Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 187. Bentuk Kasih Sayang.


__ADS_3

Kamar yang tadinya begitu hampa di rasakan oleh Fara berada sendirian tanpa ada yang menemani, seketika berbeda karena keberadaan Riyan. Seikat mawar merah yang di berikan Riyan, membawa kebahagiaan yang tidak terhingga. Keromantisan yang baru di lakukan Riyan, sungguh menyentuh hati Fara yang membuatnya tak kuasa menahan haru bahagia yang menyelimuti hati.


"Mengapa kamu menangis? Apa kamu tidak suka dengan bunga ini?" Tanya Riyan sambil menatap Fara yang sudah tertunduk berlinang air mata sambil memeluk bunga pemberian Riyan.


"Aku suka Mas. Aku sangat menyukai bunga ini. Aku hanya terlalu bahagia." Jawab Fara sambil menghapus air mata di pipinya.


"Apapun yang kamu inginkan, akan aku kasih. Asalkan kamu selalu bahagia. Biar bayi kita yang ada di dalam perutmu, bisa tumbuh dengan baik." Riyan berkata-kata sambil mendekap Fara ke dalam pelukannya.


"Mulai sekarang, kamu harus selalu menjaga diri demi aku dan anak kita. Mungkin ini kesempatan pertama juga terakhir untuk kita bisa memiliki anak. Karena itu yang di katakan Dr Viko." Riyan kembali mencoba mengingatkan Fara apa yang di katakan oleh Dr Viko.


"Iya Mas. Aku akan lebih berhati-hati lagi." Jawab Fara sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Riyan.


"Ya sudah,, kalau gitu aku mandi dulu. Kamu tunggu saja di atas sana!" Ujar Riyan sambil menunjuk ke arah tempat tidur.


Fara yang sudah bersandar di kepala ranjang, tidak berhenti memandang bunga pemberian Riyan yang sudah dia letakan, di samping tempat tidur dengan senyum bahagia menghiasi wajah cantiknya. Suasana hati Fara begitu indah bagaikan bunga mawar yang sedang dia tatap saat itu.


Kebahagiaan tidak hanya di rasakan oleh Fara dan Riyan. Tapi juga seluruh keluarga besar mereka. Tidak lama Riyan meninggalkannya masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara panggilan masuk di ponsel Fara yang dia letakan tepat di sampingnya.


("Halo Ma.." Sapa Fara setelah menjawab panggilan masuk dari Mamanya.)


("Kesayangannya Mama... Mama bahagia banget mendengar kabar baik itu sayang. Kamu harus jaga diri baik-baik! Jangan terlalu banyak bergerak!" Ujar Aleta yang membuat Fara jadi bingung.)


("Ko Mama bisa tahu..? Siapa yang kasih tahu Mama..?" Tanya Fara tanpa basa-basi.)


("Tante kamu yang kasih tahu sayang. Tadi Tante telpon Mama dan memberitahukan kalau kamu sudah hamil." Jawab Aleta yang membuat Fara tidak dapat berkata-kata.)


Di saat Fara sedang terdiam karena tidak tahu harus berkata apa, tiba-tiba dia mendengar suara Omanya yang terdengar begitu kencang menanyakan keadaannya. Dan itu membuat Fara semakin bingung harus bagaimana menghadapi wanita yang satu itu. Karena sebelumnya dia sudah membicarakan dengan Riyan untuk merahasiakan kehamilannya. Dan dia juga belum tahu kalau Riyan yang sudah memberitahukan semuanya, kepada Melda Tante sekaligus Mama mertuanya.

__ADS_1


("Halo Fara..." Suara teriakan Oma Alira yang membuat Fara seketika kaget dan kebingungan.)


("Kamu ko ngga jawab sih sayang..? Apa kamu ngga mau bicara sama Oma kamu yang cantik dan baik hati ini..?" Tanya Oma Alira karena Fara masih belum bersuara.)


Sifat Oma Alira yang heboh dan terkesan centil tidak pernah berubah sejak muda. Dan hal itulah yang selalu membuatnya di rindukan setiap anggota keluarganya yang berada jauh darinya. Fara yang begitu menyayangi sosok wanita luar biasa itu, sudah mulai berkaca-kaca karena tiba-tiba merasa rindu dengan keluarga besarnya yang sudaj lama tidak dia kunjungi.


"Fara,, kamu kenapa bersedih seperti itu?" Tanya Riyan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


("Riyan... Ini Oma.." Suara Oma Alira dari ponsel Fara yang berada dalam genggamannya.)


("Oma.. Ada apa Oma..? Fara ko menangis..?" Tanya Riyan yang membuat Oma Alira semakin mengencangkan suara.)


("Ada apa sama dia Riyan..? Apa yang sudah kamu lakukan sampai dia seperti itu..? Dia tu lagi hamil sayang,, semustinya kamu membuatnya tersebut, bukan menangis." Tanya Oma Alira dengan nada suara tinggi.)


("Aku ngga lakuin apa-apa. Aku baru saja keluar dari kamar mandi." Jelas Riyan.)


"Fara,, ini Oma mau bicara. Kamu jangan nangis dong! Sebenarnya ada apa sama kamu?" Ujar Riyan sambil memberikan ponsel kepada Fara.


("Fara.. Fara kamu kenapa sayang..?" Tanya Oma Alira.)


("Aku rindu sama Oma dan Mama." Jawab Fara dengan suara bergetar menahan tangisnya.)


("Aduh cucu kesayangan Oma... Oma jadi bersedih mendengar jawaban kamu sayang.. Kamu jangan khawatir, Oma dan Mama kamu akan berlibur ke sana. Oma juga akan mengajak Mba Shelina." Ujar Oma Alira mencoba menghibur Fara.)


("Benar ni Oma..?" Tanya Fara bersemangat sambil menghapus air matanya.)


("Iya sayang. Akhir bulan kita berangkat." Jawab Oma Alira.)

__ADS_1


("Tante Almira ikut ngga?" Tanya Fara.)


("Tante kamu itu ngga bisa kemana-mana. Dia terlalu sibuk dengan semua bisnisnya." Jawab Oma Alira.)


("Kalau Oma sama Mama ngga sibuk?" Tanya Fara.)


("Mama kamu juga sibuk. Tapi dia sudah berencana untuk ke Amerika melihat keadaan kalian. Kalau Oma sudah seperti tahanan di dalam rumah. Oma ngga bisa kemana-mana." Jawab Oma Alira dengan nada yang terdengar sedikit aneh.)


("Loh,, memangnya kenapa Oma seperti itu? Apa Oma sudah ngga kuat beraktivitas?" Tanya Fara sedikit khawatir.)


("Oma masih kuat, masih cantik, juga masih awet muda. Tapi Papa kamu ini sudah seperti polisi yang setiap saat mengawasi Oma dan Opa seperti tahanan di Nusakambangan." Jawab Oma Alira yang membuat Fara juga Riyan langsung tertawa lepas.)


("Kalian ko malah tertawa? Apa kalian bahagi mendengar penderitaan Oma karena Papa kalian..?" Tanya Oma Alira kesal.)


("Papa kan sibuk, ko bisa mengawasi Oma dan Opa sampai seperti itu..?" Tanya Fara sengaja mancing Oma Alira.)


("Hmmmm,, sesibuk apapun Papa kamu, dia akan tetap mengawasi Oma. Kalau Opa kamu ngga terlalu di awasi. Opa kamu masih beraktivitas di perusahaan. Tapi kalau Oma, di rumah saja Papa kamu pasang cctv buat mengawasi Oma. Dan itu juga ide dari Tante kamu." Jawab Oma Alira panjang lebar.)


("Tante Almira..?" Tanya Fara.)


("Bukan Tante Almira, tapi Tante Melda. Ibu mertua kamu. Dia yang memberikan ide buat Papa kamu untuk pasang cctv di setiap sudut rumah." Jawab Oma Alira yang membuat Fara dan Riyan saling menatap satu sama lain sambil tersenyum tanpa ada suara.)


("Sudah dulu ya sayang. Oma mau jalan pagi dulu." Ujar Oma Alira dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)


Saking bersemangat mendengar kabar kehamilan Fara, Oma Alira langsung ke rumah Faris dan Aleta di pagi buta di temani seorang penjaga yang bertugas jaga di depan gerbang rumah mewahnya. Dan karena takut di ketahui Faris putranya, Oma Alira segera memilih untuk pulang sebelum Faris terbangun.


Musibah yang pernah menimpa keluarga Permana beberapa tahun yang lalu, menciptakan satu kekhawatiran besar untuk Faris, Almira, Aleta juga Melda terkait keselamatan orang tua mereka. Karena yang selamat dari musibah itu hanyalah Oma Alira dan Opa Fahri. Apalagi banyak sekali saingan bisnis yang tidak senang dengan kesuksesan keluarga Permana.

__ADS_1


Hal itulah yang membuat Faris mengikuti usulan Melda, untuk memasang cctv di setiap sudut rumah besar kediaman Opa Fahri. Biar mereka bisa memantau keadaan orang tua mereka, dari cctv walaupun mereka berada jauh. Selain itu Faris juga memperketat penjagaan kepada kedua orang tuanya. Dan itulah bentuk kasih sayang besar yang dia lakukan, walaupun semua itu malah meresahkan Mamanya, yang tidak bisa tenang berada di dalam rumah setiap hari.


__ADS_2