
Riyan dan Fara yang tiba-tiba teringat dengan parfum yang harus mereka kirim ke Indonesia hari itu juga, dengan buru-buru meninggalkan vila tempat mereka menginap dan menuju sebuah tempat pengiriman barang antar negara. Dalam perjalanan Fara memutuskan untuk menghubungi Shelina. Namun sudah beberapa kali dia melakukan panggilan, tidak di jawab oleh Shelina. Melihat Fara yang terus berusaha menghubungi Shelina, Riyan yang lagi fokus mengemudi langsung bertanya.
"Bagaimana?" Tanya Riyan sambil melirik Fara sesaat.
"Ngga di jawab Mas." Jawab Fara yang sudah kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. Dengan wajah yang terlihat masih sangat lemas.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Riyan sambil menatap Fara melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya.
"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa Mas?" Tanya Fara sambil berbalik menatap Riyan.
"Muka kamu terlihat sangat tidak bersemangat. Apa ada yang sakit?" Tanya Riyan lagi sambil mengusap-usap kepala Fara dengan sebelah tangannya.
"Ngga ko Mas. Memangnya aku ini anak perawan?" Tanya Fara sambil tersenyum menatap Fara.
Sebagai seorang laki-laki, Riyan sangat bangga juga bersyukur memiliki istri seperti Fara. Walaupun dia adalah wanita yang sangat ceroboh, namun dia pandai menjaga kehormatannya sampai menikah. Mendengar jawaban Fara barusan, Riyan tiba-tiba jadi teringat dengan malam di mana dia memaksa Fara untuk melayaninya. Dan di saat itu dia dalam keadaan mabuk. Dia begitu menyesal dan merasa bersalah, karena telah menyakiti istrinya di malam itu.
"Fara,, aku minta maaf ya.." Ujar Riyan sambil menatap lurus ke depan.
"Minta maaf soal apa Mas?" Tanya Fara bingung.
"Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan sama kamu." Ujar Riyan yang membuat mata Fara seketika langsung berkaca-kaca.
"Mengapa kamu menangis?" Tanya Riyan penuh perhatian.
"Aku sangat bahagia bisa memiliki hatimu Mas." Jawab Fara.
Kebahagiaan Fara semakin terasa sempurna dengan sikap Riyan yang semakin romantis terhadapnya. Ketulusan cinta Fara telah berhasil mencairkan kebekuan hati suaminya.
__ADS_1
Setelah sampai di depan tempat pengiriman barang, Fara yang belum sempat menulis nama untuk barang yang mau dia kirim jadi kebingungan. Melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, Riyan pun langsung bersuara.
"Ada apa?" Tanya Riyan.
"Ini Mas. Aku tu bingung mau tulis nama penerima barang." Jawab Fara.
"Tulis nama Mas Alfa saja! Biar mudah di antar sesuai alamat." Ujar Riyan.
"Iya juga ya Mas? Kan Shelina orang baru di sana." Sambut Fara dan langsung buru-buru menulis nama Alfa pada paket yang akan dia kirim ke Indonesia.
"Ayo Mas!" Ujar Fara setelah selesai mengirimkan parfum yang di pesan oleh Shelina.
"Fara,, hari ini kan kita ngga ada aktifitas di kampus. Kamu mau langsung pulang, apa mau menemaniku di kantor?" Tanya Riyan setelah mereka sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Aku pulang saja Mas. Aku tu malu bertemu kariyawan di kantor kamu setelah kejadian kemarin." Jawab Fara tanpa menatap Riyan.
"Justru karena itu, aku ingin kamu menemaniku ke kantor. Biar semua orang tahu, kalau semua itu hanya kesalahpahaman. Lagian semua kariyawan di kantor aku tu suka sama kamu. Jadi kamu ngga usah malu dengan kejadian kemarin!" Ujar Riyan mencoba meyakinkan Fara.
"Untuk apa juga aku harus menjelaskan semuanya kepada mereka? Itu bukan urusan mereka. Lagian kata-kata bukan cara untuk meyakinkan orang lain tentang ketulusan kita. Tapi bukti yang harus kita tunjukan." Ujar Riyan sambil menjalankan mobilnya.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Riyan, Fara seketika langsung tersenyum tanpa bersuara. Fara begitu bahagia dengan sikap suaminya yang selalu bisa meyakinkannya, dengan tindakan bukan hanya omongan semata. Karena sebenarnya hal yang di butuhkan wanita dari seorang lelaki itu adalah bukti. Bukan hanya sekedar kata-kata mesra.
"Mending kamu hubungi Mba Shelina lagi! Biar dia tahu kalau kamu sudah mengirimkan parfum yang dia pesan!" Ujar Riyan sambil terus melajukan mobilnya.
"Iya Mas." Jawab Fara dan langsung menghubungi Shelina.
("Halo Mba.. Ini Mba lagi di mana? Ko ribut banget sih?" Tanya Fara di saat telponnya sudah tersambung dengan Shelina.)
__ADS_1
("Mba lagi di jalan Ra.." Jawab Shelina dengan sedikit berteriak.)
("Ngapain Mba di jalan? Ini ko suaranya seperti di jalan raya? Memangnya Mba ngga naik mobil?" Tanya Fara bingung.)
("Mba lagi jalan kaki baru pulang kerja.." Jawab Shelina jujur.)
("Apaaa... Pulang kerja..? Mba kerja di mana..? Memangnya Mba di izinin kerja..?" Tanya Fara kaget bercampur bingung.)
("Mba kerja di sebuah kafe Ra. Dan tidak ada satu orangpun yang tahu. Termasuk Mas Alfa." Jawab Shelina yang membuat Fara semakin bingung dan penasaran.)
("Mba,, kenapa Mba harus kerja..? Mas Alfa itu punya banyak uang. Dan Mama Papa pasti marah kalau sampai tahu Mba kerja." Ujar Fara yang masih bingung dengan kakak iparnya itu.)
("Mba tu ngga mau membebani Mas Alfa. Karena hubungan kita tu tidak seperti hubungan suami istri pada umumnya. Kamu pasti sudah tahu, kalau Mas Alfa sangat tidak menginginkan keberadaan Mba dalam keluarga kalian. Maka dari itu, Mba ngga mau menggantungkan hidup Mba padanya." Jelas Shelina yang membuat Fara langsung merasa semakin kasihan terhadap Shelina.)
("Ra,, tolong kamu jangan kasih tahu siapa-siapa tentang semua ini! Mba ngga mau ada kesalahpahaman di dalam keluarga kalian hanya karena Mba." Pinta Shelina yang membuat Fara seketika merasa sedih memikirkan betapa berat penderitaannya.)
("Tapi Mba kerjanya jadi menejer kan di kafe itu..?" Tanya Fara.)
("Ngga Ra. Mba di sana jadi penyanyi untuk menghibur para tamu." Jawab Shelina yang membuat mata Fara langsung berkaca-kaca.)
("Mba,, bisa ngga Mba berhenti kerja mulai hari ini? Kalau untuk biyaya hidup, aku bisa bantuin Mba." Pinta Fara dengan suara bergetar karena menahan tangisnya.)
("Ngga usah Ra..! Lagian Mba tu sudah terbiasa bekerja mencari uang sendiri. Kalau setiap hari di rumah, Mba merasa sangat bosan. Lagian kerjanya ngga berat ko." Jawab Shelina.)
("Tapi Mba,, kalau sampai ada yang mengenali Mba di tempat kerja, pasti akan menjadi berita yang sangat heboh tentang keluarga Permana." Ujar Fara dengan harapan Shelina mau untuk berhenti kerja.)
("Tidak ada yang akan mengenali Mba. Karena Mba memang tidak di kenali orang. Dan Mba juga usahakan untuk selalu menjaga nama baik keluarga Permana." Ujar Shelina.)
__ADS_1
("Ngomong-ngomong kamu telpon buat apa? Ko tumben?" Tanya Shelina.)
("Aku hanya mau kasih tahu, kalau parfum yang di pesan sama Mba sudah aku kirim hampir satu jam yang lalu." Jawab Fara.)