
Suasana di dalam mobil begitu riuh dengan percakapan antara Fara dan Aurel istri Semi, yang sama-sama banyak tingkah dan hobi berbicara seperti Fara. Mereka berdua terlihat begitu dekat walaupun baru saling mengenal. Mungkin karena mereka memiliki karakter yang sama, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk menjalin keakraban sebagai sesama wanita.
Riyan dan Semi yang saat itu duduk di bangku mobil bagian depan, hanya terdiam dan saling melirik satu sama lain, melihat istri-istri mereka yang tidak berhenti berbicara sejak pertama bertemu. Riyan yang tidak suka banyak bicara sering merasa risih, di saat melihat orang yang banyak berbicara. Namun kali itu dia merasa sangat senang melihat Fara begitu ceria, mendapatkan seorang sahabat. Apalagi Aurel orangnya sangat dewasa, dalam menanggapi pertanyaan Fara yang begitu banyak.
"Mba,, selama hidup di Amerika, apa Mba pernah merasa kesepian karena jauh dari keluarga?" Tanya Fara.
"Awalnya sih iya. Tapi dengan berjalannya waktu, aku sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Karena aku pun sadar, terlepas menjadi seorang anak, aku sekarang sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti suamiku, kemanapun kakinya melangkah." Jawab Aurel yang sama-sama berasal dari Indonesia.
"Memangnya kamu merasa kesepian?" Tanya Aurel balik.
"Aku sih ngga kesepian, cuman sedikit terbebani saja. Soalnya aku tu ngga bisa melakukan apa-apa sebagai seorang istri." Jawab Fara.
"Itu hal yang wajar. Kenyataannya kan, Mba Fara terlahir dan di besarkan dalam keluarga yang serba ada. Tapi aku yakin, Mba Fara pasti bisa melakukan tugas sebagai seorang istri dengan berjalannya waktu." Ujar Aurel mencoba menghibur Fara yang terlihat seketika murung.
Melihat raut wajah Fara dari kaca spion yang ada di atas kepalanya, membuat Riyan merasa kasihan dengan istri cantiknya itu. Tapi dia tidak tinggal diam. Tanpa menoleh Riyan pun mencoba untuk menyemangati istrinya.
"Bukan hanya kamu wanita yang tidak bisa melakukan tugas sebagai seorang istri. Asalkan kamu mau belajar, kamu pasti bisa melakukan semua yang tidak bisa kamu lakukan. Dan untuk apa juga kamu mau memikirkan hal itu? Semua pekerjaan rumah kan ada yang mengurusnya." Sambung Riyan tanpa menoleh ke arah belakang.
"Iya Bu,, Ibu Fara tu ngga perlu repot-repot. Semua kan bisa di kerjakan sama pembantu." Sambung Semi.
"Kayanya ngga enak deh kalau aku di panggil Ibu terus. Lagian kan aku lebih muda. Jadi panggil saja aku Fara. Dan aku panggil Mas Semi. Bagaimana?" Ujar Fara.
"Aku ngga enak kalau panggil dengan sebutan itu. Soalnya anda kan istri dari atasanku." Jawab Semi sambil terus mengemudi.
"Ngga apa-apa. Atasan atau bawahan, kita tu sama-sama manusia yang memiliki derajat sama. Kalau Mas Semi ngga mau panggil namaku, panggil saja aku Mba Fara. Sama kaya Mba Aurel." Ujar Fara.
__ADS_1
"Ngga apa-apa ni Pak Riyan?" Tanya Semi sambil melirik ke arah Riyan, yang hanya tersenyum menanggapi perkataan istrinya.
"Itu lebih bagus. Dan satu lagi. Mulai saat ini angan pernah panggil aku Pak! Panggil saja aku Riyan. Lagian kamu lebih tua dua tahun dari aku." Ujar Riyan yang membuat Semi jadi bingung.
"Ya ampun Pak Riyan. Ngga mungkin aku berani memanggil nama anda. Biar bagaimanapun, aku tu harus menghargai anda sebagai atasan." Ujar Semi yang secara tidak langsung menolak perkataan Riyan.
"Kalau gitu Mas Riyan saja." Sambung Fara.
"Ngga..ngga.. Aku tetap panggil dengan sebutan Pak Riyan. Kalau Ibu Fara, aku akan panggil dengan sebutan apa saja yang anda inginkan." Ujar Semi sambil menggelengkan kepalanya menolak.
"Terserah kamu saja." Sambung Riyan.
Percakapan di antara mereka terlihat sangat asyik. Sampai-sampai mereka tidak sadar kalau sudah tiba di villa yang mereka tuju. Setelah melihat villa beberapa meter di depan mereka, baru mereka sadar kalau mereka sudah tiba di tempat yang selalu di buru banyak pasangan, sebagai tempat berbulan madu.
"Iya ya? Ko aku ngga sadar?" Sambung Semi sambil tersenyum.
"Mana mana..?" Tanya Fara dan Aurel serempak sambil menatap mencari keberadaan villa tersebut.
"Itu di depan." Jawab Riyan.
"Waaao.. Indah bangat pemandangannya. Pokoknya sebentar malam aku mau tidur." Ujar Fara dengan tatapan penuh kekaguman ke arah villa dan sekelilingnya.
"Mengapa kamu ngga mau tidur?" Tanya Riyan bingung.
"Aku mau menikmati suasana indah ini sepanjang malam. Besok kan kita sudah kembali ke Amerika. Jadi aku ngga mau menyia-nyiakan waktu malam ini." Jawab Fara tanpa menatap Riyan, yang sedang memperhatikannya dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.
__ADS_1
Riyan yang merasa tidak di perhatikan oleh ketiga orang yang ada di sekelilingnya, tidak melepaskan pandangan dari bayangan Fara yang ada di kaca spion. Dia merasa sangat senang mendengar perkataan Fara barusan, kalau dia tidak ingin tidur malam ini. Dengan tatapan mata yang begitu tajam, Riyan pun mulai berkata-kata di dalam hatinya.
"Baguslah kalau kamu tidak ingin tidur malam ini. Karena aku akan jadikan malam ini sebagai malam bulan madu pernikahan kita."
Tanpa Fara sadari, Riyan sangat menantikan momen di malam yang akan datang. Dia memilih untuk menghabiskan malam terakhir mereka di villa, karena ada alasan tertentu yang tidak pernah dia katakan kepada siapapun, termasuk Fara. Sedangkan Fara yang sudah sangat heboh dengan keindahan pemandangan di sekitar villa, langsung buru-buru turun bersama Aurel dari dalam mobil, tanpa memperdulikan suami mereka masing-masing.
Dengan penuh semangat, Fara dan Aurel langsung berlari memasuki pekarangan villa, dan segera mengabadikan gambar mereka, di beberapa bagian yang sangat indah pemandangannya. Setelah beberapa gambar di ambil, Fara langsung berlari menghampiri Riyan yang baru memasuki pekarangan villa sambil berkata.
"Mas,, kita foto yuk!" Ujar Fara sambil menarik tangan Riyan.
"Tunggu dulu.. Kita kan baru sampai." Ujar Riyan menolak.
"Mas,,, ayo..! Kalau sebentar nanti ngga jadi lagi." Rengek Fara sambil terus menarik tangan Riyan.
"Ya sudah. Tapi ngga bisa lama." Ujar Riyan dengan sangat terpaksa.
"Sebentar saja,, tapi mukanya jangan gitu dong,,! Nanti ketampanan kamu ngga maksimal." Ujar Fara sambil menarik tangan Riyan untuk mengikutinya.
Riyan yang sangat sulit untuk tersenyum, berdiri dengan ekspresi yang begitu datar. Sedangkan Fara yang begitu bersemangat, sama sekali tidak perduli dengan tampang suaminya, yang terlihat sangat tidak rela melakukan semua itu.
"Sudah siap?" Tanya Aurel yang sedang mengarahkan kamera ke arah mereka.
"Tunggu bentar Mba! Mas,, ayo dong senyum,,!" Ujar Fara sambil menatap Riyan yang hanya membeku di sampingnya. Akhirnya dengan terpaksa Riyan pun akhirnya tersenyum. Asalkan semuanya cepat selesai.
__ADS_1