Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 157. Rencana penjebakan Riyan.


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, tidak ada pembicaraan antara Riyan dan Fara. Riyan hanya fokus mengemudikan mobilnya tanpa melirik Fara sedikit pun. Sedangkan Fara yang merasa lucu dengan sikap suaminya, seketika bingung karena sikap cueknya Riyan sama sekali tidak beralasan menurutnya. Keinginan Riyan untuk segera memiliki anak, membuatnya benar-benar kecewa di saat melihat darah haid Fara tadi di kantornya.


"Mas,, anak itu kan rezeki. Kalau sudah saatnya untuk dia datang, tanpa kita minta pun dia akan hadir di dalam rahimku. Jadi Mas ngga boleh seperti ini." Ujar Fara mencoba membuka percakapan dengan Riyan yang sudah terlihat seperti jalan tol datarnya.


"Aku tahu itu. Tapi aku ingin kasih tahu sama kamu. Kalau kita selesai berhubungan, kamu jangan langsung bangun apalagi berjalan. Nanti usahaku sia-sia." Ujar Riyan tanpa melirik Fara.


"Usaha apa yang sia-sia?" Tanya Fara bingung. Karena dia tidak mengerti tujuan pembicaraan Riyan.


"Usaha untuk memiliki anak." Jawab Riyan datar.


"Aku kan geli Mas. Makanya aku cepat-cepat bersihin." Jawab Fara.


"Itulah kesalahan kamu, sampai kita belum juga bisa memiliki anak." Ujar Riyan.


"Iya,, aku akan berusaha biar usahamu tidak sia-sia lagi." Jawab Fara.


"Nanti malam kamu jadi ikut kan?" Tanya Riyan.


"Kayaknya aku ngga bisa ikut Mas. Aku tu ngga bisa beraktifitas kalau lagi datang bulan. Soalnya seluruh badanku terasa sakit." Jawab Fara.


"Ya sudah,, kalau gitu kamu di rumah saja! Lagian Mas perginya ngga lama kalau ngga ada kamu." Ujar Riyan yang sudah mulai lembut.


Malam itu Riyan pergi sendirian menghadiri acara kampus yang di adakan di sebuah hotel berbintang. Tanpa dia ketahui, ternyata kedua manusia jahat itu sudah menyusun rencana untuk menjebaknya. Dan mereka juga sudah tahu kalau Fara tidak pergi bersamanya dari Arlan, yang tadi sempat menghubungi Riyan. Ternyata Arlan juga ikut terlibat dalam rencana jahat mereka. Namun Arlan melakukan semua itu karena terpaksa. Arlan bersedia membantu Deni demi biaya pengobatan Ibunya yang sedang sakit keras di Indonesia.

__ADS_1


"Hay Yan.. Kamu sendirian?" Tanya Exel setelah Riyan sudah memasuki hotel tempat acara di langsungkan.


"Iya. Soalnya istriku lagi kurang enak badan." Jawab Riyan.


"Ya sudah,, kalau gitu kita langsung duduk saja. Sebentar lagi acaranya sudah di mulai." Ujar Erlando kepada beberapa teman-temannya termasuk Arlan.


Dalam diam Arlan terus melirik ke arah Riyan yang duduk tepat di samping Exel. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sangat tidak tega menghindari sahabat baiknya itu. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa menolak permintaan Deni karena kondisi Ibunya yang semakin memburuk. Dengan raut wajah penuh bersalah, Arlan mulai bergumam di dalam hatinya.


"Yan,, maafkan aku. Aku bukan sahabat yang baik untukmu. Aku hanyalah seorang penghianat yang berpura-pura baik di depanmu. Kamu pasti akan sangat membenciku, apabila mengetahui semua ini. Aku hanya berharap, semua rencana Deni dan Rena gagal tanpa campur tangan ku."


Arlan saat itu benar-benar berada dalam posisi yang sangat sulit. Dia tidak mungkin mengorbankan Ibunya hanya demi persahabatan. Dan dia juga merasa menjadi orang yang paling jahat, karena tega merencanakan suatu kejahatan untuk menjebak sahabat baiknya sendiri.


Hampir dia jam acara berlalu, Riyan dan lainnya langsung bubar dan keluar dari hotel menuju parkiran. Dan di situlah Arlan mulai melakukan tugasnya. Sambil berdiri bersandar di mobil mewah milik Riyan. Arlan pun mulai bersuara.


"Memangnya kenapa?" Tanya Exel.


"Aku tu susah menyiapkan sesuatu di tempat tinggal ku. Aku ingin meminta waktu kalian sebentar untuk ke apartemenku." Jawab Arlan.


"Kayaknya aku ngga bisa. Soalnya istriku sendirian di rumah. Dan dia juga lagi ngga sehat." Sambung Riyan.


"Tolong Yan..! Sebentar saja. Aku janji ngga akan lama." Ujar Arlan dengan tatapan memohon.


"Sebentar saja Yan. Mau ya!" Sambung Erlando.

__ADS_1


"Kita sama siapa ke sana?" Tanya Riyan.


"Semuanya. Termasuk Rena dan lainnya." Jawab Arlan.


"Loh,, kenapa mereka harus ikut?" Tanya Riyan dengan tampang yang terlihat keberatan mendengar nama Rena.


"Aku kan mau buat acara minum-minum buat kita semua." Jawab Arlan.


"Ya sudah kalau gitu. Tapi aku ngga bisa lama." ujar Riya .


Mereka semua pergi menuju apartemen Arlan hanya memakan waktu beberapa menit saja. Karena jarak hotel berbintang itu dengan apartemen Arlan tidak terlalu jauh. Dan di saat itu, Semua rencana mereka sudah di atur dengan rapi oleh Deni dan Rena sejak sore tadi. Arlan hanya di tugaskan untuk membawa Riya. ke apartemennya. Karena di sanalah mereka akan menjalankan apa yang sudah mereka rencanakan.


Sampainya di apartemen Arlan, mereka semua langsung masuk menuju ruangan yang sudah di persiapkan untuk acara yang tadi di katakan oleh Arlan. Melihat beberapa botol minuman yang ada di atas meja, Riyan pun segera menarik nafas panjang, sambil berkata.


"Maaf ya sebelumnya. Tapi aku ngga bisa minum." Ujar Riyan yang membuat Arlan langsung menarik nafas lega tanpa bersuara.


"Kalau gitu biar kamu minum jus saja." Sambung Exel.


"Iya Yan,, ngga enak juga kalau kita minum, sedangkan kamu hanya melihat." Sambung Arlan dengan segera.


"Terserah kamu saja." Jawab Riyan.


Tanpa menunggu lama, Arlan yang sudah merasa lega karena Riyan menolak untuk minum minuman yang ada di atas meja, langsung melangkah ke arah dapur. Dia begitu bersemangat membuatkan segelas jus buat sahabatnya itu. Tapi tiba-tiba, muncul Denis dari balik pintu bagian belakang, dengan membawa sesuatu di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2