
Selama berada beberapa hari di Malaysia, Riyan tidak pernah lupa menghubungi Fara untuk menanyakan kabar istri cantiknya, maupun memberitahukan kepadanya juga kedua orang tuanya. Yang tidak lain adalah Om juga Tante istrinya sendiri. Tapi sejak kemarin malam, Riyan tidak memberikan kabar untuk Fara yang begitu cemas memikirkan keadaannya. Bahkan nomor Riyan maupun kedua orang tuanya tidak bisa di hubungi oleh Fara.
"Ra,, kamu ko melamun sejak tadi?" Tanya Anita saat menemani Fara ke toilet Kampus.
"Aku ngga apa-apa ko Nit. Cuman sedikit lemas saja. Mungkin karena kurang tidur." Jawab Fara tanpa menatap Anita yang sedang melangkah di sampingnya menuju toilet.
"Ya sudah. Kamu tunggu di sini ya!" Ujar Fara dan langsung melangkah masuk ke dalam toilet.
Melihat keadaan Fara, Anita sangat yakin kalau sedang terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu. Tapi dia juga tidak ingin banyak bertanya, karena dia berpikir mungkin Fara punya masalah pribadi yang tidak bisa dia ceritakan.
Di dalam toilet, Fara yang baru selesai buang air kecil berdiri menatap cermin menatap bayangannya sambil bergumam di dalam hati.
"Mas,, sebenarnya kamu di mana? Apakah kamu sesibuk itu sampai tidak bisa menghubungi aku walau hanya lewat pesan singkat?"
Fara benar-benar khawatir memikirkan suami tercinta yang berada jauh di sana. Namun dia tetap mencoba untuk tenang walau dari raut wajahnya begitu menunjukkan keresahan hatinya saat itu. Selesai membersihkan tangannya, Fara pun segera keluar menemui Anita yang sedang menunggunya di depan pintu toilet.
"Ra,, kita langsung ke kantin ya!" Ujar Anita setelah mereka sudah melangkah meninggalkan toilet.
"Iya Nit." Jawab Fara tanpa ekspresi.
__ADS_1
Fara yang di kenal begitu ceria terlihat berubah drastis di hari itu. Dam sikapnya membuat beberapa teman-temannya jadi bingung. Fara yang duduk tepat di samping kursi kosong, hanya terdiam dengan tatapan kosong tanpa arah. Tapi tiba-tiba dia di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Halo semuanya... Apa kita bisa bergabung?" Tanya Fero. Mahasiswa pindahan yang memiliki wajah tampan juga sifat yang ramah.
"Boleh ko,, buat cowok-cowok ganteng seperti kalian apa sih yang ngga boleh,,?" Jawab Priscil dengan segera.
"Dasar ganjen.." Ketus Anita yang membuat orang-orang yang ada di sampingnya langsung menertawai wanita polos itu.
"Ra,, kamu kenapa sih Ra? Ko kamu kelihatannya aneh hari ini?" Tanya salah seorang teman laki-laki mereka yang datang bersama Fero dan tiga orang lainnya.
"Aku ngga apa-apa ko. Mending kita langsung makan saja. Biar kita ngga telat masuk ruangan." Jawab Fara dan segera menarik sepiring nasi goreng yang ada di depannya.
Setelah kembali ke ruangan, Fara tiba-tiba menghilang dari dalam ruangan tanpa ada yang mengetahui keberadaannya. Anita yang mulai menghawatirkan keadaan Fara, langsung bertanya kepada Priscil setelah menyadari kalau Fara tidak ada bersama mereka.
"Aku ngga tahu. Aku juga ngga lihat dia pergi dari sini. Apa jangan-jangan dia sudah pergi setelah selesai makan dari kantin tadi." Jawab Priscil dengan segera.
"Coba hubungi dia!" Sambung Fero yang berada dekat Anita.
("Halo Ra... Kamu di mana..?" Anita segera bertanya setelah telponnya tersambung.)
__ADS_1
("Nit,, aku sudah dalam perjalanan pulang. Maaf karena aku ngga kasih tahu kalian tadi. Aku tiba-tiba sakit kepala, makanya aku langsung memutuskan untuk pulang." Jawab Fara.)
("Iya Ra. Ngga apa-apa. Nanti aku izin buat kamu. Jangan lupa istirahat ya Ra!" Anita mencoba mengingatkan Fara dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
"Dia di mana Nit..? Apa dia baik-baik saja..?" Tanya Fero dengan tampang yang terlihat begitu khawatir.
"Dia sudah dalam perjalanan pulang. Soalnya kepalanya tiba-tiba sakit." Jawab Anita.
Fero yang baru mengenal Fara, bersikap sangat aneh saat mendengar keadaan Fara dari Anita. Dari raut wajahnya terlihat rasa khawatir yang dia rasakan. Dan sikapnya itu tentu saja membuat bingung beberapa orang yang ada di sampingnya.
"Fero,, kamu kenapa berekspresi seperti itu saat mendengar keadaan Fara?" Tanya salah seorang mahasiswa yang juga dekat dengan Fero.
"Aku hanya khawatir saja sebagai seorang sahabat. Apa seorang sahabat ngga boleh punya rasa khawatir?" Jawab Fero dengan segera.
"Ngga ada salahnya ko. Tapi aku hanya mau ingatkan kamu, kalau wanita tercantik di Kampus kita itu, sudah bersuami. Dan suaminya kakak tingkat kita. Seorang pengusaha muda yang sangat sukses." Ujar Bima salah seorang mahasiswa asal Indonesia.
"Aku tahu itu. Siapa juga yang punya niat buruk? Aku hanya khawatir saja karena kita kan teman." Jawab Fero.
"Iya benar banget apa kata Fero. Sebagai teman kita harus punya rasa peduli." Sambung Priscil.
__ADS_1
"Sudah-sudah..! Dari pada kalian membahas sesuatu yang ngga ada ujungnya, mending kita atur jam untuk ke tempat Fara nanti malam." Sambung Anita yang membuat teman-temannya langsung setuju dan bersemangat. Terutama Priscil juga Fero walau dia tidak bertingkah aneh seperti tadi.
Sebagai laki-laki yang sempurna, tidak ada yang tidak tertarik ataupun menyimpan rasa simpati terhadap wanita secantik dan sebaik Fara. Begitupun dengan Fero, mahasiswa pindahan yang kebetulan satu ruangan dengan Fara. Hal itu juga yang di alami semua laki-laki yang ada di dalam ruangan itu. Tapi setelah mengetahui status Fara dan siapa suaminya, mereka langsung merasa sangat tidak pantas untuk mengharapkan sesuatu yang lebih.