
Melihat keadaan Fara dan mendengar keluh kesahnya. Membuat Riyan langsung tersadar dengan kesalahan yang telah dia lakukan. Walaupun dia tidak bermaksud menyinggung perasaan istrinya. Namun dia sangat menyesal telah membuat Fara menangis. Dengan wajah tanpa ekspresi, Riyan pun berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri Fara, yang masih terduduk di lantai dengan isak tangis tiada henti.
"Fara,, aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatmu menangis seperti ini. Aku minta maaf kalau kata-kataku telah menyinggung perasaanmu." Ujar Riyan sambil berlutut di belakang Fara, dan meraih pundak Fara yang masih terus menangis.
"Aku malu mendengar kata-katamu. Kamu telah menghinaku dengan mengatakan semua itu." Imbuh Fara dengan suara tersendat-sendat karena pengaruh menangis.
"Aku tidak tahu kalau kata-kataku itu akan membuatmu tersinggung." Sambung Riyan dengan tampang penuh bersalah.
"Kamu bilang punyaku bau. Emang kamu pikir punya wanita lain ngga bau..?" Tanya Fara dengan nada yang sudah mulai naik.
"Ya mana aku tahu..? Memangnya kamu pikir aku pernah mencium punya wanita lain?" Tanya balik Riyan karena merasa kesal dengan pertanyaan Fara.
"Mana aku tahu juga..? Lagian kita kan belum lama bersama. Jadi aku ngga tahu bagaimana masa lalu kamu sebenarnya." Ketus Fara dan langsung bergegas berdiri. Tapi dengan cepat Riyan langsung memeluknya sambil berkata.
"Kamulah wanita pertama di dalam hatiku. Dan kamu juga wanita pertama yang memberikan aku kenikmatan, yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku memang pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita sebelum kamu. Tapi hanya sekedar hubungan tanpa adanya rasa. Jadi aku harap, jangan pernah meragukan aku." Jelas Riyan yang membuat Fara langsung terdiam, dengan perasaan yang berbunga-bunga.
"Benar apa yang kamu katakan? Tapi mengapa kamu mengatakan punyaku bau?" Tanya Fara tanpa berbalik menatap Riyan, yang sudah mendekapnya erat dari arah belakang.
"Sesuatu yang paling tidak bisa aku lakukan adalah berbohong dan merayu. Jadi aku tidak mungkin mengatakan sesuatu yang tidak benar adanya." Jawab Riyan.
"Dan satu lagi. Yang bau bukan itu. Tapi celana yang tadi kamu lemparkan ke aku. Kalau yang itu, aku selalu menyukainya. Apapun keadaannya."Tambah Riyan jujur, sambil mengecup pipi Fara dari arah samping.
"Lagi dong,,!" Ujar Fara dengan senyum centilnya sambil berbalik menatap Riyan.
__ADS_1
"Apanya yang lagi?" Tanya Riyan dengan kening yang berkerut.
"Kecupannya." Jawab Fara sambil memejamkan matanya.
"Dasar genit.. Sana pakai pakaianmu! Kita harus segera pergi." Ujar Riyan dan langsung melangkah pergi meninggalkan Fara, yang hanya tersenyum menatapnya sambil bergumam di dalam hati.
"Hmmm,, itu suami apa penjaga goa sih? Ngga ada manis-manisnya. Tapi ngga apa-apa. Karena di balik sikapnya yang dingin itu, dia selalu bisa membuatku tak berdaya. Aku selalu di buat lemah dengan sentuhannya."
Fara yang sudah berbunga-bunga dengan kata-kata suaminya yang begitu meyakinkan. Hanya tersenyum tanpa bisa bersuara. Dia merasa menjadi wanita yang sangat beruntung, karena menjadi wanita pertama di dalam hati si beruang kutub itu. Sambil mengenakan pakaian yang sudah dia ambil dari dalam kopernya. Fara kembali berkata-kata memuji dirinya sendiri.
"Fara,, kamu memang wanita yang paling cantik. Jadi tidak heran kalau si pertapa itu langsung bertekuk lutut di depanmu." Ujar Fara dengan begitu percaya diri.
Sedangkan Riyan yang sudah berada di kamar Semi. Hanya terdiam di atas sofa yang ada di dalam kamar itu, sambil memikirkan sikap istrinya yang selalu membuat dia memilih untuk mengalah. Karena dia sendiri menyadari dirinya selama ini, yang tidak pernah bisa mengalah hanya untuk wanita. Melihat Riyan yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Semi yang datang dengan dua gelas kopi di tangannya langsung bertanya.
"Sem,, apa sebagai seorang laki-laki kita harus mengalah kepada istri?" Tanya Riyan dengan tampang yang sangat serius.
"Tergantung keadaannya Pak. Kalau kita yang salah, ya harus mengalah. Apalagi wanita itu selalu ingin di mengerti, oleh laki-laki yang benar-benar mereka cintai." Jawab Semi.
"Ooo,, gitu ya?" Ujar Riyan tanpa menatap Semi yang sedang menatapnya, sambil bergumam di dalam hatinya.
"Makanya" kalau jadi laki-laki itu jangan terlalu datar. Lama-lama berubah jadi tembok baru tahu rasa."
Semi yang juga sering merasa resah dengan sikap dingin Riyan. Selalu komplain di dalam hatinya tanpa Riyan ketahui. Dan di saat dia sedang mengomentari sikap Riyan di dalam hati sambil meneguk kopinya, tiba-tiba Riyan kembali bertanya yang membuat kopi yang ada di dalam gelas, langsung tumpah ke celananya saking kagetnya.
__ADS_1
"Hari ini kita jadi rapat kan?" Tanya Riyan.
"Ngga,, ngga jadi Pak. Tadi aku di hubungi sama Pak Samuel. Katanya rapatnya ngga jadi. Soalnya semuanya sudah beres." Jelas Semi gugup sambil meletakkan gelas kopinya, dan buru-buru mengambil tisu untuk membersihkan celananya.
"Kamu kenapa?" Tanya Riyan bingung.
"Ngga apa-apa Pak. Aku hanya kaget. Soalnya kopinya terlalu panas." Jawab Semi berbohong.
"Makanya hati-hati. Tapi rapatnya benar ngga jadi kan?" Tanya Riyan lagi.
"Iya Pak." Jawab Semi sambil sibuk membersihkan celananya.
"Baguslah kalau gitu." Sambung Riyan.
"Terus hari ini Bapak mau ke mana?" Tanya Semi dengan tatapan mencari tahu.
"Aku mau ajak jalan istriku." Jawab Riyan.
"Syukurlah aku bisa bebas hari ini." Ujar Semi seketika dengan tampang terlihat lega.
"Bebas dari aku?" Tanya Riyan spontan.
"Bukan gitu Pak. Aku cuman.."
__ADS_1
"Sudahlah Sem! Pokoknya hari ini kamu bebas ke mana saja. Soalnya aku juga ngga mau selalu di intilin sama kamu." Jawab Riyan, dan mereka berdua langsung tertawa. Tapi tiba-tiba ada suara ketukan pintu, yang membuat mereka berdua sama-sama langsung menatap ke arah pintu.