Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 171. Pertemuan Kedua.


__ADS_3

Siang itu mentari begitu terik menyinari kota. Namun Fara yang sedang berada di salah satu kafe bersama Anita sahabatnya, terlihat begitu murung duduk menghadap segelas jus yang baru saja di pesan. Melihat ekspresi sahabatnya Anita jadi penasaran. Karena Fara yang dia kenal adalah wanita yang sangat ceria. Bukan wanita pendiam seperti itu.


"Ra,, kamu ada masalah?" Tanya Anita dengan tatapan mencari tahu.


"Iya Nit. Aku tu bingung banget." Jawab Fara sambil menatap Anita serius.



"Masalah apa sih? Coba kamu ceritain sama aku." Ujar Anita dengan suara lembutnya.


"Nit,, Mas Riyan sama orang tuaku juga orang tuanya, sudah sangat menginginkan anak dariku. Tapi aku ti takut banget." Jelas Fara mulai membuka percakapan.


"Apa yang kamu takutkan? Itu kan hal yang wajar. Semustinya kamu tu bahagia dengan semua itu." Tanya Anita.


"Nit,, sebenarnya aku tu takut banget punya anak." Jawab Fara dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Apa yang membuatmu takut? Anak itu anugrah, bukan sesuatu yang harus di takuti." Tanya Anita penasaran.


"Aku tu ngga mau bentuk tubuh aku jelek kalau punya anak nanti. Aku takut Mas Riyan cari yang lebih cantik dari aku." Jawab Fara.


"Ra,, kamu ngga usah takut! Kalau Kak Riyan benar-benar mencintaimu, dia akan menerimamu apa adanya. Lagian siapa bilang wanita yang sudah punya anak memiliki bentuk tubuh jelek? Malah wanita yang sudah punya anak itu, kebanyakan terlihat semakin seksi. Asalkan kamu rajin merawatnya!" Ujar Anita mencoba menyemangati Fara yang terlihat masih khawatir.


"Lagian sekarang ini ada banyak cara untuk menjaga bentuk tubuh kita. Kamu ikut saja program kecantikan setelah punya anak nanti!" Anita mencoba memberikan jalan keluar kepada Fara.


"Iya,, aku akan membicarakan semua ini sama Mas Riyan. Sekarang kan di rumah sudah sepi. Jadi aku bisa mengobrol lebih serius sama Mas Riyan." Fara mulai bersemangat setelah mendengar apa yang di katakan oleh Anita.


"Setelah ini kamu mau kemana?" Tanya Anita.


"Aku mau mampir sebentar ke kantor Mas Riyan. Aku ingin menemaninya kerja." Jawab Fara.


Di kantor Riyan begitu sibuk menandatangi berkas-berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Di saat dia sedang fokus bekerja, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Dan tanpa menatap ke arah pintu, Riyan pun langsung bersuara.

__ADS_1


"Masuk...!" Riyan mempersilahkan orang yang ada di luar untuk masuk.


"Siang Pak." Terdengar suara seorang wanita.


"Siang." Jawab Riyan sambil mengangkat muka menatap wanita yang ada di hadapannya.


"Siapa kamu? Ada perlu apa?" Tanya Riyan dengan tampang dinginnya.


Sikap Riyan yang terlihat begitu dingin, seketika membuat wanita yang ada di hadapannya itu jadi tersenyum. Tapi itu malah membuat Riyan jadi bingung dan sedikit kesal.


"Mengapa kamu tersenyum seperti itu? Apa ada yang lucu?" Tanya Riyan datar.


"Saya kariyawan baru di sini Pak. Saya di tugaskan di bagian keuangan." Jawab wanita itu dengan tingkah centilnya.


"Ini berkas saya Pak. Ternyata Bapak ini masih muda. Sangat tidak pantas saya memanggil dengan sebutan Bapak. Kalau mau, saya bisa panggil dengan sebutan Mas saja." Ujar wanita itu sambil melangkah mendekat ke arah Riyan.


"Apa-apaan kamu? Saya ini atasan kamu. Bukan saudara kamu." Jawab Riyan dengan tampang semakin datar.


"Silahkan keluar dari sini!" Seru Riyan tanpa menatap wanita centil di sampingnya.


Dena yang semakin tertantang dengan sikap Riyan yang angkuh juga dingin, seketika berpikir untuk mencari cara agar bisa lebih dekat lagi dengan Riyan. Dan tanpa Riyan ketahui, ternyata wanita yang bernama Dena itu adalah adik kandung Deni, yang datang ke kantornya dengan satu tujuan jahat.


"Aduh..." Suara teriakan Dena dan langsung terjatuh menimpa Riyan.



"Ma,, maaf Pak. Saya tidak sengaja." Ujar Dena sambil menatap wajah Riyan tanpa berkedip sedikitpun.


"Bangun sana..! Jangan pernah seperti ini lagi! Makanya, kalau mau menyerahkan sesuatu, berdiri di sana saja, jangan berdiri di dekat saya!" Ujar Riyan sambil merapikan bajunya.


"Iya Pak. Sekali lagi saya minta maaf." Jawab Dena dan langsung melangkah menuju pintu keluar sambil bergumam di dalam hatinya.

__ADS_1


"Astaga,,, mengapa jantungku berdetak kencang seperti ini. Aku benar-benar lemah berada dekat dengan laki-laki tampan itu. Apa aku sudah jatuh cinta dalam pandangan pertama?"


Dena yang seketika berbunga-bunga dengan apa yang baru saja terjadi, melangkah keluar dari dalam ruang kerja Riyan sambil tersenyum penuh kebahagiaan. Dan tiba-tiba dia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang tidak jauh dari ruang kerja Riyan.


"Astaga... Kamu lagi..? Apa kamu ngga punya mata..?" Dena berkata-kata dengan tatapan tajam ke arah orang yang dia tabrak itu.


"He... Kamu jangan lancang ya..! Apa kamu ngga tahu siapa orang yang ada di hadapanmu ini?" Sambung sekretaris Riyan yang kebetulan ada di meja kerjanya.


"Maaf Bu,, memangnya wanita ini siapa?" Tanya Dena kepada sekretaris Riyan.


"Kamu mau tahu siapa saya? Saya istri dari orang yang punya kantor ini." Sambung Fara dengan tampang datarnya.


"Ma,, maaf Bu. Saya tidak tahu. Saya minta maaf atas kesalahan saya." Dena meminta maaf dengan raut wajah yang di buat penuh rasa bersalah.


"Makanya, jadi orang baru itu, jangan terlalu banyak bertingkah!" Sambung sekresris Riyan dengan segera.


Fara yang merasa sedikit kesal dengan sikap kariyawan baru di kantor Riyan itu, langsung melangkah menuju ruang kerja Riyan tanpa bersuara. Apalagi itu bukan kali pertama dia bertemu wanita sombong itu. Dan pertemuan kedua mereka itu, benar-benar membuat Fara tidak dapat menahan diri untuk bersikap.


Riyan yang sedang mengerjakan pekerjaannya yang hampir selesai, begitu kaget mendengar suara pintu terbuka tiba-tiba. Dia berpikir wanita itu datang kembali. Dan tanpa melihat terlebih dulu siapa yang datang, Riyan langsung bersuara dengan nada yang terdengar kesal.


"Ada apa lagi..?" Tanya Riyan segera sambil menatap ke arah pintu.


"Ada apa lagi? Maksud Mas apa?" Tanya Fara bingung.


"Ooo kamu sayang? Mas pikir orang?" Tanya Riyan dengan segera.


"Maksud Mas wanita centil itu?" Tanya Fara sambil melangkah mendekat ke arah Riyan dengan tampang datarnya.


"Wanita centil yang mana?" Tanya Riyan bingung.


"Yang tadi bertabrakan sama aku di depan." Jawab Fara dan langsung duduk di pangkuan Riyan dengan tangan melingkar di leher Riyan.

__ADS_1


"Dia tu marah-marah sama aku. Soalnya ini kedua kalinya aku tabrakan sama dia. Kemarin aku juga tabrakan sama dia waktu di mall." Ujar Fara sambil menatap wajah tampan suaminya yang ada tepat di depan matanya.


__ADS_2