Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 123. Kepanikan Riyan.


__ADS_3

Rasa cinta yang begitu besar, membuat Fara di bakar api cemburu menyaksikan laki-laki yang sangat dia cintai, berpelukan dengan wanita lain tepat di hadapannya. Hanya air mata yang bisa menggambarkan betapa besar kekecewaan Fara saat itu. Dengan bercucuran air mata, Fara menaiki taksi tanpa arah tujuan. Yang dia pikirkan saat itu hanyalah ingin menjauh dari orang-orang dia kenali. Terutama suaminya, yang sama sekali tidak perduli dengan perasaannya.


"Mau kemana Nona..?" Tanya supir taksi sambil melajukan mobilnya tanpa tujuan.


"Jalan saja Pak..!" Jawab Fara sambil menatap keluar melewati kaca mobil dengan penuh kesedihan.


Fara begitu sakit atas luka yang baru saja di torehkan oleh Riyan. Dia tidak menyangka Riyan akan menghianati pernikahan mereka. Apalagi dengan wanita yang sudah Fara curigai. Sambil berusaha menahan tangisnya, Fara pun mulai bergumam di dalam hatinya.


"Apa kurangnya aku Mas..? Semua sudah ku berikan padamu. Itu karena aku sangat percaya dan sangat mencintaimu. Tapi kamu tega membodohi ku, dengan alasan kalau dia hanyalah pacar dari sahabatmu. Kamu telah menghancurkan kepercayaan ku dalam waktu sekejap."


Melihat kondisi Fara yang tidak henti meneteskan air mata, supir taksi yang sedang mengemudi seketika merasa khawatir, dan kembali memilih untuk bersuara.


"Nona,, apa anda baik-baik saja..?" Tanya supir taksi itu sambil memperhatikan Fara dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.


"Aku baik-baik saja Pak." Jawab Fara dan buru-buru menghapus air matanya.


"Terus aku harus antar Nona kemana..?" Tanya supir itu lagi, yang membuat Fara langsung teringat kalau dia sama sekali tidak punya uang, untuk membayar ongkos taksi yang sedang dia naiki itu.


"Aku turun di sini saja Pak." Jawab Fara dengan tampang yang terlihat kebingungan.


"Baik Nona." Jawab supir taksi itu.

__ADS_1


"Pak,, aku minta maaf ya.. Sebenarnya aku tu ngga punya uang buat bayar ongkos taksi. Soalnya aku tadi lupa bawa dompet. Tapi aku punya ponsel ko. Bapak bisa pegang ini sebagai jaminan. Nanti aku ambil lagi." Fara berkata-kata dengan tampang penuh bersalah.


"Aduh Nona,, gimana ya..? Sebenarnya aku juga ngga tega kalau harus ambil ponsel Nona. Tapi aku tu harus bayar setoran." Ujar supir taksi itu dengan tatapan kasihan, kepada Fara yang sedang berdiri di samping mobilnya.


"Ngga apa-apa Pak... Pegang saja ponsel aku! Yang penting di jaga, jangan sampai hilang. Nanti aku akan ambil secepatnya." Ujar Fara sambil menyerahkan ponselnya kepada supir taksi yang kira-kira berusia 50 tahun itu.


Tanpa ada pegangan juga tanpa tujuan, Fara melangkahkan kakinya menyusuri jalan dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca. Apa yang di lakukan suaminya tadi, kembali terbayang-bayang di dalam ingatannya. Dan di saat menyadari kalau dia sama sekali tidak mengetahui arah jalan yang sedang dia lalui saat itu, seketika timbul kepanikan di dalam hatinya. Fara yang sudah mulai kebingungan, hanya menatap ke sekelilingnya sambil berkata-kata.


"Astaga... Di mana aku sekarang..? Aku mau kemana ini..? Aku sama sekali tidak tahu arah." Fara berujar dengan tampang penuh kecemasan.


Sedangkan Riyan yang masih berada di Kampus, terlihat begitu panik mencari keberadaan Fara ke setiap sudut Kampus. Namun jejak Fara sama sekali tidak terlihat. Dengan raut wajah panik, Riyan pun bersandar di samping mobilnya sambil bergumam di dalam hatinya.


"Ya Tuhan.. Apa yang sudah aku lakukan..? Kemana perginya Fara..? Dia pasti sangat kecewa melihat aku berpelukan dengan Rena tadi. Tapi kenapa dia harus pergi tanpa mau mendengar penjelasan ku..? Dia benar-benar wanita yang sangat ceroboh."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang..? Aku yakin Fara pasti tidak tahu arah jalan pulang. Apalagi dia tidak membawa uang sedikitpun. Kemana kamu Fara...? Mengapa kamu tidak mau menjawab teleponku..?" Riyan berkata-kata sambil mencakar-cakar rambutnya dengan tampang yang terlihat begitu cemas.


Karena tidak menemukan keberadaan Fara, akhirnya Riyan pun memutuskan untuk berangkat ke perusahaannya, tanpa memberitahu teman-temannya yang sedang menunggunya di dalam ruangan. Di dalam perjalanan menuju perusahaannya yang bergerak di bidang otomotif, Riyan yang sedang melajukan mobilnya terus mencari keberadaan Fara di sepanjang jalan. Tapi Fara tetap tidak terlihat. Dan hal itu membuatnya semakin bertambah cemas.


"Kamu di mana Fara..? Mengapa kamu begitu bodoh..? Mengapa kamu tidak bisa menanyakan apa yang kamu lihat tadi, sebelum mengambil keputusan seperti ini..?" Tambah Riyan yang sudah semakin tidak bisa untuk tenang.


Sampainya di perusahaan, Riyan di sapa setiap karyawannya dengan penuh hormat seperti biasa. Tapi dia sama sekali tidak menjawab ataupun menoleh ke setiap orang yang menyapanya itu. Dan sikapnya itu benar-benar membuat semua karyawannya jadi bingung dan bertanya-tanya..

__ADS_1


"Pak Riyan kenapa sih..? Ko dia ngga jawab sapaan kita..?" Tanya salah seorang pegawainya.


"Ngga tahu juga. Mungkin dia lagi ada masalah." Sambung yang lainnya.


"Sudah-sudah..! Kalian kerja saja..!" Sambung Semi asisten Riyan, yang tidak sengaja mendengar pembicaraan beberapa pegawai, di saat dia baru keluar dari dalam ruangannya.


Dengan buru-buru Semi yang belum sempat melihat keadaan Riyan, langsung menghampiri Riyan yang sudah berada di dalam ruang kerjanya. Karena pintu tidak tertutup rapat, Semi langsung masuk setelah beberapa kali mengetuk. Melihat ekspresi Riyan yang terlihat aneh, membuat Semi ikut bingung dan memilih untuk segera bertanya.


"Pak Riyan,, apa ada masalah..?" Tanya Semi sambil melangkah mendekat ke arah Riyan, yang sudah duduk menghadap meja kerjanya.


"Aku lagi pusing mencari keberadaan Fara. Entah dia pergi ke mana?" Jawab Riyan yang membuat Semi semakin bingung.


"Apa Ibu Fara tidak ada di Kampus? Hari ini kan, hari pertama Ibu Fara masuk Kampus." Tanya Semi sambil menatap Riyan yang sama sekali tidak menatapnya.


"Tadi dia di Kampus. Tapi karena melihat aku di peluk sahabatku, dia langsung marah dan pergi tanpa bilang mau pergi kemana." Jelas Riyan yang membuat Semi seketika bergumam di dalam hatinya.


"Pak Riyan,,, Pak Riyan,,, orang yang lagi marah mana mau kasih tahu,,? Makanya,, kalau sudah beristri itu, jangan mau di peluk sana sini."


Semi yang juga ikut menyalahkan perbuatan atasannya itu, hanya berani berkomentar dengan suara hatinya. Sedangkan Riyan yang melihat Semi terdiam tanpa memperdulikan dirinya, seketika jadi kesal.


"Sem... Kamu kok diam..? Ngomong dong aku harus bagaimana..?" Ujar Riyan sambil menatap Semi dengan tampang kesalnya.

__ADS_1


"Ya ngga ada jalan lain selain mencari keberadaan Ibu Fara. Apalagi Ibu Fara itu baru di Amerika. Aku takut dia akan kesasar. Apalagi satu minggu yang lalu, ada berita pembunuhan seorang wanita di samping jalan pada malam hari." Semi berkata-kata sengaja membuat Riyan semakin khawatir.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh asistennya itu, Riyan semakin khawatir dan terlihat panik memikirkan istrinya yang entah ada di mana. Sambil mencakar-cakar rambutnya sendiri, Riyan mondar-mandir tanpa ada suara. Dan hal itu membuat Semi yang merasa berhasil membohongi Riyan dengan berita yang sama sekali tidak ada, jadi tersenyum sambil berbalik membelakangi Riyan yang sudah sangat tidak tenang.


__ADS_2