
Tatapan pertama di hiasi senyum manis yang bergulir nyata, pada beningnya mata Fara di hari pernikahan mereka. Telah mencairkan kebekuan hati Riyan yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh hangatnya cinta, dari seorang wanita selain wanita yang melahirkannya. Dia telah memasung sebuah janji di dalam hatinya untuk tetap menjaga cinta pertama, yang telah merubah hidupnya.
Cinta Riyan terhadap Fara selalu bungkam. Dia tak pernah berucap tentang kata cinta di depan Fara. Karena baginya, Fara adalah syair yang membuatnya senantiasa gugup di saat bertatap mata. Riyan yang berada jauh dari kekasih hatinya, berusaha untuk selalu menjaga ikrar suci, yang telah dia ucapkan sebagai sumpah dalam ikatan suci mereka.
Riyan melangkah bersama Semi menuju mobil yang sedang menunggu parkiran, dengan pikiran yang tidak pernah terlepas dari bayangan jelita yang membuatnya tersiksa selama beberapa hari terpisah. Di kala rindu itu telah menghampiri, mulutnya pun ikut bungkam karena tidak mampu untuk berkata-kata. Namun Semi yang masih kebingungan dan selalu ingin mengetahui apa yang terjadi dengan atasannya itu, kembali bersuara yang membuat lamunan di dalam pikiran Riyan jadi terganggu.
"Pak,, apa benar anda sangat mencintai istri anda?" Tanya Semi sambil menoleh ke arah Riyan yang sedang melangkah di sampingnya.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu? Apa aku sering mengatakan sesuatu yang tidak pasti?" Tanya balik Riyan.
"Bukan seperti itu. Anda adalah orang yang sangat jujur dalam berucap. Tapi ada keraguan di dalam hatiku, di saat anda mengatakan terpaksa menikah dengan wanita itu." Ujar Semi jujur.
"Itu memang kenyataannya. Karena awalnya cinta memang dapat melihat. Namun akan buta di saat cinta telah masuk ke dalam sanubari yang paling dalam." Kata-kata Riyan yang membuat Semi semakin bingung.
"Aku sangat bingung dengan perasaanmu yang bisa berubah dengan begitu mudah. Padahal dia kan tidak sempurna." Ujar Semi yang membuat Riyan langsung menatapnya sambil tersenyum, dan membuat Semi tambah kebingungan.
"Mengapa anda tersenyum? Apa ada yang lucu dengan perkataanku?" Tanya Semi.
"Aku mencintainya bukan karena pisiknya. Tapi karena dia adalah cahaya yang telah menyinari kegelapan dalam hidupku." Jawaban Riyan yang terdengar begitu bijak. Namun Semi masih belum juga mengerti apa yang di maksudkan Riyan.
"Aku sangat bangga dengan anda. Mau mencintai wanita yang tidak sempurna dengan kesempurnaan yang anda miliki." Ujar Semi.
"Kesempurnaan ku tidak ada apa-apanya di bandingkan bidadari ku. Dia adalah wanita yang paling sempurna yang pernah aku kenal. Cintanya sempurna, hidupnya sempurna, dan fisiknya pun sangat sempurna." Jawab Riyan yang membuat Semi serentak menatapnya kaget.
"Berarti dia bukan wanita yang tidak sempurna?" Tanya Semi dengan tatapan kaget ke arah Riyan.
"Otak mu yang tidak sempurna. Selalu menilai sesuatu tanpa tahu kebenarannya." Ujar Riyan tanpa menatap Semi.
__ADS_1
"Apa kamu ingin melihatnya?" Tanya Riyan.
"Iya.. Aku ingin melihatnya." Jawab Semi serentak.
"Ini dia wanita yang aku nikahi." Ujar Riyan sambil memperlihatkan gambar Fara yang terlihat seperti seorang putri kerajaan di layar ponselnya.
"Ini kan putri dari pewaris ke tiga keluarga Permana." Ujar Semi kaget sambil menatap gambar Fara di layar ponsel Riyan.
"Iya,, dia putri Om aku. Namanya Fara Permana." Ujar Riyan yang membuat Semi langsung menutup mulutnya dengan ekspresi kaget.
"Kamu kenapa kaget seperti itu?" Tanya Riyan bingung.
Semi begitu terkejut mendengar nama yang di sebutkan oleh Riyan barusan. Karena satu jam yang lalu, ada seorang wanita dengan nama itu menghubungi dia dan menanyakan Riyan. Karena tidak mengenali wanita yang meneleponnya, Semi langsung menjawab kalau Riyan sedang sibuk. Dan langsung memutuskan sambungan telepon.
"Astaga... Aku sudah buat kesalahan besar." Jawab Semi dengan tampang penuh bersalah juga khawatir.
"Kesalahan apa..?" Tanya Riyan yang sudah mulai penasaran dengan ekspresi Semi.
"Tadi ada yang menghubungiku satu jam yang lalu. Dia menanyakan anda Pak. Tapi aku bilang Bapak lagi sibuk dan tidak bisa di ganggu." Jawab Semi jujur.
"Siapa...?" Tanya Riyan dengan tatapan mencari tahu ke arah Semi.
"Tapi Bapak jangan marah ya,,!" Pinta Semi dengan tatapan memohon.
"Memangnya siapa yang menelponmu?" Tanya Riyan mulai curiga. Namun dia sama sekali tidak berpikir kalau orang itu istrinya sendiri.
__ADS_1
"Tadi Ibu Fara menelpon. Katanya dia sudah berada di sini." Jawab Semi sambil menatap Riyan dengan tampang terlihat ketakutan.
"Astaga Semi... Kenapa kamu tidak kasih tahu aku..? Itu istriku.. Aku harus mencarinya sekarang." Riyan berkata-kata sambil mengeluarkan ponselnya yang lain untuk menghubungi Fara.
Riyan memang menggunakan dua ponsel. Ponsel yang biasa dia gunakan untuk menghubungi keluarga juga teman-temannya, terpaksa dia non aktifkan setelah ada masalah dengan Fara. Tapi dengan segera dia kembali menyalakannya. Dan memilih untuk menghubungi nomor istrinya dengan penuh kekhawatiran. Untung saja baru beberapa kali berdering, telponnya langsung tersambung.
("Halo Fara.." Panggil Riyan setelah telponnya tersambung.)
("Iya Mas,," jawab Fara dengan nada suara yang terdengar bergetar.)
Mendengar suara yang yang sangat dia rindukan selama beberapa hari. Membuat hati Riyan terasa begitu sakit mengingat kesalahan yang sudah dia lakukan terhadap Fara. Rasa bersalah atas perbuatannya, begitu menekan batin laki-laki kaku itu. Sampai untuk berkata-kata saja dia tidak mampuh melakukannya.
("Mas...Mas Riyan..." Panggil Fara karena Riyan sudah tidak bersuara.)
("Kamu di mana?" Tanya Riyan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Namun Fara tidak langsung menjawab.)
("Fara,, aku tahu kamu sudah berada di Australia. Sekarang kamu di mana?" Riyan kembali bertanya.)
Dari jarak tidak terlalu jauh, Fara berdiri dengan air mata yang sudah berderai membasahi wajah cantiknya, sambil menatap sosok tampan di depan sana. Rindu yang dia tahan selama beberapa hari ini, membawa kedamaian dalam hati yang sempat rapuh. Setelah menemukan sesuatu yang hilang dari sisinya. Hanya air mata yang dapat menggambarkan kebahagiaan yang dia rasakan saat itu.
("Fara,, tolong jawab aku! Kamu di mana?" Tanya Riyan dengan ekspresi wajah yang terlihat semakin khawatir.)
("Aku di sini Mas. Di depan kamu." Jawab Fara yang membuat Riyan langsung menatap ke arah depan.)
Melihat Fara yang sedang berdiri di depan sana dengan senyuman di balik air matanya. Membuat Riyan langsung terdiam dengan hati penuh kebahagiaan. Tanpa memutuskan sambungan teleponnya. Riyan langsung melangkah menghampiri Fara, tanpa memperdulikan Semi yang sedang menatapnya bingung.
"pak... Pak Riyan mau kemana?" Tanya Semi dengan suara sedikit keras. Karena Riyan sudah berlalu di depan sana. Tapi Riyan sama sekali tidak menjawab ataupun menoleh ke arahnya.
__ADS_1