Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 194. Hilangnya Fara.


__ADS_3

Hati dan pikiran Riyan kala itu benar-benar di penuhi dengan ketakutan luar biasa. Memikirkan Fara wanita manja yang tidak bisa melakukan apapun sendirian, membuat Riyan semakin kacau-balau. Sejenak dia berpikir untuk menghubungi keluarga besarnya, dan memberitahukan kabar tentang Fara. Namun dia tidak ingin membuat mereka khawatir, dengan semua kejadian yang menimpa Fara.


"Yan,, kemana lagi kita harus mencari istrimu? Semua temannya sudah kita datangi. Tapi tidak ada seorangpun yang tahu di mana dia berada." Tanya Exel yang duduk bersama Fero di kursi mobil bagian belakang.


"Aku juga ngga tahu. Aku bingung banget harus mencarinya kemana lagi." Jawab Riyan yang sejak tadi mengemudikan mobilnya tanpa mengenal lelah.


"Apa kita lapor polisi saja Kak?" Sambung Fero sambil menatap Exel.


"Kita belum bisa melaporkan masalah ini ke pihak kepolisian. Setidaknya sampai besok pagi." Jawab Exel.


"Tapi tidak mungkin kan kita tunggu sampai besok pagi? Kalau sesuatu yang baruk terjadi sama Fara gimana?" Tanya Fero yang juga terlihat sangat khawatir memikirkan Fara.


Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Fero, Riyan semakin tidak tenang karena memikirkan hal yang sama dengan Fero. Tapi dia juga belum bisa untuk percaya terhadap Fero begitu saja. Karena hanya Fero orang yang terakhir ada bersama Fara, sebelum dia pergi meninggalkan Kampus.


Tanpa berkata-kata Riyan melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Sampainya di sana, Riyan langsung keluar dari mobil dan melangkah mendekati Fero, yang juga baru saja keluar dari pintu mobil bagian belakang bersama Exel. Dengan tatapan mata yang begitu tajam, Riyan menarik kerah baju Fero dan mengeluarkan kata-kata ancaman.


"Jangan kamu berpikir aku percaya, kalau kamu memang tidak terlibat dengan semua yang terjadi. Polisi pun akan mencurigai kamu. Karena hanya kamu satu-satunya orang yang ada bersama dia tadi pagi. Kalau sampai terbukti kamulah di balik semua ini, aku sendiri yang akan menghabisi mu dengan kedua tanganku."


"Aku siap di penjara atau sekalian di bunuh, kalau aku memang bersalah. Di Kampus Fara adalah salah satu orang yang sangat aku senangi. Jadi bagaimana mungkin aku bisa melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya?" Jawab Fero.


"Sudahlah Yan,,! Lebih baik kita langsung ke dalam saja. Biar masalah ini cepat di tangani." Sambung Exel sambil menarik tangan Riyan dari kerah baju Fero.

__ADS_1


Laporan Riyan atas hilangnya Fara langsung di tangani saat itu juga oleh pihak yang berwajib, walaupun belum sampai satu kali dua puluh empat jam hilangnya Fara. Mereka memilih untuk bertindak cepat sebelum terjadi apa-apa dengan Fara yang sedang mengandung. Tapi saat itu juga Fero langsung di tahan sebagai orang yang di curigai.


"Pak Riyan,, kira-kira kemana kita harus mencari istri Bapak? Maksudku di tempat mana saja yang biasa di datangi oleh Ibu Fara?" Tanya Komandan Polisi.


"Aku sendiri bingung mau mencari kemana. Karena semua tempat sudah kita datangi." Jawab Riyan yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kalau gitu biar kita saja yang melakukan tugas kita. Pak Riyan pulang saja dulu. Nanti besok pagi baru Pak Riyan kembali lagi." Ujar Komandan Polisi yang merasa kasihan melihat keadaan Riyan.


"Iya Yan,, lebih baik kita pulang dulu. Nanti besok pagi kita ke sini lagi." Sambung Exel.


"Exel,, ini kunci mobilnya. Aku tidak bisa berkonsentrasi." Riyan yang begitu kacau memikirkan Fara, meminta Exel untuk mengemudikan mobilnya.


Dalam perjalanan pulang, Riyan yang takut di salahkan oleh keluarganya, memilih untuk menghubungi Mama mertuanya sekaligus Tantenya untuk mberitahukan kabar buruk itu. Dia juga tidak lupa mengabari kedua orang tuanya. Mendengar kabar yang di sampaikan oleh Riyan, Faris langsung memutuskan untuk berangkat dengan pesawat pribadinya saat itu juga. Begitupun dengan Reza yang ada di Malaysia.


"Mas,, aku ingin ikut bersama kamu. Aku takut terjadi apa-apa sama putriku." Aleta berkata-kata dengan bercucuran air mata saking khawatir dengan keadaan Fara.


"Kamu tenang saja! Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada putri kita." Jawab Faris yang sedang buru-buru memakai jaketnya.


"Pa,, kalau gitu biar saya saja yang ikut." Sambung Alfa yang juga sudah berada di rumah orang tuanya bersama Shelina juga yang lainnya.


"Tidak perlu. Kamu di sini saja jaga mereka. Adik kamu akan baik-baik saja." Sambut Faris yang sudah siap melangkah keluar rumah.

__ADS_1


"Ris,, kamu harus hati-hati!" Sambung Oma Alira yang begitu menyayangi putra satu-satunya itu.


"Iya Ma. Jangan lupa doakan aku juga putriku." Bisik Faris di samping telinga Oma Alira yang sedang memeluknya dengan berlinang air mata.


Sehebat apapun Faris, dia selalu meminta doa dari keluarganya terutama Mamanya. Dia tidak akan pernah melangkah tanpa restu dari istri juga wanita yang sudah melahirkannya. Karena bagi Faris, doa seorang Ibu juga istri akan menjadi pelindung baginya.


Setelah mengabari keluarga besarnya, Riyan langsung pulang menuju apartemen bersama Exel. Sampainya di parkiran mereka sudah di sambut oleh para pekerja di apartemen dengan tampang yang terlihat begitu khawatir. Terutama Pak Radit yang sedikit merasa bersalah karena tidak menemui Fara di Kampus siang tadi.


"Den Riyan,, bagaimana kabar Non Fara? Apa sudah ada kabar tentangny?" Tanya salah seorang Bibi setelah Riyan keluar dari dalam mobil.


"Belum Bi. Tapi polisi sudah menangani kasusnya. Mereka akan segera mencarinya." Jawab Riyan dengan tampang lesu.


"Pak Riyan,, saya benar-benar minta maaf. Karena saya tadi siang tidak ke Kampus untuk menjemput Ibu Fara." Sambung Pak Radit dengan tampang penuh rasa bersalah.


"Ini bukan salah Pak Radit. Jadi Pak Radit tidak perlu untueminta maaf. Kalian doakan yang terbaik saja untuk Fara!" Ujar Riyan dan langsung melangkah masuk apartemen bersama Exel yang memang mau menginap di tempatnya.


Di saat Riyan dan Exel sudah berada di apartemen, Fero satu-satunya orang yang sedang di curigai malah sedang di interogasi dengan tindakan kekerasan. Beberapa polisi yang berada bersamanya di dalam sebuah ruangan memilih untuk mengambil langkah tegas dengan memukulinya dengan tujuan agar dia bisa mengakui semuanya. Tapi walaupun sudah babak belur di hajar beberapa polisi itu, Fero sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang menyudutkan dirinya.


"Saya tidak tahu Pak. Dan saya tidak mungkin menyakiti Fara. Apalagi saya tahu dia sedang mengandung." Jawab Fero dengan suara terbata-bata.


"Kamu tidak akan mungkin menyakitinya. Karena kamu menyukainya. Tapi bisa saja rasa sukamu itu membuatmu mengambil keputusan yang salah dengan menyekapnya." Ujar salah seorang polisi.

__ADS_1


"Awalnya saya memang menyukainya Pak. Tapi setelah mengetahui kalau dia sudah punya suami dan mengandung, saya langsung berusaha untuk hilangkan perasaan itu dari dalam hati saya." Ujar Fero sambil menundukkan kepalanya.


__ADS_2