
Mentari bersinar dengan begitu cerahnya, menyinari negeri Paman Sam yang terkenal sangat maju. Begitupun dengan wajah-wajah para orang tua yang menghadiri acara wisuda anak-anak mereka, terutama Reza dan Melda. Menyaksikan putra semata wayang mereka lulus dengan nilai tertinggi, menjadi satu kebanggaan yang luar biasa bagi Melda juga Reza sebagai orang tua.
Sedangkan di Indonesia, keluarga Permana sedang sibuk menyiapkan segala persiapan untuk pernikahan Fara dan Riyan. Fara yang setiap hari sibuk melakukan perawatan yang rutin untuk mempercantik dirinya yang akan menjadi ratu semalam, semakin cantik dan mempesona. Kesempurnaan yang dia miliki, semakin menambah rasa percaya dirinya untuk menjadi istri, dari laki-laki tampan yang akan datang menikahinya beberapa hari lagi.
Setelah dua hari menerima gelar sarjana, Riyan langsung mendaftarkan dirinya untuk melanjutkan S2 di universitas yang sama. Dan dia juga terpaksa mendaftarkan Fara sebagai mahasiswi pindahan semester 5 atas perintah orang tuanya.
Apapun bisa di lakukan oleh keluarga Permana dengan kekayaan yang mereka miliki. Semua yang mereka inginkan pasti akan terlaksana. Menjadi Mahasiswi pindahan di universitas bergengsi, bukanlah hal yang mudah. Tapi tidak untuk keluarga Permana. Dengan begitu mudahnya Fara langsung di terima oleh pihak kampus, hanya dengan pendaftaran yang di wakilkan Riyan.
Setelah semua urusan kampus sudah selesai, Riyan dan kedua orang tuanya langsung berangkat ke Indonesia. Riyan terlihat seperti robot yang di kendalikan manusia. Dia sama sekali tidak menunjukan ekspresi seperti calon pengantin pada umumnya. Tapi sikap Riyan yang seperti patung bernyawa, tidak menimbulkan sedikitpun kecurigaan kedua orang tuanya, karena sikap Riyan memang sudah seperti itu semenjak dia masih kecil.
Sampainya di bandara internasional Soekarno, Riyan dan kedua orang tuanya yang sudah turun dari pesawat, langsung melangkah menuju jemputan mereka yang sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu. Fara yang sedang berdiri bersama keluarga besarnya, tidak sabar untuk melihat laki-laki yang akan menjadi suaminya. Dia menatap satu persatu penumpang yang lewat untuk mencari keberadaan Riyan, juga Om dan Tantenya namun belum terlihat sama sekali.
Melda dan Reza yang sudah cukup lama tidak berkunjung ke Indonesia, juga tidak sabar ingin bertemu keluarga mereka. Walaupun sudah menikah dan memiliki seorang putra, namun kasih sayang Reza tidak pernah berubah sedikitpun, terhadap adik perempuannya yang tidak lain adalah calon besannya sendiri. Begitupun dengan Melda, dia begitu bahagia karena akan bertemu keluarga besarnya.
Dari kejauhan, Melda yang sudah melihat anggota keluarganya langsung berkaca-kaca saking bahagianya. Dan tanpa menunggu lama, dia langsung berteriak memanggil Mama dan Papanya dengan nada suara yang bergetar, karena kristal bening sudah meluncur membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Ma... Pa..." Teriak Melda dengan air mata yang bercucuran.
Melihat putrinya yang melangkah dari arah sana dengan pincang, dan menggunakan tongkat di kedua tangannya, membuat hati wanita cantik yang sudah tidak muda itu, seketika di selimuti rasa bahagia juga sedih yang bercampur menjadi satu. Mama Alira begitu merindukan putrinya yang sudah lama terpisah jauh darinya. Dengan air mata yang sudah bercucuran, Mama Alira langsung melangkah menghampiri Melda sambil berkata.
"Putriku sayang,, Mama sangat merindukanmu." Mama Alira berkata-kata dan langsung mencium kening putrinya, kemudian memeluknya dengan begitu erat.
Sedangkan Reza yang berada di samping istrinya, langsung memeluk Aleta adik perempuannya yang sedang menatapnya dengan berlinang air mata. Pemandangan haru itu juga berhasil membuat Fara ikut meneteskan air mata. Dia begitu terharu melihat kasih sayang yang besar dalam keluarganya. Tapi tiba-tiba tatapannya seketika terpana oleh sosok tampan yang melangkah dari arah sana.
Apa maksud tatapan Riyan si beruang kutub itu?
Kebencian Riyan terhadap keluarga Ibunya sudah sangat menguasai dirinya. Ekspresi yang dia tunjukkan, menunjukan betapa dia tidak menyukai pemandangan yang sedang terjadi di hadapannya. Tapi orang-orang yang sedang melepaskan rasa rindu karena perpisahan yang cukup lama, sama sekali tidak menyadari ekspresinya. Karena pada saat itu hanya Fara orang yang fokus menatapnya.
__ADS_1
Ketampanan Riyan dengan sekejap berhasil mencuri hati gadis polos itu. Fara sampai tidak berkedip menatap calon suaminya yang begitu menarik. Rasa yang tiba-tiba menguasai dirinya, membuatnya sampai tidak menyadari ekspresi Riyan yang begitu aneh.
"Riyan.. Suara Aleta memanggil Riyan setelah Riyan sudah berdiri tepat di belakang Reza.
"Iya Tante." Jawab Riyan dengan senyum yang sangat di paksakan.
"Za,, dia sama sepertimu. Sama-sama tenang juga sama-sama datar." Ujar Mama Alira sambil mengusap-usap kepala Riyan yang hanya terdiam seperti patung.
"Iya,, dia memang seperti itu Ma. Malah dia lebih parah dari Reza." Sambung Melda yang membuat semua yang ada di situ jadi tertawa.
"Fara,, lihat tu sikap calon suami kamu! Dia orangnya sangat tenang. Jadi kamu tu harus merubah sikapmu yang ceroboh dan tidak bisa untuk diam!" Sambung Almira sambil tersenyum menatap wajah cantik keponakannya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Almira Tantenya, Fara langsung memasang muka cemberut karena merasa malu kepada Riyan, yang serentak langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat datar seperti jalan tol.
Tatapan Riyan sedikitpun tidak menunjukan rasa suka terhadap Fara, yang sudah tersipu malu karena perkataan Tantenya tadi. Sakit hati karena pemikiran yang salah, telah menutupi mata Riyan sebagai seorang laki-laki dewasa, di saat melihat bidadari cantik yang akan dia nikahi itu.
__ADS_1
Kecantikan yang di miliki Fara selalu memikat para lelaki tapi tidak untuk Riyan. Di dalam hati dan pikiran Riyan, hanya ada rasa benci juga amarah terhadap keluarga Ibunya juga wanita yang akan dia nikahi. Riyan sudah bertekad untuk membalas semua sakit hatinya terhadap Fara. Dan karena itulah sehingga dia tidak pernah menolak perjodohan, yang sudah di sepakati oleh orang tuanya semenjak dia baru berumur dua tahun.