Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 168. Sikap Jail Riyan.


__ADS_3

Pagi itu udara begitu dingin menembus tulang. Riyan dan Fara yang begitu nyaman di balik selimut yang menghangatkan tubuh mereka, tidak bergeming sama sekali. Kesakitan Riyan seakan hilang seketika, setelah merasa puas di layani oleh istri cantiknya semalam. Dekapannya terhadap Fara tidak terlepas, walaupun mata hari sudah mulai menembus masuk dari balik jendela kamar. Namun beberapa menit kemudian, Fara yang sudah mulai merasa sesak dengan pelukan suaminya, mulai membuka mata dan meraih pergelangan tangan Riyan sambil bersuara.


"Mas,, Mas Riyan bangun Mas! Ini sudah pagi. Mau sampai kapan kamu memeluk aku seperti ini?" Ujar Fara sambil mengangkat muka menatap Riyan, yang masih terus memejamkan mata.


"Sebentar lagi sayang. Aku masih ingin memelukmu." Jawab Riyan tanpa membuka matanya.


"Tapi aku mau ke dapur Mas. Aku mau lihat Mama sama Ibu. Mereka pasti sudah berada di dapur bersama para Bibi." Ujar Fara sambil berusaha melepaskan lingkaran tangan Riyan di tubuhnya.


"Memangnya kamu mau ngapain di dapur? Apa yang bisa kamu lakukan di sana?" Tanya Riyan dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


"Karena aku ngga bisa apa-apa, jadi aku harus berada di dapur. Biar aku bisa belajar masak untuk kamu." Jawab Fara.


"Kamu ngga bisa masak juga ngga apa-apa. Itu bukan masalah buat aku." Riyan berkata-kata sambil membalikan tubuhnya menatap loteng.


"Mas,, semua laki-laki kan suka istri yang bisa masak. Dan itu juga kan satu kewajiban istri." Ujar Fara sambil menatap wajah tampan di sampingnya.


"Tidak semua laki-laki seperti itu. Contohnya aku yang tidak pernah mempermasalahkan biarpun kamu ngga bisa masak. Cuman satu yang aku mau dari kamu." Ujar Riyan sambil melirik ke arah Fara yang sedang menatapnya.


"Asalkan kamu selalu ada di sampingku. Seperti saat ini. Dan dengan keadaan seperti ini" Jawab Riyan sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Apa-apaan sih Mas..? Jadi laki-laki tu jangan terlalu mesum!" Ujar Fara dan langsung bergegas bangun, sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun.


"Semua itu kebutuhan. Dan itu adalah sumber kebahagiaan orang yang sudah berumah tangga. Terutama para suami." Jelas Riyan dengan begitu santainya.


Mendengar apa yang di jelaskan suaminya, Fara langsung buru-buru turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Fara benar-benar bingung dengan jalan pikiran Riyan yang tidak terlepas dari hal seperti itu. Padahal semalaman mereka menghabiskan seperdua malam, hanya untuk melakukan hubungan suami istri. Sampai-sampai Fara terkapar tanpa ada daya di atas tempat tidur.


Melihat sikap Fara yang terlihat seperti orang ketakutan, Riyan langsung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia sengaja menggoda Fara dengan pembicara seperti tadi, karena ingin melihat reaksi Fara yang menurutnya sangat lucu, setiap kali dia membahas tentang hal itu di saat mereka sudah melakukannya. Fara yang selalu kalah di saat pertempuran berlangsung, terlihat cemas di saat Riyan menyinggung tentang apa yang sudah mereka lakukan.


"Apa-apaan sih Mas Riyan..? Masa ngga ada puas- puasnya..? Apalagi setelah kecelakaan itu sangat aneh. Dia terlihat tidak seperti orang yang sedang sakit. Malah terlihat seperti orang yang sedang kerasukan setan." Fara berkata-kata sendirian, di dalam kamar mandi dengan tampang kebingungan.

__ADS_1


Sedangkan di bawah sana, para orang tua mereka sudah berkumpul di ruang keluarga menunggu mereka berdua, sambil membahas tentang sikap Alfa yang tiba-tiba berubah aneh. Perubahan sikap Alfa, malah membuat Aleta juga Melda sangat bahagia. Mereka berdua begitu bersemangat membahas perubahan sikap Alfa, tanpa memperdulikan para suami mereka, yang sudah seperti patung di samping mereka masing-masing.


__ADS_2