
Hanya dalam hitungan detik setelah Riyan mengucapkan janji kepada Anton, mata Anton pun seketika terpejam dengan senyuman yang terpancar dari wajahnya. Melihat senyum di wajah sahabatnya, seketika ketenangan pun di rasakan Riyan. Dalam diam dia bersyukur karena bisa menghibur Anton dalam keadaan seperti itu. Namun tiba-tiba, dia di kaget kan oleh suara seorang Dr yang ada di sampingnya.
"Dia telah tiada." Ujar Dr itu menggunakan bahasa Inggris.
"Apa...? Apa yang anda katakan..?" Tanya Riyan dengan mata terbuka lebar saking kagetnya.
"Maafkan kami Pak. Kami juga berharap yang terbaik untuk setiap pasien yang masuk ke RS ini. Tapi takdir ada di tangan Tuhan." Dr itu mencoba menyampaikan semuanya dengan sangat tenang.
"Jangan Dok.. Jangan biarkan dia pergi..! Dia harus mencari putranya Dok..." Riyan berkata-kata dengan nada terdengar kencang sambil menarik-narik lengan Dr itu.
Suara Riyan yang terdengar sampai ke luar, membuat Faris juga Reza yang baru saja tiba di depan ruang UGD jadi panik. Setelah saling menatap satu sama lain, Reza langsung mendorong pintu ruang UGD dan masuk tanpa menunggu lama. Begitupun dengan Faris.
"Riyan... Ada apa ini...?" Tanya Reza yang begitu terkejut melihat kondisi putranya.
"Yah,, Anton sudah pergi Yah.. Dia tidak bisa bertahan karena mengalami pendarahan di otak." Jawab Riyan dengan bercucuran air mata.
__ADS_1
Sebagai orang yang lebih dewasa, Reza maupun Faris sangat mengerti keadaan Riyan. Apalagi Reza sebagai Ayahnya. Selain itu Reza juga sangat merasa bersalah atas kepergian Anton. Karena tidak secara langsung Anton sudah menyelamatkan nyawanya.
"Yan,, tenanglah! Mungkin inilah takdir untuknya." Ujar Reza sambil mengusap-usap punggung Riyan.
"Aku harus mengabulkan semua yang dia minta. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuknya." Ujar Riyan sambil menatap wajah Anton dengan berlinang air mata.
"Pak,, tolong keluar dulu! Soalnya kita harus memindahkan jenazah ke kamar mayat." Ujar Dr yang menangani Anton.
"Ayo Yan! Kita bicarakan semuanya di luar saja." Ajak Reza dan Faris secara bersamaan.
"Yan,, kamu jangan seperti ini! Kamu harus bisa tenang. Karena kita harus mencari keluarga Anton juga mengurus semuanya." Ujar Reza.
"Selain putranya, dia masih memiliki seorang kakak laki-laki yang ada di Jerman.?" Jawab Riyan sambil menghapus air matanya.
"Apa kamu punya nomor telepon kakaknya?" Tanya Faris dengan segera.
__ADS_1
"Aku tidak punya Om. Aku saja baru tahu dari dia tadi, kalau dia punya kakak di Jerman." Jawab Riyan.
"Kalau begitu semua tanggung jawab kita. Kita harus mengurus semuanya. Selain dia tidak punya siapa-siapa, dia juga sudah menjadi korban, demi keselamatan Fara juga Ayahmu." Ujar Faris.
"Iya Om,, aku sangat kasihan sama Anton. Di hari terakhirnya, dia tetap tidak bisa bertemu putranya." Riyan kembali berkata-kata dengan kepala tertunduk menahan kesedihannya.
"Aku harus menemukan putranya, dan membawanya pergi ke Jerman menemui kakaknya. Karena itulah permintaan Anton untuk yang terakhir kalinya.?" Tambah Riyan.
"Om tahu di mana putranya berada sekarang. Tadi Om sudah menyuruh polisi untuk menanyakan semuanya, kepada orang yang sudah menembak Anton. Kebetulan para polisi sudah berhasil menangkapnya." Kata-kata Faris yang membuat Riyan langsung berbalik menatapnya tajam.
"Siapa orang itu Om..?" Tanya Riyan yang seketika penasaran dengan ucapan Faris.
"Siapa lagi kalau bukan orang yang kamu curigai." Jawab Faris.
Mendengar jawaban Faris, Riyan seketika mengepalkan tangannya menahan amarah, karena merasa di tipu dan di khianati oleh orang yang sudah dia tolongin. Dia tidak menyangka orang yang telah dia angkat dari jalanan, untuk di pekerjakan sebagai supir pribadi Fara, adalah penjahat yang datang dengan sebuah rencana jahat.
__ADS_1
Di balik sikap cueknya, Riyan ternyata orang yang sangat baik dan berhati mulia. Ada beberapa orang pekerja di apartemen maupun di kantornya, adalah orang-orang yang dia angkat dari jalanan. Dia tidak pernah bisa tenang melihat orang kesusahan. Namun tanpa dia sadari, kebaikannya itu malah menjadi sebuah malapetaka besar.