Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 192. Mulai Menjauh.


__ADS_3

Fero yang belum lama mengenali sosok cantik di sampingnya, selalu merasa nyaman bila berada dekat dengannya. Namun setelah mengetahui Fara yang sudah bersuami, Fero mulai menjauh namun tidak menghindari Fara. Rasa tertarik sebagai seorang laki-laki dewasa kepada lawan jenisnya, dengan perlahan Fero lupakan karena tidak ingin merusak rumah tangga orang.


Laki-laki manapun akan merasakan hal yang sama dengan Fero bila melihat wanita sesempurna Fara. Namun Riyan suaminya Fara bukanlah saingan yang tepat untuk laki-laki sekelas Fero, yang masih menjadi pelajar tanpa ada pekerjaan tepat. Berbeda dengan Riyan suaminya Fara, yang sudah menjadi pengusaha sukses walaupun dia masih berstatus Mahasiswa di Kampus yang sama dengan Fero juga Fara.


"Ra,, aku ke toilet bentar ya.." Ujar Fero yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Iya. Aku juga mau ke ruangan lihat yang lain." Jawab Fara dan bergegas meraih tas juga jaket yang dia letakan, di sandaran kursi taman tempat duduknya.


Di kantor Riyan begitu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Selesai menandatangani beberapa berkas yang ada di atas meja, Riyan pun segera melangkah menuju ruang pertemuan karena sudah di tunggu beberapa tamu penting. Riyan yang semakin maju dalam dunia bisnis, mendapatkan banyak tawaran kerja sama dari beberapa perusahaan asing dari beberapa negara. Dan hal itu membuat dia sampai tidak ada waktu untuk ke Kampus.


Untung saja Riyan punya uang dan dia bisa membayar mata kuliah, jadi dia sama sekali tidak merasa khawatir dengan semua urusan Kampusnya. Di ruang rapat Riyan sempat terganggu dengan kehadiran seorang tamu yang bersikap aneh. Tapi dia tetap pada prinsipnya untuk selalu fokus dalam semua urusan pekerjaan.


Rapat yang tadinya di jadwalkan hanya satu jam saja, malah memakan waktu sampai beberapa jam. Dan semua itu ulah dari laki-laki yang sejak tadi membuat Riyan sangat terganggu dengan sikap juga pertanyaannya yang tidak ada akhirnya.


"Pak Riyan,, apa anda sudah menikah? Walaupun baru pertama saya melihat anda, namun saya sudah sangat tertarik untuk mengenal anda lebih dekat lagi." Tanya laki-laki yang bernama Raul Roberto.


"Apa pertanyaannya itu harus saya jawab di dalam pertemuan ini?" Tanya Riyan dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Semua klien bisnis Riyan yang juga ada bersama mereka di dalam ruang rapat langsung tertawa lepas karena mendengar pertanyaan Riyan. Namun mereka juga merasa penasaran dan ingin tahu tentang Riyan yang sudah meraih kesuksesan di usia yang masih sangat muda.


"Saya yakin, yang lainnya juga pasti ingin mengetahui tentang Pak Riyan. Karena kebanyakan dari anak muda yang meraih kesuksesan seperti Bapak, pasti punya banyak wanita-wanita cantik." Ujar Pak Raul yamg juga ikut tersenyum melihat tingkah beberapa rekan bisnisnya.


"Iya Pak,, benar apa kata Pak Raul. Meraih kesuksesan di usia muda, akan menjadi incaran para wanita-wanita cantik dan seksi. Dam saya rasa itu juga yang di alami sama Pak Riyan." Sambung rekan bisnis Riyan yang lainnya.


"Saya juga pernah mengalami situasi seperti itu. Di saat aku punya usaha hasil pemberian orang tuaku di usia yang masih sangat muda, aku di kelilingi banyak wanita cantik. Apalagi Pak Riyan yang punya usaha dari hasil jeripaya sendiri." Sambung salah satu dari mereka.


"Aku memang memiliki wanita cantik. Tapi dia bukan wanita yang seperti kalian pikirkan. Dia bukan wanita persinggahan sesaat. Tapi dia istriku, putri dari Om aku sendiri yang tidak lain adalah Faris Permana." Jawab Riyan dengan sangat jelas.


"Apa... Faris Permana? Dia memang orang yang sangat cerdas. Dia tidak akan menikahkan putrinya dengan laki-laki yang belum dia kenal baik bibit bebet bobotnya. Dia lebih memilih orang yang dia kenal dengan baik. Menurutku itu keputusan orang yang cerdas." Ujar Pak Remon salah seorang klien bisnis Riyan yang sejak tadi hanya duduk diam di tempat duduknya.


"Pak Riyan... Tunggu..." Teriak Pak Raul yang seketika menghentikan langkah kaki Riyan.


"Ada apa Pak Raul?" Tanya Riyan yang sudah merasa bosan menanggapi Pak Raul yang tidak berhenti untuk menanyakan semua tentang dirinya.


"Pak Riyan,, sebenarnya putri saya tu sedang sakit parah. Dia ingin melihat sosok Pak Riyan. Saya ingin minta tolong. Kalau Pak Riyan punya waktu, apa Bapak bisa menjenguk putri saya?" Ujar Pak Raul yang membuat Riyan tidak bisa untuk menolaknya.

__ADS_1


"Bisa Pak. Lagian saya juga sudah tidak punya pekerjaan di kantor." Jawab Riyan.


"Ya sudah,, ayo kita pergi sekarang ke tempat putri Bapak di rawat." Ajakan Riyan yang membuat Pak Raul langsung tersenyum bahagia.


Sampainya di parkiran, Riyan langsung memasuki mobil dan mengikuti Pak Raul yang sudah duluan menjalankan mobilnya. Di dalam perjalanan, Riyan sedikit heran saat mereka menuju jalan bulan tujuan ke RS. Sebenarnya dia ingin bertanya kepada Pak Raul dengan arah jalan yang mereka tempuh. Tapi karena berada di mobil yang terpisah, membuat Riyan tidak bisa terpaksa hanya mengikuti mobil Pak Raul.


Sampainya di depan rumah besar yang terletak lumayan jauh dari jalan raya, Riyan langsung menepikan mobilnya setelah melihat mobil Pak Raul berhenti di depan mobilnya. Dan belum sempat dia keluar dari dalam mobil, tiba-tiba dia melihat ada seorang wanita yang berlari dari dalam rumah sambil menangis.


"Ada apa ini Pak?" Tanya Riyan yang buru-buru keluar dari dalam mobil, menghampiri Pak Raul juga wanita yang sedang menangis tersedu-sedu di depannya.


"Keadaan putri saya semakin parah Pak. Ayo kita ke dalam!" Ajak Pak Raul dan segera melangkah menuju rumah besar di depan mereka.


Sampainya di dalam rumah besar itu, Riyan langsung menaiki tangga menuju lantai atas mengikuti Pak Raul dan istrinya yang sudah duluan melangkah. Riyan benar-benar merasa bersalah karena sempat merasa terganggu dengan sikap Pak Raul tadi di kantornya. Ternyata Pak Raul hanya basa-basi biar bisa mengajaknya pergi.


"Silahkan masuk Pak!" Ujar Pak Raul setelah membuka pintu sebuah kamar.


"Iya Pak makasih." Jawab Riyan dan segera masuk ke dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Melihat keberadaan seorang wanita muda yang terbaring di atas tempat tidur dengan banyak alat medis yang terpasang di seluruh tubuh, Riyan seketika mematung dengan ekspresi wajah penuh kesedihan. Riyan yang juga sedang menanti kehadiran anaknya, begitu tersentuh melihat keadaan putri Pak Raul. Apalagi melihat istri Pak Raul yang tidak henti-hentinya menangis.


__ADS_2