
Rintik hujan mulai turun membasahi bumi menambah keheningan di malam itu. Sehening suasana di dalam rumah megah keluarga Permana. Malam terakhir Melda berada di tengah-tengah keluarganya, di lalui dengan suasana haru karena akan melepas kepergiannya esok hari. Mama Alira yang duduk bersebelahan dengan Melda, hanya bisa meneteskan air mata sambil mengingatkan putrinya itu tentang segala hal.
"Sayang,, jaga diri kamu baik-baik di sana ya! Jangan lupa kontrol kesehatan kamu, dan kamu ngga boleh bersedih! Kalau ada apa-apa, jangan lupa kalau ada keluargamu di sini, yang selalu siap untuk datang padamu." Mama Alira berkata dengan deraian air mata berlinang membasahi wajahnya, sambil mengusap-usap kepala Melda yang juga sudah bercucuran air mata.
"Iya Ma." Jawab Melda singkat dan langsung memeluk Mama Alira.
Sedangkan Aleta yang sedang duduk bersebelahan dengan Faris, hanya bisa menatap sahabat baiknya itu tanpa bisa berkata-kata.
Sebagai sahabat baik juga saudara yang selalu bersama-sama setiap hari, membuat Aleta begitu berat harus berpisah dengan Melda yang akan berangkat ke Malaysia besok paginya. Aleta merasa kesepian bila harus menjalani hari-harinya di Kampus tanpa ada Melda di sampingnya. Tidak terasa air mata pun meluncur dari kedua bola mata indah Aleta. Kasih sayang antara Aleta dan Melda, bukan hanya sebatas sahabat. Namun sudah seperti saudara.
Melihat keadaan Aleta, Faris yang begitu mengerti perasaan istrinya itu langsung memeluk pundaknya sambil berkata.
"Sayang,, sebagai seorang istri, Melda itu harus mengikuti suaminya kemanapun dia pergi. Contohnya kamu. Kamu harus meninggalkan Negaramu untuk ikut denganku ke Indonesia." Faris berusaha untuk memberikan pengertian kepada istrinya yang terlihat begitu sedih.
__ADS_1
Sedangkan Reza yang sedang menatap Aleta, sangat merasa bersalah karena harus meninggalkannya untuk kesekian kalinya. Dan lebih parahnya lagi, kali ini dia malah membawa Melda orang yang setiap hari menemani adiknya itu. Reza sangat memahami kesepian Aleta yang hari-harinya akan terasa berbeda setelah kepergian Melda.
Dengan perlahan, Reza pun bergeser ke samping Aleta yang masih terus menangis dalam pelukan Faris. Reza yang selalu bisa menenangkan Aleta sejak dia masih kecil, mencoba untuk memberi pengertian kepada adiknya, karena dia melihat Faris sama sekali tidak berhasil untuk menenangkannya.
"Al,,, kita kan masih bisa saling mengunjungi." Perkataan Reza yang membuat Aleta langsung melepaskan pelukan Faris, dan berbalik menatapnya.
"Tapi Bang.. " Suara Aleta yang terpotong karena Reza langsung memeluknya dan berbisik di telinganya.
"Aal,,, bukannya Abang tidak mau tinggal di sini. Tapi Abang tidak ingin menggantungkan hidup pada harta peninggalan orang tua Melda. Sementara kan, Abang masih punya kerja di sana. Ngga enak kalau Abang tinggalin begitu saja." Jelas Reza yang membuat Aleta langsung mengerti.
Aleta yang sudah mengerti dengan jalan pikiran Reza, merasa sangat bangga memiliki saudara yang begitu bertanggung jawab. Di saat ada kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin dengan semua warisan istrinya, Reza malah memilih menjadi bawahan orang, demi mendapatkan hasil dari kerja kerasnya sendiri untuk menafkahi istrinya.
Bukan hanya Aleta yang merasa bangga dengan keputusan yang di ambil Reza. Semua anggota keluarga Permana juga turut bangga dengan prinsip Reza, termasuk Melda istrinya. Tidak mudah untuk orang bisa menolak warisan sebanyak itu. Tapi Reza dengan sangat yakin, lebih memilih tinggal di negaranya tanpa meminta sedikitpun warisan istrinya, bahkan untuk pengobatan istrinya yang masih membutuhkan banyak biayaya.
Walaupun Reza sudah sangat meyakinkan sebagai suami yang benar-benar bertanggung jawab, namun sebagai orang tua, Papa Fahri juga Mama Aliran yang akan melepaskan putrinya jauh dengan kondisi belum sembuh total, tidak lupa mengingatkan Reza untuk mengabari mereka bila membutuhkan biayaya pengobatan Melda.
__ADS_1
"Za,, kondisi Melda kan belum pulih, pengobatannya juga pasti mahal. Jadi kalau kamu butuh biayaya untuk pengobatannya, jangan ragu untuk meminta!" Kata Papa Fahri kepada Reza.
"Iya Pa. Aku akan memintanya kalau untuk biayaya pengobatan Melda." Jawab Reza.
"Bukan hanya biayaya pengobatan Melda, kalua biayaya hidup kalian juga ngga cukup, kamu juga harus mengabari kita."Sambung Mama Alira.
"Iya Za.. " Sambung Faris.
"Terima kasih Ma,, atas kebaikan Mama dan Papa juga Faris. Tapi kalau untuk biayaya hidup, semoga tidak akan pernah kurang. Aku tidak akan membuat Melda merasa kurang." Jawaban Reza yang membuat semua anggota keluarga Permana semakin bangga padanya, termasuk Boy juga Tante Leni yang berada di situ.
"Papa sangat percaya padamu Za. Semoga kalian selalu bahagia di sana. Jaga putri Papa baik-baik ya Za!" Kata Papa Fahri dengan penuh harap.
"Iya Pa,, aku janji." Jawab Reza dengan penuh keyakinan.
Mendengar janji yang di ucapkan juga kesungguhan Reza dalam mengucapkan janji itu, membuat Papa Fahri dan anggota keluarganya langsung tersenyum. Mereka sumua begitu yakin kalau Melda akan sangat bahagia, hidup bersama Reza laki-laki luar biasa yang sungguh dia cintai itu.
__ADS_1