
Kedatangan Deni benar-benar membuat Arlan kaget dan merasa sangat tertekan. Dia yang tadinya sudah merasa lega, kembali khawatir setelah Deni muncul di belakangnya. Apalagi melihat sesuatu yang ada di tangan Deni.
"Den,, kamu ngapain di sini?" Tanya Arlan bingung bercampur gugup.
"Aku hanya ingin memastikan kalau apa yang sudah kita rencanakan, berjalan dengan baik." Jawab Deni.
"Jus apa yang kamu buat untuk Riyan?" Tanya Deni yang membuat Arlan semakin salah tingkah.
"Jus lemon kesukaannya." Jawab Arlan.
"Masukin ini ke dalamnya! Untung saja Rena cepat mengajariku lewat pesan singkat. Dan untung juga aku sudah menyiapkan ini sejak siang tadi, dan sudah berada di sini sebelum kalian sampai di sini." Ujar Deni yang membuat Arlan tidak dapat melakukan apa-apa.
Tanpa menjawab apa-apa, Arlan akhirnya memsukan apa yang di berikan oleh Deni ke dalam jus yang dia buat untuk Riyan. Kemudian dia kembali melangkah menuju ruangan depan, meninggalkan Deni sendirian di dalam dapur. Sambil menatap Riyan dari jarak beberapa meter, Arlan pun mulai berkata-kata di dalam hatinya.
"Ya Tuhan,, bagaimana ini? Aku benar-benar tidak berdaya untuk menyelamatkan Riyan dari jebakan Deni dan Rena. Mengapa mereka begitu jahat terhadap kedua orang yang tidak berdosa seperti Riyan dan istrinya?"
"Arlan,, kamu ko lama banget di dapur? Jus apa yang kamu buat sampai selama itu?" Tanya Erlando.
"Aku tadi lama karena mencari jeruk." Jawab Arlan berbohong dengan tampang yang terlihat sangat aneh.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih bro? Ko tampang kamu aneh?" Sambung Exel.
"Ngga apa-apa. Aku baik-baik saja ko." Jawab Arlan sambil meletakan jus yang dia bawa ke hadapan Riyan yang lagi sibuk dengan ponselnya.
"Kalau gitu mulai saja acara minumnya. Aku udah ngga tahan ni." Ujar Erlando yang memang sangat hobi mengkonsumsi alkohol.
Tanpa berlama-lama, mereka langsung menuangkan minuman ke dalam gelas masing-masing. Sedangkan Riyan yang tidak fokus dengan teman-temannya, sama sekali tidak menyentuh jus yang ada di depannya. Melihat sikap Riyan, Rena dengan segera memberikan kode kepada Arlan untuk membuat Riyan meminum jus yang dia buat.
"Yan,, ayo kita minum!" Ujar Arlan yang membuat Riyan langsung menatapnya.
"Oke,, aku juga sudah sangat kehausan ni." Jawab Riyan dan langsung meminum jus yang ada di depannya.
"Yan,, apa kamu mau tambah jusnya?" Rena mencoba membuka suara karena melihat Riyan tidak bereaksi apa-apa.
"Ngga,, sudah cukup ko." Jawab Riyan.
Sedangkan Arlan yang masih khawatir dengan Riyan, terus melirik ke arah Riyan dengan perasaan penuh kecemasan. Dalam diam dia sedikit bingung dengan sikap Riyan yang tidak terlihat aneh setelah beberapa menit meminum jus yang sudah di campur obat. Dan tiba-tiba, mereka semua langsung terdiam, di saat mendengar suara dering telepon genggam milik Riyan yang ada di dalam saku jasnya.
("Halo Bi." Sapa Riyan setelah telponnya tersambung dengan begitu santai.)
__ADS_1
("Den,, belum pulang juga?" Tanya pembantunya.)
("Belum Bi. Memangnya ada apa?" Tanya Riyan.)
("Non Fara kesakitan Den. Sejak tadi dia menjerit karena perutnya sakit." Jawab pembantunya.)
("Ya sudah,, kalau gitu aku pulang sekarang." Ujar Riyan dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Riyan, raut wajah Rena seketika berubah aneh. Sedangkan Arlan yang sangat mengharapkan kegagalan rencana Deni dan Rena, langsung menarik nafas dalam-dalam. Arlan sangat bersyukur karena Riyan akan segera pulang tanpa dia bertindak. Dan dia juga sangat merasa lega melihat sikap Riyan yang sama sekali tidak berubah setelah meminum jus buatannya.
"Aku duluan pulang ya!" Ujar Riyan sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Loh,, ko buru-buru sih Yan? Sebentar lagi." Ujar Rena berusaha menahan Riyan.
"Iya Yan,, ko buru-buru?" Sambung Arlan, namun di dalam hatinya berharap agar Riyan cepat pergi meninggalkan apartemennya.
"Aku harus pulang sekarang. Istriku lagi menungguku di rumah. Aku duluan ya!" Ujar Riyan dan langsung melangkah pergi.
Setelah Riyan melangkah keluar dari apartemen Arlan, Rena langsung menatap Arlan dengan tatapan serius sambil memberikan kode. Dan dengan santainya Arlan hanya mengangkat kedua bahunya, mengisyaratkan kalau dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan Riyan.
__ADS_1