Iya Pa.") Jawab Alfa dan langsung memutuskan sabungan telponnya.


Faris dan putra satu-satunya itu memang ada jadwal keberangkatan ke London dalam rangka peresmian kerja sama dengan salah satu perusahaan besar di sana. Tapi keberangkatan mereka itu malah akan menjadi sebuah mala petaka untuk Alfa. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang merencanakan sesuatu sejak lama untuk menghancurkan nama baik keluarga mereka, sudah menunggu kedatangan mereka di sana.


Tanpa menunggu lama, Alfa segera bergegas untuk menghampiri Riyan di kamar, yang berjarak beberapa meter dari kamar tempatnya menginap. Sampainya di depan pintu, Alfa langsung mengetuk pintu sambil memanggi-manggil nama Riyan. Dan Riyan yang tidak bisa untuk tidur semalaman, segera membuka pintu setelah mendengar suara Alfa di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa Mas?" Tanya Riyan dengan wajah yang terlihat lesu, setelah pintu kamar di buka. Tapi Alfa malah tersenyum sambil bertanya balik.


"Ada apa sama kamu Yan?" Tanya Alfa sambil tersenyum yang membuat Riyan seketika jadi bingung.


"Ngga ada apa-apa." Jawab Riyan sambil menggeleng kepala dengan tatapan bingung ke arah kakak sepupunya itu.


"Ngga ada apa-apa tapi muka kamu ko seperti orang yang tidak tidur semalaman. Coba kamu ngaca sana! Lingkaran di mata kamu sudah seperti panda." Ujar Alfa yang membuat Riyan seketika jadi salah tingkah.


"Ngga usah terlalu memikirkan istrimu! Sebentar lagi kalian sudah bertemu. Ayo sana siap-siap! Kita akan kembali ke Jakarta sekarang juga, karena aku sama Papa mau berangkat ke London jam 7 pagi." Ujar Alfa.


"Memang tiket keberangkatan sudah ada ya Mas?" Tanya Riyan bingung.


"Semua sudah di urus sama orangnya Papa. Apa sih yang ngga bisa di lakukan sama Papa?" Ujar Alfa dan langsung melangkah pergi meninggalkan Riyan, yang masih merasa malu karena perkataan Alfa barusan.


Alfa dan juga Riyan bersiap-siap dengan begitu cepat. Hanya memakan waktu setengah jam, mereka sudah keluar dari penginapan tempat mereka menginap selama dua hari ini. Setelah masuk ke dalam mobil, Alfa langsung melajukan mobilnya menuju jalan raya. Karena penginapan itu berjarak beberapa meter dari jalan raya.


"Mas,, kenapa ngga ngebut saja biar cepat sampai?" Tanya Riyan.


"Kamu ngga nyadar kalau ada hujan di luar sana?" Tanya balik Alfa yang membuat Riyan lagi-lagi merasa sangat malu.


"Aku,,, aku,,," Suara Riyan yang terdengar gugup, dan Alfa segera memotongnya.


"Aku kenapa? Aku mau buru-buru sampai rumah karena rindu sama istriku yang sudah membuatku ngga bisa tidur?" Ujar Alfa mengejek Riyan yang membuat Riyan semakin bertambah malu.

__ADS_1


"Apa-apaan sih Mas? Aku tu masih ngantuk bangat, jadi ingin cepat sampai biar bisa tidur lagi." Ujar Riyan berbohong. Namun itu malah membuat Alfa jadi tersenyum sambil berkata.


"Kalau ngantuk, tidur di mobil juga bisa kan Yan? Ayo tidur saja! nanti Mas bangunin kalau sudah sampai." Ujar Alfa.


Mendengar apa yang di katakan oleh Alfa, Riyan pun langsung memilih untuk bersandar di sandaran kursi, dan memejamkan mata walaupun tidak merasa ngantuk. Dia benar-benar merasa tersudut dengan kata-kata kakak sepupu sekaligus kakak Iparnya itu. Bagi Riyan Alfa adalah laki-laki yang sangat cerdas dalam membaca ekspresi orang. Jadi dia memilih untuk memejamkan mata walau dia tidak bisa untuk tertidur.


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta terlihat begitu sepi. Tidak ada satu pengendara pun yang melintas di jalan. Tapi itu tidak membuat Alfa gentar dalam berkendara, walaupun Riyan di sampingnya sudah seperti patung. Walaupun memiliki watak yang keras seperti Papanya, namun Alfa adalah orang yang sangat lembut dalam bertutur kata. Tapi dia sangat tidak mudah dekat dengan orang luar selain orang-orang yang sudah dia kenal.


Sejak kecelakaan berujung maut yang di lakukan oleh orang-orang, yang tidak senang dengan kesuksesan keluarga mereka, Papa Fahri yang menjadi orang tua dalam keluarga Permana, langsung membatasi pergaulan seluruh anggota keluarganya di luar sana, dengan orang-orang yang belum mereka kenali. Papa Fahri mengambil keputusan itu karena dia tidak ingin hal buruk itu terjadi lagi dalam keluarganya.


Di saat Riyan sedang berpura-pura tidur di samping Alfa, Fara istrinya malah sedang terlelap dengan begitu nyenyak di dalam selimut yang menghangatkan tubuhnya. Rintik hujan deras di luar sana menambah suasana dingin menembus tulang. Dan suasana itu semakin membawa kenikmatan setiap manusia yang berada di dalam alam mimpinya. Termasuk Fara.


Setelah beberapa malam tidur bersama kedua orang tuanya, Fara merasa sangat tidak nyenyak karena di himpit kedua orang tuanya di atas tempat tidur. Akhirnya semalam dia memilih untuk tidur di kamarnya, yang di jadikan kamar pengantinnya dengan Riyan. Fara sama sekali tidak mengetahui kedatangan suaminya pagi itu. Karena semalam dia tertidur lebih awal mungkin karena kecapean, mengelilingi kota seharian bersama keluarganya.


Hujan yang turun semakin deras, menimbulkan kekhawatiran di dalam hati Papa Fahri dan Mama Alira, memikirkan kedua cucu mereka yang sedang dalam perjalanan pulang. Mereka tidak bisa untuk tertidur sejak putra mereka Faris, menelpon untuk memberitahukan kalau Alfa dan Riyan sudah ada di dalam perjalanan. Karena tidak tenang hanya menunggu kabar di rumahnya, Mama Alira pun segera meminta Papa Fahri untuk menemaninya pergi ke rumah putranya.


"Pa,, ayo kita ke rumah Faris melihat Alfa dan Riyan sudah ada atau belum." Ujar Mama Alira dan langsung di respon baik oleh suaminya.


"Ayo Ma! Papa yakin Faris dan Melda pasti tidak menghawatirkan anak-anak mereka. Mereka pasti sedang tertidur saat ini." Ujar Papa Fahri, dan mereka berdua langsung bergeser pergi menggunakan payung.


Kedua orang tua itu pergi di kawal oleh beberapa orang anak buah Papa Fahri, yang selalu siap dua puluh empat jam untuk menjaga keselamatan majikan mereka itu. Hanya beberapa langkah Papa Fahri dan Mama Alira sudah berada di depan pintu rumah Faris. Karena memang rumah mereka bersebelahan. Dengan buru-buru Mama Alira yang selalu heboh langsung mengetuk pintu berulang-ulang, sambil memanggil-manggil nama anak-anaknya yang berada di dalam.


Tok...tok...tok...tok..

__ADS_1


"Aleta... Faris... Buka pintu..!" Teriak Mama Alira sambil terus mengetuk pintu.


Mendengar suara teriakan Mama Alira dari depan pintu rumah, Faris, Aleta, Melda, dan juga Reza yang sedang menunggu kedatangan anak-anak mereka di ruang keluarga, langsung kaget dan bergegas melangkah menuju pintu.


__ADS_2