
Di saat Fara sedang kebingungan melihat panggilan di ponselnya, Masuklah Faris dan Alfa menghampiri Melda dan Aleta, yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap Fara yang masih tetap berdiri di depan pintu kamar mandi. Melihat ekspresi wajah putrinya, Faris yang sedikit khawatir dengan keadaan putri kesayangannya itu langsung bersuara.
"Ra,, ada apa nak?" Tanya Faris sambil duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu bersama Alfa.
"Ngga ada apa-apa ko Pa. Aku hanya lagi bingung saja." Jawab Fara tanpa memalingkan pandangan dari layar ponselnya.
"Bingung kenapa?" Tanya Melda segera.
"Ini loh Tan,, aku ko di hubungi sama pihak pengiriman barang." Jawab Fara.
"Ya sudah angkat saja! Biar tahu apa tujuan mereka." Sambung Aleta.
("Halo.." Sapa Fara setelah telponnya tersambung.)
("Halo.. Apa benar ini sama Ibu Fara Permana?" Tanya laki-laki dari balik telpon dengan menggunakan bahasa Inggris.)
("Iya saya sendiri. Ada apa ya Pak?" Tanya Fara dengan menggunakan bahasa Inggris.)
("Begini Bu. Paket yang Ibu kirim ke Indonesia, terpaksa di kirim balik ke sini. Soalnya nomor penerima tidak aktif saat di hubungi." Jawab laki-laki yang sedang berbicara dengan Fara.)
("Ooo begitu ya Pak? Kalau gitu antar saja ke tempat aku sekarang. Nanti aku kirim alamatnya." Ujar Fara dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
Tanpa menunggu lama, Fara langsung mengirimkan alamat tempat dia berada saat itu. Sedangkan beberapa orang yang ada bersamanya, hanya terdiam sambil menatapnya dengan tampang yang terlihat sedikit penasaran. Dan setelah mengirimkan alamatnya, Fara segera melangkah menuju sofa dan duduk tepat di samping Alfa.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" Tanya Aleta dengan tatapan mencari tahu.
"Itu Ma. Kemarin kan aku kirim barang pesanan Mba Shelina. Tapi katanya nomor Mba Shelina ngga aktif saat di hubungi. Jadi mereka kirim balik barang yang aku kirim." Jelas Fara.
"Tapi aku sudah minta mereka untuk antar barang itu ke sini. Nanti kalau Mama pulang, baru Mama yang kasih ya buat Mba Shelina!" Ujar Fara.
"Kenapa harus Mama? Kan ada suaminya. Kasih saja buat Mas kamu itu! Itu kan barang istrinya." Jawab Aleta sambil melirik Alfa yang hanya terdiam seperti patung.
"Iya,, kan ada suaminya. Biar Alfa saja yang bawa pulang barang pesanan istrinya. Anggap saja itu oleh-oleh yang Alfa bawa pulang dari sini buat istri cantiknya itu." Sambung Melda.
"Ra,, Tante mau nanya dong. Kalau menurut kamu, Shelina itu cantik ngga?" Tanya Melda sambil melirik Aleta dan Fara secara bergantian.
"Bukan hanya cantik Tan. Tapi cantik banget. Kita saja kalah cantik sama dia. Kecantikannya tu saingan Oma waktu muda." Ujar Fara sambil melirik Alfa yang sama sekali tidak memperdulikan mereka.
"Alfa,, bagaimana kalau menurut kamu?" Tanya Melda sambil menatap Alfa.
"Biasa saja." Jawab Alfa datar.
"Loh ko biasa saja? Alfa,, jangan terlalu cuek sama istri secantik itu! Di luar sana pasti ada banyak lelaki yang mengagumi kecantikannya. Nyesel kamu nanti kalau sampai dia di rebut orang lain." Ujar Melda yang membuat Alfa semakin mematung.
"Menyia-nyiakan wanita secantik itu adalah tindakan yang sangat fatal. Wanita secantik itu sudah pasti akan menjadi incaran banyak lelaki. Kesabaran seorang wanita itu ada batasnya nak. Kamu harus tahu itu!" Tambah Melda.
Di dalam keluarga Permana, Melda termasuk salah satu yang paling tidak bisa menahan diri di saat ingin mengatakan sesuatu. Dia akan mengatakan apa yang ingin dia katakan, tanpa memperdulikan perasaan orang yang mendengarnya. Karena bagi dia, sesuatu yang salah harus di benarkan sebelum terlambat. Dan sikapnya itu sangat membantu Aleta juga Faris, untuk merubah sikap putra mereka terhadap istrinya. Faris, Aleta juga Fara, hanya saling melirik satu sama lain di saat mendengar apa yang di katakan oleh Melda.
__ADS_1
"Alfa.. Mau dan tidak mau, kamu harus hidup dengan satu wanita seumur hidupmu. Karena di dalam keluarga Permana, tidak ada yang namanya orang kedua dalam pernikahan kita. Terkecuali kematian yang memisahkan kita. Kamu tahu itu kan?" Tanya Melda lagi.
"Iya Tan." Jawab Alfa dengan kepala tertunduk.
"Aku mau keluar sebentar dulu. Mau cari makan." Ujar Alfa dan langsung berdiri, kemudian melangkah keluar meninggalkan beberapa orang yang hanya menatapnya tanpa bersuara.
Alfa yang seketika merasa tertekan dengan sikap Tantenya, langsung memilih untuk duduk di taman RS itu sendirian. Sedangkan di dalam sana, Melda malah merasa sedikit kesal melihat sikap Abangnya yang terlalu santai, menghadapi sikap putranya yang menurutnya sudah sangat salah memperlakukan istrinya.
"Mas,, kamu ko kelihatannya santai banget?" Tanya Melda sambil menatap Faris.
"Santai bagaimana?" Tanya Faris bingung.
"Alfa itu sudah sangat salah Mas dalam memperlakukan istrinya. Semustinya Mas itu lebih tegas lagi! Bukannya diam seperti itu." Ujar Melda dengan tampang datarnya.
"Lalu Mas harus gimana? Mas tu sering memarahinya. Tapi kamu kan tahu sendiri sifat keponakanmu itu." Jawab Faris.
"Dia seperti itu karena mengikuti sifat Mas. Makanya,, jadi laki-laki tu jangan terlalu datar seperti jalan tol. Nanti anaknya juga seperti itu." Ujar Melda.
"Loh,, kenapa Mas yang di salahin? Salahin saja Papa. Sifat Mas kan turun dari Papa." Jawaban Faris yang membuat Melda, Aleta, juga Fara langsung tersenyum mengingat sifat Opa Fahri yang luar biasa dingin.
Faris yang di kenal begitu kejam di saat marah, memiliki segudang kasih sayang terhadap wanita. Dan itu bisa di lihat, saat dia menanggapi perkataan saudara perempuannya. Walaupun Melda menyudutkan dia dengan banyak kata-kata, dia hanya bersikap tenang. Malah dia mencari jawaban tepat untuk membuat adik perempuannya itu bisa tersenyum.
Kasih sayang Faris terhadap Melda juga Almira tidak bisa di ragukan lagi. Sama seperti kasih sayang Reza terhadap Aleta. Apalagi fisik Melda sudah tidak sesempurna dulu, setelah mengalami kecelakaan yang di buat oleh Ayah angkat Shelina. Wanita yang sekarang telah menjadi istri Alfa. Memang Melda sudah bisa berjalan tanpa di bantu dengan alat. Tapi jalannya sudah tidak normal seperti dulu lagi. Dan itulah alasan Faris membuat cacat laki-laki yang telah menyakiti adik perempuannya itu.
__ADS_1