
Malam itu keadaan di apartemen Riyan begitu ramai dengan kedatangan teman-teman Fara. Mereka datang dengan satu tujuan yaitu ingin menghibur Fara, yang sejak siang tadi terlihat murung dengan alasan yang tidak pasti. Fara yang terlihat begitu tidak bersemangat, mencoba untuk tersenyum menyambut kedatangan teman-temannya walaupun dari raut wajahnya terlihat jelas beban yang ada di dalam dirinya.
"Ra,, apartemen kamu mewah banget ternyata." Ujar salah seorang teman laki-laki Fara yang baru pertama kali datang ke tempat Fara.
"Mana ada anak orang kaya yang tinggal di tempat sederhana? Apalagi dia punya suami seperti Kak Riyan. Pengusaha muda yang paling sukses." Sambung Anita.
"Kamu terlalu berlebihan Nit. Biasa saja ko." Tutur Fara.
Mereka yang baru pertama kali datang di tempat Fara hanya kebingungan melihat setiap sudut apartemen Fara yang sudah seperti sebuah hotel berbintang. Namun Fara hanya bersikap santai menanggapi mereka. Apalagi saat itu pikirannya sedang terganggu karena belum juga mendapatkan kabar dari Riyan.
"Ra,, bagaimana kalau kita karoke? Sepi banget rasanya kalau kita hanya mengobrol seperti ini." Ujar Anita mencoba mencari cara untuk menghibur Fara.
"Iya benar-benar. Aku juga ingin bernyanyi." Sambung Priscil setelah di beri kode oleh Anita.
"Ayo kita ke ruang karaoke!" Ajak Fara yang langsung melangkah pergi.
"Sebenarnya ada apa sama dia?" Bisik Priscil tepat di samping Anita.
"Aku juga ngga tahu. Apa mungkin dia lagi hamil?" Tanya Anita dengan nada yang hampir tidak terdengar.
"Maksud kamu apa?" Tanya Nadi salah seorang teman Fara.
"Jangan-jangan dia lagi ngidam. Makanya dia malas untuk melakukan apapun." Jawab Anita.
Setelah beberapa jam berada di ruang karaoke, ekspresi Fara masih tetap sama. Dan hal itu membuat Anita semakin yakin kalau Fara memang tidak enak badan mungkin karena pengaruh hamil. Karena tidak ingin membuat Fara semakin kelelahan, akhirnya Anita pun meminta kepada teman-temannya untuk segera pergi dari apartemen Fara. Dengan alasan waktu sudah semakin larut.
"Kita pulang sekarang yuk!" Ujar Anita.
"Sebentar lagi dong! Aku kan belum sempat bernyanyi." Sambung Baim, salah seorang taman mereka.
"Tapi ini sudah larut. Fara juga pasti mau berisi. Nanti kapan-kapan kita datang lagi." Ujar Anita.
"Ya sudah,, kalau gitu kita pulang saja. Kelihatannya Fara sudah sangat ngantuk." Sambung Fero.
__ADS_1
"Besok kamu ke Kampus kan Ra?" Tanya Fero sebelum meninggalkan ruang karaoke.
"Aku belum bisa pastikan. Nanti aku lihat." Jawab Fara sambil berdiri dari tempat duduknya.
Setelah kepergian teman-temannya, Fara langsung melangkah menuju lift untuk naik ke lantai atas. Sedikitpun bayangan Riyan tidak terlepas dari ingatannya. Malah dia semakin mencemaskan suaminya yang tidak kunjung memberi kabar.
"Mas,, mengapa kamu tidak menghubungiku? Aku tu cemas banget." Fara berkata-kata sambil meraih foto pernikahannya di atas meja tempat di samping tempat tidur.
Dengan penuh kecemasan, Fara terlelap sambil memeluk foto pernikahannya. Kabar Riyan yang tidak dia ketahui selama dua hari berlalu, membuatnya sampai tidak bisa untuk berkonsentrasi dalam melakukan aktivitasnya.
Tepat pukul 4:30 dini hari, Fara terbangun karena merasa haus. Dia melangkah menuju dapur dengan rambut terurai namun tetap terlihat cantik. Dan di saat dia keluar dari dapur setelah selesai minum segelas air, tiba-tiba dia mendengar ketukan pintu yang membuatnya seketika langsung kaget.
"Siapa yang mengetuk pintu di jam segini? Apa mungkin itu orang jahat?" Fara bertanya-tanya di dalam hatinya dengan tampang yang mulai terlihat panik.
Tanpa menunggu lama, Fara yang sudah berpikiran buruk segera melangkah hendak menaiki tangga. Namun tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Dengan buru-buru dia pun langsung menjawabnya dan kembali melangkahkan kaki menaiki tangga.
("Halo... Siapa ini..?" Tanya Fara tanpa melihat siapa yang menelponnya.)
("Apa secepat ini kamu lupa dengan suamimu sendiri?" Suara yang membuat Fara langsung terdiam dengan perasaan yang tidak bisa untuk di artikan dengan kata-kata.)
Dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, Fara langsung mempercepat langkahnya menuju pintu. Keceriaan Fara yang meredup sejak kemarin seketika terpancar melihat kedatangan suaminya. Tanpa berkata-kata, Fara pun segera memeluk Riyan sambil berkata-kata.
"Mas,, mengapa kamu membuatku khawatir? Kamu tidak mengabari ku sama sekali. Aku tu sampai ngga bisa melakukan apa-apa." Ujar Fara dengan air mata yang sudah menetes di dalam pelukan Riyan.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin memberimu kejutan sayang. Karena kamu sudah memberiku semangat baru di dalam hidupku." Jawab Riyan sambil melangkah masuk bersama Fara yang masih terus memeluknya.
"Maksud kamu apa Mas?" Tanya Fara bingung sambil melepaskan pelukannya.
"Kamu juga pasti akan tahu." Jawab Riyan singkat namun membuat Fara semakin bingung dan penasaran.
"Mas,, apa-apaan sih kamu? Jangan buat aku bingung dong." Ujar Fara dengan kening berkerut.
"Mending sekarang kamu siapkan makanan buat aku. Aku tu lapar banget." Riyan berkata-kata sambil menggandeng tangan Fara melangkah menuju dapur.
__ADS_1
Sampainya di dapur, Fara pun langsung buru-buru menyiapkan makanan buat Riyan yang sudah duduk di depan meja makan. Karena belum ada makanan yang di masak, Fara pun akhirnya menyiapkan beberapa bahan makanan mentah dan bergegas untuk memasaknya.
Riyan yang hanya terdiam di depan meja makan, terlihat begitu aneh. Tatapannya tidak terlepas sedikit pun dari Fara yang sama sekali tidak menyadarinya. Senyum yang mengembang di wajah kaku Riyan sangat mengandung arti. Karena laki-laki dingin itu tidak mudah untuk tersenyum.
"Mas,, kamu ko aneh?" Tanya Fara sambil meletakkan makanan yang baru saja dia masak di depan Riyan.
"Kamu kenapa sih Mas? Apa bisnis kamu mendapatkan keuntungan besar?" Tanya Fara lagi karena Riyan tidak bersuara.
"Lebih dari itu. Lebih berharga dari apapun." Jawaban Riyan yang membuat Fara semakin kebingungan.
"Jawaban kamu ko ngga jelas banget." Ujar Fara yang sudah duduk menghadap Riyan.
"Nanti kamu juga akan tahu. Sekarang aku mau makan dulu. Karena setelah ini ada pekerjaan berat yang ingin aku selesaikan." Jawab Riyan dan langsung menyantap makanan yang sudah berada di depannya.
"Memangnya pekerjaan kamu belum selesai juga? Mas,, kamu ko kerja tanpa mengenal waktu sih? Kapan kamu punya waktu banyak buat aku?" Protes Fara yang mulai kesal dengan kesibukan suaminya.
"Papaku juga pengusaha seperti kamu. Opa juga begitu. Tapi mereka punya banyak waktu untuk keluarga." Gerutu Fara yang memiliki Riyan langsung tersenyum.
"Pekerjaan aku sudah selesai. Tapi pekerjaan yang satu ini harus aku selesaikan pagi ini juga." Tutur Riyan setelah selesai makan.
"Pekerjaan apaan?" Tanya Fara dengan tatapan mencari tahu.
"Pekerjaan menggarap ladang." Jawab Riyan.
"Sejak kapan kamu punya ladang? Mana ada ladang di tempat ini?" Tanya Fara bingung.
"Di tempat ini memang ngga ada ladang, tapi aku punya ladang sendiri yang kapan saja bisa aku garap." Jawaban yang penuh teka-teki dari Riyan.
"Aku bingung banget sama kamu Mas." Ujar Fara yang mulai kesal dengan sikap Riyan.
"Ayo kita ke kamar. Aku sudah tidak bisa tahan lebih lama lagi untuk menggarap ladangnya. Apa selama aku ngga ada, ladangnya sudah kamu rawat?" Ujar Riyan sambil melingkarkan tangan di bagian perut Fara dari arah belakang, dan meraba ladang yang dia maksud sejak tadi.
"Mas,, kamu ko mesum banget? Siapa yang membuatmu jadi seperti ini?" Tanya Fara yang sudah mengerti maksud pembicaraan suaminya sejak tadi.
__ADS_1
"Kamu yang membuatku jadi seperti ini. Aku hampir tidak bisa tidur karena selalu memikirkannya." Jawaban Riyan yang membuat Fara langsung mencubitnya.
#Buat pembaca novel aku,, aku ingin meminta waktu kalian sebentar untuk mampir di channel YouTube aku. Jangan lupa subscribe, like dan komen. Di sana aku ingin membagikan pengalaman aku menjadi seorang penulis yang mendapatkan gaji di luar dugaan. Nama channel YouTube aku. "IRSAL IPA.