Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 129. Situasi Memanas.


__ADS_3

Pagi itu Fara terlihat kebingungan seperti sedang mengingat sesuatu. Dia duduk menghadap meja makan sambil menopang wajahnya dengan kedua tangan tanpa memperdulikan Riyan yang berada di sampingnya. Melihat keadaan istrinya, Riyan seketika jadi khawatir. Riyan takut kalau Fara masih kurang sehat dan belum bisa untuk berangkat ke Kampus.


"Fara,, kamu kenapa? Apa luka di kakimu masih sakit?" Tanya Riyan sambil memperlihatkan Fara dengan tampang yang serius.


"Aku sudah sehat ko Mas. Bahkan luka di kakiku sudah tidak terasa sakitnya." Jawab Fara sambil melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi menopang wajahnya.


"Terus kenapa kamu sejak tadi murung seperti itu?" Tanya Riyan yang sudah mulai menyantap sarapannya.


"Aku tu lagi bingung Mas. Tadi malam aku tu bermimpi aneh." Jawab Fara sambil menatap Riyan yang begitu lahap menyantap sarapannya.


"Memangnya kamu bermimpi tentang apa?" Tanya Riyan dengan lirikan sesaat ke arah Fara.


"Aku tu mimpi ada seorang laki-laki yang begitu kurang ajar mau melepaskan CD aku, di saat aku sedang tertidur. Dan aku sempat memarahinya, juga mengatainya cabul." Jelas Fara yang membuat Riyan langsung tersedak.


"Uhuk,, uhuk,, uhuk."


"Astaga Mas... Makan tu hati-hati..! Ini minum dulu." Seru Fara sambil memberikan segelas air putih kepada Riyan yang terlihat aneh.


"Kamu kenapa sih Mas? Ko tampang kamu aneh?" Tanya Fara karena merasa bingung dengan sikap suaminya yang terlihat sangat aneh.


"Ngga apa-apa,, aku hanya terlalu lahap menikmati sarapan." Jawab Riyan berbohong.

__ADS_1


Tanpa berbicara panjang lebar, Riyan kembali menyantap sarapannya sambil sesekali melirik ke arah Fara yang juga sedang menikmati sarapannya. Dalam diam Riyan sangat bingung dengan cerita Fara barusan, yang dia sendiri tahu kalau itu bukanlah mimpi. Malah kenyataan yang terjadi semalam di antar mereka berdua. Karena merasa khawatir Fara akan membahas mimpinya lagi, dengan buru-buru Riyan langsung meminum segelas air kemudian berdiri sambil berkata.


"Aku mau ke tempat kerja dulu. Kamu perginya sama Pak Anton saja." Ujar Riyan dan segera melangkah pergi meninggalkan Fara yang masih terus menikmati sarapannya.


"Aneh banget Mas Riyan." Ujar Fara yang merasa bingung dengan sikap suaminya.


Dalam perjalanan menuju perusahaannya, Riyan hanya terdiam sambil melajukan mobilnya. Dia tidak menyangka kalau ternyata semalam Fara berkata-kata tanpa sadar. Dan dia pikir itu hanyalah mimpi. Tapi Riyan pun merasa sedikit lega, karena Fara tidak menyadari apa yang dia lakukan semalam.


"Baguslah kalau dia tidak ingat dengan kejadian semalam. Kalau tidak dia akan membuatku semakin malu di depan orang. Wanita itu kan selalu ceroboh dalam bertindak ataupun berkata-kata." Riyan berkata-kata dengan tatapan lurus ke depan.


Sampainya di depan Kampus, Fara segera melangkah masuk ke dalam gedung Kampus dengan perlahan-lahan karena luka di kakinya kembali terasa nyeri. Dan tidak sengaja di menabrak seseorang di saat dia sedang menunduk memperhatikan kakinya yang terluka.


"Aduuh.. Maaf ya.." Permintaan maaf Fara sambil buru-buru mengangkat mukanya menatap orang yang ada di depannya.


"He... Kalau jalan tu pakai mata.." Sambut seorang wanita yang berdiri tepat di samping wanita yang di tabrak Fara.


Melihat Rena yang sedang berdiri di hadapannya, hati Fara seketika berubah panas seperti teriknya matahari di siang itu. Fara sama sekali tidak menghiraukan perkataan salah seorang teman Rena barusan. Karena konsentrasinya hanya pada wanita munafik yang ada tepat di hadapannya.


"He... Kamu dengar ngga apa yang aku bilang..?" Tanya teman Rena dengan tatapan sinis ke arah Fara. Tapi Fara tetap tidak perduli dengannya.


Melihat Fara yang sedang berhadapan dengan cewek-cewek senior di Kampus itu, membuat teman-teman Fara yang baru saja datang langsung berlari menghampiri Fara. Begitupun dengan yang lainnya. Para Mahasiswa dan Mahasiswi yang mengerumuni mereka hanya terdiam dengan ekspresi menegangkan. Karena mereka tahu kalau Fara adalah Mahasiswi pindahan yang baru memasuki semester empat, sedang berhadapan dengan beberapa wanita senior di Kampus mereka itu.

__ADS_1


"Ada apa ramai-ramai seperti itu..?" Tanya Riyan yang baru saja sampai bersama beberapa temannya.


"Ngga tahu juga. Ayo kita lihat.." Sambung Arlan dan langsung buru-buru melangkah menuju kerumunan orang.


Dengan Tampang sedikit penasaran, Riyan melangkah mengikuti teman-temannya yang sudah duluan pergi. Karena terlalu banyak orang di sana, sehingga membuat Riyan sulit untuk bisa melihat apa yang sedang terjadi. Begitupun dengan beberapa orang temannya. Akhirnya mereka pun memilih untuk segera pergi dari situ. Tapi tiba-tiba langkah kaki Riyan langsung tertahan, di saat mendengar suara salah seorang teman wanita satu ruangannya.


"Ini anak tuli kali ya..? Ngga minta maaf malah bertingkah." Perkataan salah seorang teman Rena yang membuat Fara semakin kesal.


"He anak baru.. Apa kamu tuli..?" Tanya teman-teman Rena secara bersamaan.


"Aku dengar suara kalian yang tidak enak itu. Tapi aku malas untuk menjawabnya. Aku akan menghormati kalian sebagai kakak senior, apabila kalian menghargai ku." Suara Fara yang terdengar sangat jelas di telinga Riyan yang masih tetap berdiri di tempatnya.


Dengan buru-buru Riyan pun langsung masuk di dalam kerumunan orang banyak untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dia sangat yakin kalau itu suara istrinya. Riyan terlihat begitu sangat khawatir dengan Fara yang sedang di borong sama teman-teman wanita satu ruangannya. Riyan seperti itu karena dia tahu Fara sedang terluka dan belum bertenaga untuk melindungi dirinya sendiri, kalau sampai terjadi pertengkaran di antara mereka.


"Sombong banget kamu. He.. Apa kamu tidak tahu siapa kita..?" Tanya Rena yang berlaga tegas di depan Fara.


"Aku tahu, dan aku juga sudah mengenalimu. Kamu itu kakak senior yang tidak tahu diri." Jawab Fara dengan tatapan tajam ke arah Rena yang seketika jadi terdiam.


"Berani kamu melawan kita ya..?" Sambung salah seorang teman Rena dengan tatapan tidak kalah tajam.


Melihat keadaan yang sudah semakin memanas, beberapa teman Fara langsung menahan Fara yang tidak mau kalah, berhadapan dengan beberapa orang kakak senior mereka yang terkenal sangat sombong. Yang selalu bersikap santai hanyalah Kakaknya Prisil teman baru Fara.

__ADS_1


__ADS_2