
("Halo Ma.. Ada apa sampai Mama telpon di jam segini..?" Tanya Fara dengan nada yang terdengar sedikit panik.)
("Mama juga yang lainnya baik-baik saja kan..?" Tanya Fara lagi sebelum Aleta sempat menjawab.)
("Kita baik-baik saja sayang. Mama tu hanya lagi pusing memikirkan sikap Mas kamu. Dan hanya kamu yang bisa Mama berbagi tentang semuanya saat ini. Mama ngga bisa membayangkan, kalau Papa atau Opa Oma kamu sampai tahu kelakuannya. Bisa-bisa dia akan di marahi." Jelas Aleta.)
("Memangnya ada apa sama Mas Alfa Ma?" Tanya Fara penasaran.)
("Ra,, Mas kamu itu tinggalin istrinya di saat malam pengantin mereka. Dia memilih untuk tidur di rumah Mama. Dan dia tinggalkan istrinya sendirian di rumah barunya itu." Jelas Aleta sambil menarik nafas panjang.)
("Lo,, kenapa Mas Alfa lakuin itu Ma..? Mereka kan sudah menjadi suami istri. Kalau seperti itu, mending mereka ngga usah pindah." Ujar Fara dengan sikap yang begitu dewasa.)
("Iya sayang. Mas kamu itu tidak mau percaya kalau wanita yang bersamanya di dalam kamar hotel waktu itu adalah Shelina." Jawab Aleta.)
("Mama ngga tahu lagi harus bagaimana untuk membuatnya percaya. Mama kasihan sama Shelina." Tambah Aleta.)
("Iya Ma,, aku juga jadi bingung sama jalan pikiran Mas Alfa." Ujar Fara.)
__ADS_1
("Ya sudah,, Mama mau ke rumah Mas kamu dulu. Mama mau lihat keadaan Shelina. Kamu jaga kesehatan ya..!" Ujar Aleta.)
("Iya Ma. Mama juga harus jaga kesehatan." Balas Fara dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
"Ada apa sama Mas Alfa?" Tanya Riyan yang sejak tadi hanya terdiam mendengar obrolan Fara, dengan Tante sekaligus Mama mertuanya.
"Mama tu lagi pusing dengan sikap, juga jalan pikiran Mas Alfa. Dia tu ngga mau percaya kalau wanita yang bersamanya, di dalam kamar hotel milik Papa di London itu Mba Shelina. Dan dia juga memilih tidur di rumah Mama di saat malam pengantin mereka. Dia meninggalkan Mba Shelina sendirian di rumah barunya." jelas Fara sambil menatap Riyan.
"Ya kita juga ngga bisa nyalahin Mas Alfa di saat dia bersikap seperti itu. Apalagi waktu kejadian itu dia ngga melihat wanita yang bersamanya di dalam kamar hotel." Ujar Riyan yang membuat Fara semakin bingung.
"Terus gimana Mas..? Mereka kan sudah terlanjur menikah. Dan aku yakin Mba Shelina pasti ngga mungkin berbohong. Dia itu wanita yang baik" Ujar Fara.
"Tapi bukti apa Mas..? Di dalam kamar itu kan gelap. Bukti apa yang bisa Mba Shelina kasih..?" Fara bertanya-tanya dengan tampang kebingungan.
"Kalau menurut aku, yang lebih tepat itu parfum Shelina yang dia pakai di malam itu. Karena biarpun mata Mas Alfa ngga bisa melihat, tapi dia kan bisa menghirup aroma yang ada di dalam kamar itu." Kata-kata Riyan yang membuat Fara langsung menatapnya dengan mata terbuka lebar tanpa bersuara.
"Kamu kenapa tatap aku seperti itu..?" Tanya Riyan karena merasa bingung dengan tatapan aneh Fara yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Ngga salah Mas. Hanya parfum yang bisa di jadikan bukti. Kayaknya Mba Shelina memesan parfum sama aku itu karena ada tujuannya." Ujar Fara dengan tampang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Berarti kamu harus secepatnya menemukan parfum itu. Biar Mas Alfa tidak terlalu jauh menyakiti Shelina karena merasa di bohongi." Ujar Riyan sambil menarik selimutnya dan kembali memejamkan mata.
"Iya,, aku akan berusaha menemukan parfum itu secepatnya." Ujar Fara penuh semangat.
Karena terlalu bersemangat untuk membantu kakak iparnya, Fara jadi tidak bisa untuk tertidur kembali. Setelah hampir setengah jam terlentang dengan mata terbuka di atas tempat tidur, Fara pun akhirnya memilih untuk keluar dari kamar dan melangkah menuju lantai bawah. Pikirannya saat itu tidak terlepas dari parfum yang di pesan oleh Shelina.
"Non,, ko sudah bangun?" Tanya Bi Ira setelah melihat Fara memasuki dapur.
"Aku tadi terbangun karena mendengar suara petir Bi. Dan tidak bisa tidur lagi." Jawab Fara.
"Terus Non mau ngapain? Apa Non butuh sesuatu?" Tanya Bi Ira.
"Aku ngga butuh apa-apa ko Bi. Aku hanya mau menghirup udara segar di luar. Kalau gitu aku pergi dulu ya Bi." Jawab Fara dan langsung melangkah keluar dari dapur.
Fara melangkah menuju taman yang tidak jauh dari apartemen, sambil memikirkan masalah yang sedang di hadapi oleh kakak iparnya. Sebagai seorang wanita, Fara ikut sedih mendengar Alfa memperlakukan Shelina seperti itu. Padahal yang dia tahu, Alfa adalah laki-laki yang sangat menyayangi wanita. Sambil terus melangkah menuju sebuah bangku taman, Fara pun mulai bertanya-tanya sendirian.
__ADS_1
"Mas Alfa ko bisa setega itu sih..? Padahal dia kan selalu baik dengan semua orang. Tapi kenapa dia memperlakukan Mba Shelina seperti itu? Kasihan Mba Shelina. Bagaimana ya keadaannya..?" Fara bertanya-tanya dengan tampang sendu, karena merasa kasihan terhadap Shelina.
Di saat Fara sedang melamun memikirkan nasib Shelina di bangku taman yang begitu indah. Riyan yang baru saja bangun malah sedang sibuk mencarinya, di setiap sudut apartemennya yang begitu besar. Selama beberapa hari ini, Riyan merasa tidak tenang di saat tidak melihat keberadaan istrinya. Apalagi di saat bangun pagi. Saat di Indonesia, dia juga bersikap sama, di saat dia terbangun dan tidak ada Fara di sampingnya.