Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 118. Hadiah Yang Luar Biasa.


__ADS_3

Selesai makan Fara kembali naik ke kamar bersama suaminya, yang belum sempat bersiap-siap walaupun sudah selesai mandi. Di saat Riyan sedang sibuk mengenakan pakaiannya yang sudah di siapkan Fara di atas meja, Fara malah lagi sibuk merapikan riasan wajahnya karena merasa kurang maksimal setelah selesai sarapan. Melihat tingkah istrinya yang menurutnya sedikit berlebihan, Riyan pun langsung bersuara.


"Fara,, kamu itu mau ke kampus. Bukan ke acara sampai harus berdandan seperti itu." Ujar Riyan dengan ekspresi yang begitu datar.


"Aku hanya merapikannya Mas. Biar terlihat maksimal kecantikan ku." Jawab Fara santai.


"Berlebihan tahu ngga?" Ketus Riyan yang merasa ada yang aneh dengan suaminya.


Sikap Riyan yang selalu cuek dengan apapun yang di lakukan oleh Fara, tiba-tiba terlihat begitu posesif. Hal itu seketika membuat Fara jadi kebingungan, dan merasa lucu dengan tingkah aneh suami kakunya itu. Sambil terus merapikan riasan wajahnya dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya, Fara pun mulai bertanya dengan lirikan menuju Riyan yang sudah berdiri di sampingnya.


"Ada apa sama kamu sih Mas? Kamu ko aneh?" Tanya Fara.


"Yang aneh itu kamu. Mau ke Kampus saja hebohnya setengah mati." Ketus Riyan.


"Ya biasalah Mas,, wanita.." Sambung Fara dengan tatapan lurus ke depan.


"Wanita ganjen." Ketus Riyan dan langsung melangkah menuju pintu.


"Mas... Kamu mau kemana..? Ko aku di tinggalin?" Tanya Fara sambil berbalik menatap Riyan tanpa berdiri dari tempat duduknya.


"Aku tu mau ke kantor sebelum ke Kampus. Kamu nanti saja pergi di antar supir." Ujar Riyan dan langsung berlalu pergi.


"Mas... Mas Riyan... Iiiih.. Ko sama Pak Anton sih? Aku kan maunya pergi sama dia. Memangnya suamiku buat Pak Anton?" Fara berteriak memanggil Riyan namun Riyan sama sekali tidak memperdulikannya.


Selesai berdandan, Fara langsung turun menuju lantai bawah menggunakan lift. Dari ekspresi wajahnya, Fara terlihat begitu kesal dengan apa yang di lakukan oleh Riyan. Dan setelah keluar dari pintu lift, dia pun langsung di sambut oleh Pak Anton yang sudah siap mengantarnya ke Kampus.


"Nona,, apa kita mau pergi sekarang?" Tanya Pak Anton.

__ADS_1


"Iyalah Pak. Masa tahun depan?" Jawab Fara sambil berlalu di hadapan Pak Anton yang seketika tersenyum tanpa suara.


Dalam perjalanan menuju Kampus, Fara yang duduk di bangku bagian belakang, hanya terdiam dengan tampang yang sangat tidak bersemangat. Semangatnya pagi tadi yang membuatnya begitu heboh memaksimalkan penampilannya, kini redup seperti cuaca di hari itu, karena awan hitam telah menutupi matahari di atas sana. Melihat sikap majikannya, Pak Anton yang memiliki sifat humoris, langsung berpikir untuk bersuara.


"Non,, apa Non merasa ada sesuatu yang aneh?" Tanya Pak Anton yang membuat Fara seketika jadi kaget.


"Aneh bagaimana Pak? Bapak jangan buat aku takut deh..!" Ujar Fara dengan tatapan mata yang terlihat sedikit panik.


"Aku tu rasa seperti ada sesosok yang tidak biasa di dalam mobil ini." Jawab Pak Anton yang membuat Fara seketika jadi merinding.


"Apaan sih Pak..? Jangan seperti itu dong Pak. Aku kan takut.." Ujar Fara sambil menatap ke sekelilingnya.


"Sebenarnya sosok seperti apa sih yang Bapak rasakan?" Tanya Fara lagi.


"Sosok bidadari." Jawab Pak Anton.


"Di mana? Di mana ada sosok bidadari..?" Tanya Fara bingung.


"Iya benar. Aku mau lihat. Ada di mana?" Tanya Fara dengan tampang serius.


"Coba Non lihat di kaca spion! Di sana ada wajah bidadari." Jawab Pak Anton.


Dengan segera Fara pun langsung menatap ke arah spion yang ada di atas kepala Pak Anton. Dan di saat melihat wajahnya sendiri, Fara seketika tersenyum sambil berkata.


"Pak Anton ini bisa saja. Tapi makasih ya Pak.. Karena hari ini orang pertama yang memujiku adalah Pak Anton. Tenang saja Pak. Pujian Bapak bukan cuma-cuma saja. Aku akan bayar pujian mahal ini." Ujar Fara yang membuat supirnya itu langsung bersemangat.


"Hadiah.. Hadiah apa..?" Tanya Pak Anton dengan harapan akan mendapatkan sejumlah uang.

__ADS_1


"Baju kemeja." Jawab Fara yang membuat Pak Anton langsung berhayal kalau dia akan di belikan baju mahal. Seperti yang biasa di beli orang kaya pada umumnya.


"Nanti kemejanya di beli di mana Non?" Tanya Pak Anton dengan segera.


"Siapa bilang mau beli?" Tanya Fara yang membuat Pak Anton jadi kebingungan.


"Tadi kan Non bilang mau kasih hadiah kemeja." Jawab Pak Anton dengan tampang kebingungan.


"Iya hadiah kemeja,, tapi bukan di beli. Aku akan kasih hadiah kemejanya Mas Riyan. Tapi tunggu sebentar malam setelah dia tidur." Jawab Fara yang membuat Pak Anton semakin kebingungan.


"Loh,, kenapa harus tunggu Mas Riyannya tidur?" Tanya Pak Anton.


"Biar aku bisa mencuri kemejanya yang mau aku kasih ke Pak Anton. Kalau tidak bagaimana aku bisa mencurinya dari dalam lemari?" Jawab Fara yang membuat Pak Anton langsung terdiam seketika sambil bergumam di dalam hatinya.


"Astaga... Aku kira di beliin baju mahal. Padahal di kasih baju mahal hasil curian barang suaminya sendiri."


Pak Anton yang tadinya begitu semangat dan sedikit heboh, dengan hadiah yang mau di berikan Fara karena pujiannya, jadi terdiam dengan tatapan lurus ke depan tanpa ekspresi. Sedangkan Fara yang sudah kembali bersemangat karena pujian Pak Anton, sedang memikirkan bagaimana caranya dia dapat mencuri kemeja suaminya, untuk di berikan sebagai hadiah atas pujian Pak Anton.


"Pak,, aku turun dulu ya.. Tapi benarkan aku secantik bidadari?" Fara kembali bertanya setelah turun dari mobil tepat di parkiran Kampus.


"Hmmmm... Jawab Pak Anton sambil melirik Fara sekilas. Dan apa yang di lakukan Pak Anton itu membuat Fara jadi bingung.


"Loh,, ko jawabannya seperti itu? Tadinya Pak Anton bilang aku secantik bidadari. Tapi lirikan Pak Anton barusan seperti sedang melihat setan." Protes Fara yang sedikit tidak terima dengan jawaban juga lirikan Pak Anton.


"Non itu cantiiik bangat.. Bukan hanya seperti bidadari, tapi juga seperti putri Raja." Ujar Pak Anton dengan tampang yang terlihat begitu terpaksa.


"Gitu dong.." Ujar Fara dan langsung melangkah meninggalkan Pak Anton yang sedang menatapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Walaupun sedikit keberatan dengan hadiah yang mau di berikan oleh Fara, namun Pak Riyan pun jadi merasa lucu dengan tingkah dan pikiran konyol majikannya itu. Tapi Pak Riyan juga sangat mengagumi kebaikan Fara yang begitu tulus sama seperti suaminya. Padahal mereka berdua terlahir dari keluarga kaya raya, yang sangat di segani dalam kalangan pengusaha.


Setelah Fara sudah tidak terlihat, Pak Anton segera memilih untuk pulang. Dia memutuskan untuk mengawasi Fara sampai dia memasuki pekarangan Kampus. Karena itulah yang di pesan oleh Riyan yang saat itu sedang berada di kantornya. Itulah aktivitas Riyan setiap harinya. Sebelum berangkat ke Kampus, dia terlebih dulu singgah di kantornya untuk melihat kehadiran para pegawainya.


__ADS_2