
Sore itu suasana terasa begitu indah, oleh kedua pasangan yang sedang menatap jingga di langit senja. Perasaan akan kedamaian menyelimuti hati kedua pasangan, yang menghabiskan waktu menatap sang Surya yang hampir tenggelam. Suasana romantis itu benar-benar membuat Fara tidak ingin berada jauh dari suaminya, yang terlihat begitu tenang berada di belakangnya. Sedangkan Semi dan istrinya yang juga ingin bermesraan, memilih untuk duduk di tempat terpisah dengan mereka.
"Mas,, kamu suka ngga berada di tempat seperti ini?" Tanya Fara sambil menatap lurus ke depan.
"Suka,, tempat ini begitu sangat indah. Tapi yang lebih aku sukai adalah menatap langit senja." Jawab Riyan yang membuat Fara langsung terdiam.
"Kamu mau tahu mengapa aku sangat menyukai waktu senja?" Tanya Riyan sambil meraih lengan Fara dari arah belakang. Dan Fara hanya mengangguk kepalanya sambil tersenyum menatap ke arah samping.
"Senja itu selalu mengingatkan kita, kalau sesuatu tidak akan ada yang kekal." Ujar Riyan yang membuat Fara seketika murung.
Mendengar kata-kata yang baru saja di lontarkan oleh Riyan, membuat Fara tiba-tiba merasa sangat sedih. Fara yang hidup penuh ketergantungan, sangat takut kehilangan orang-orang yang sangat dia sayangi. Salah satunya Riyan suaminya. Sedangkan Riyan yang tidak sengaja melihat ekspresi Fara, jadi kebingungan dan memilih untuk bertanya.
"Kamu kenapa? Ko kamu tiba-tiba murung? Apa kamu tidak menyukai tempat ini?" Tanya Riyan sambil menatap wajah cantik istrinya yang sudah meredup tak bercahaya.
"Aku tidak mau sendiri." Jawab Fara singkat dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Mengapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu?" Tanya Riyan sambil menarik tangan Fara, untuk duduk di atas pasir putih menghadap ke arah laut yang terbentang luas.
"Aku sangat sedih mendengar apa yang tadi Mas katakan. Kalau semuanya tidak akan ada yang kekal. Aku takut berpisah dengan orang-orang yang aku sayangi." Jelas Fara dengan tampang yang terlihat begitu sedih.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Jadikan apa yang tadi aku katakan sebagai pelajaran hidup. Agar kita tidak pernah tinggi hati dengan semua yang kita miliki. Karena semua itu tidak akan ada yang kekal." Ujar Riyan.
"Jujur,, aku sangat tidak suka melihat kamu cemberut seperti itu. Karena kalau kamu tidak tersenyum, wajahmu itu sangat jelek." Tambah Riyan yang membuat Fara langsung menatapnya tajam.
"Apa... Jelek..? Perasaan,, semua orang yang pernah melihatku tidak pernah ada satupun yang berkata kalau Aku ini jelek. Dan aku juga tidak terima di sebut jelek, karena aku ini wanita yang paling cantik di dalam keluarga Permana." Fara berkata-kata tanpa ekspresi.
"Kamu harus banyak belajar dari senja. Apa yang kamu miliki, itu adalah anugrah tapi bukan untuk di sombong kan." Ujar Riyan dengan tampang datarnya, tanpa menatap Fara yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Loh,, ko kamu marah? Yang marah tu semustinya aku. Kan kamu yang menghina aku." Tanya Fara sambil menatap Riyan yang hanya menatap lurus ke depan.
"Aku tidak marah,, aku hanya ingin kamu lebih dewasa dan lebih merendahkan diri dengan semua yang kamu miliki. Termasuk kecantikanmu. Karena aku ingin memilikimu bukan hanya sekedar melihat kecantikanmu. Tapi aku ingin melihat sikap, juga kerendahan hatimu. Dan itu yang paling utama." Jelas Riyan yang membuat Fara langsung tersenyum.
"Aku akan berusaha menjadi yang kamu inginkan Mas. Aku janji." Fara berkata-kata sambil tersenyum.
"Tapi aku tidak mau kalau kamu merubah semua itu hanya karena aku. Aku ingin semua itu bisa kamu lakukan dari hati." Ujar Riyan sambil menatap Fara yang sudah menatap lurus ke depan.
"Apa kamu mau berjanji untuk melakukan semua itu dari hati?" Tanya Riyan.
"Aku berjanji, akan menjadi wanita yang seperti kamu inginkan. Tapi aku melakukannya bukan semata-mata demi kamu. Tapi demi kebaikanku sebagai istrimu." Jawab Fara yang membuat Riyan langsung memeluknya dan mengecup keningnya, kemudian berbisik.
"Aku tidak memaksamu untuk jadi yang sempurna. Tapi jadilah wanita terbaik di dalam hidupku untuk selamanya." Bisik Riyan di samping telinga Fara sambil memeluk Fara dengan begitu mesra.
"Mas,, ini bukan mimpi kan?" Tanya Fara sambil menyentuh kedua tangan Riyan yang sedang melingkar di perutnya.
"Coba sini tanganmu biar aku gigit. Kalau terasa sakit, berarti ini nyata. Tapi kalau tidak ada rasa, berarti ini hanyalah mimpi." Jawab Riyan sambil menarik sebelah tangan Fara dan di arahkan ke bagian mulutnya. Tapi dengan segera Fara langsung menariknya.
"Apaan sih Mas..? Ya sakit lah.." Ujar Fara dengan wajah cemberutnya.
"Kalau kamu sudah tahu akan terasa sakit, mengapa juga harus bertanya seperti itu?" Tanya Riyan dengan tampang dinginnya.
"Hmmm,, romantisnya tidak bisa bertahan lama kalau seperti ini." Ketus Fara tanpa menatap Riyan.
"Maksud kamu apa berkata seperti itu?" Tanya Riyan dengan tatapan bingung.
"Kamu itu ngga ada pengertiannya sama istri. Aku bertanya seperti itu, biar kamu tu menjawab yang semakin membuatku yakin." Jawaban Fara yang membuat Riyan semakin kebingungan.
__ADS_1
"Jawaban apa sebenarnya yang kamu inginkan?" Tanya Riyan dengan tatapan mencari tahu ke arah Fara, yang sudah memasang wajah datarnya.
"Semustinya kamu tu jawab, ini bukan mimpi sayang,," jawab Fara dengan gaya yang sedikit berlebihan menurut penilaian Riyan.
"Buat apa aku harus menjawab seperti itu? Aku ini bukan laki-laki buaya yang akan berkata-kata konyol seperti itu." Ujar Riyan sambil memalingkan wajahnya dari Fara.
"Hmmm,, kamu itu bukan buaya, tapi beruang kutub." Ketus Fara dengan wajah cemberutnya.
"Semua wanita kan ingin di rayu dengan kata-kata sayang." Tambah Fara.
"Tidak semua wanita sama. Hanya wanita ganjen sepertimu yang selalu ingin di rayu." Ujar Riyan yang membuat Fara jadi kesal, dan memilih untuk pergi tanpa berucap satu katapun.
Melihat ekspresi istrinya yang sudah seperti anak kecil, Riyan langsung menggelengkan kepalanya dan bergegas mengikutinya. Sedangkan Fara yang menyadari kalau Riyan sedang mengikutinya dari belakang, semakin mempercepat langkah tanpa mau menoleh ke arah Riyan.
"Fara.. Kamu mau kemana..?" Tanya Riyan sedikit keras, karena Fara sudah sedikit menjauh di depan sana.
"Aku mau pergi menemui Mba Aurel." Jawab Fara sambil terus melangkah.
"Ya sudah,, kalau gitu aku kembali saja ke villa. Soalnya aku mau beristirahat sebentar." Ujar Riyan yang membuat Fara langsung berbalik dan berteriak dengan kerasnya.
"Mas Riyan..." Teriak Fara yang membuat Riyan kembali berbalik menatapnya, dengan tatapan bingung sambil bertanya.
"Ada apa..?" Tanya Riyan.
"Kenapa kamu mau tinggalin aku sendirian di sini..?" Tanya Fara dengan tatapan penuh kekesalan.
"Kamu kan mau pergi menemui Aurel. Jadi aku mau ke villa saja." Jawab Riyan.
Riyan yang sama sekali tidak mengerti apa yang di inginkan Fara, merasa sangat bingung dengan sikap istrinya. Sedangkan Fara yang merasa kesal dengan sikap acuh suaminya, semakin kesal karena merasa tidak di perdulikan di saat dia ingin di perdulikan.
__ADS_1