Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 82. Perasaan Bagaikan Jingga Di Langit Senja.


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Fara terus berpikir tentang perkataan wanita di hotel Riyan tadi. Rasa gengsi yang masih ada di dalam dirinya, sejenak membuat dia sedikit ragu mengikuti anjuran wanita itu, untuk menyusul Riyan ke Australia. Namun Rindu yang tak terbendung, semakin kuat sehingga mengalahkan gengsi di dalam dirinya. Sambil menatap ke arah luar melewati kaca mobil, Fara pun mulai berkata-kata di dalam hatinya.


"Aku tidak boleh merasa gengsi untuk menyusul Mas Riyan. Dia kan suamiku. Jadi tidak ada salahnya aku menghampirinya."


Fara berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk mengikuti kata hatinya, dan membuang rasa gengsinya. Senyum manis yang telah meredup semenjak kepergian Riyan, kini terlihat kembali di wajah cantiknya setelah mendapatkan ide dari wanita itu.


Tanpa menunggu lama, Fara yang sudah tidak sabar ingin menemui suaminya, langsung memutuskan untuk menghubungi penjaga apartemen Riyan, dan memintanya mengurus semua yang dia perlukan untuk berangkat ke Australia. Fara merasa sangat lega karena sudah menemukan jalan keluar untuk masalah yang sedang dia hadapi.


Di balkon kamar sebuah hotel mewah, terlihat sosok yang begitu gagah, sedang berdiri di sana dengan tatapan yang sangat kosong. Rindu yang semakin merasuki pikiran Riyan, membuatnya tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Bayangan jelita yang selalu terbayang-bayang di dalam pikiran Riyan sangat menyiksa batinnya saat itu.


"Mengapa rindu ini sangat menyiksa? Apa dia juga sedang tersiksa karena merinduiku? Atau dia malah merasa lega dengan kepergian ku?" Riyan bertanya-tanya sendirian sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Perasaan Riyan maupun Fara saat itu bagaikan jingga di langit senja, yang sangat merindukan datangnya mentari pagi. Riyan yang tidak pernah terlena akan perasaan cinta, kini benar-benar terpuruk oleh perasaannya yang terlanjur mencintai Fara.


Di saat Riyan sedang termenung menahan rasa rindu yang menyiksa, Fara malah sedang bersemangat menyiapkan segala keperluannya, untuk berangkat ke Australia menyusulnya. Dengan senyum ceria yang terpancar dari wajah cantiknya, Fara terlihat begitu sibuk memasukan satu persatu pakaian, dan perlengkapan lainnya ke dalam koper yang ada di atas tempat tidurnya.


"Non,, Non Fara mau kemana?" Tanya Bi Sari yang baru saja masuk ke dalam kamar Fara.


"Aku mau menyusul Riyan ke Australia Bi." Jawab Fara dengan senyum ceria menghiasi wajah cantiknya.


"Dengan siapa Non Fara mau ke sana?" Tanya Bi Sari bingung.


"Aku pergi sendiri saja BI." Jawab Fara tanpa menatap Bi Sari yang sudah berdiri di sampingnya.


"Non ngga takut pergi ke sana sendirian?" Tanya Bi Sari dengan tatapan mencari tahu.

__ADS_1


"Aku sudah hafal beberapa negara luar Bi,, termasuk Australia. Keluarga aku tu, setiap liburan pasti berangkat ke luar negeri." Jawab Fara yang membuat Bi Sari terdiam dengan tampang penuh kekaguman.


Jauh di sana, Riyan terlihat sangat tidak bersemangat menjalankan aktifitasnya. Dia hanya terlentang di atas tempat tidur dengan bertelanjang dada setelah selesai mandi. Dia terlihat begitu lesu dengan beban pemikiran, yang teramat sangat berat memikirkan masalah rumah tangganya.


"Tok... Tok... Tok..." Suara ketukan pintu dari arah luar.


"Siapa...?" Tanya Riyan kasar karena merasa terganggu


"Saya Pak." Jawab suara asistennya dari arah luar.


"Masuk..!" Suara Riyan yang terdengar sedikit pelan setelah mengetahui kalau yang ada di luar itu asistennya.


"Ada apa..?" Tanya Riyan setelah asistennya masuk ke dalam kamar tanpa menatap asistennya.


"Aku makan di kamar saja. Suruh mereka antar makananku ke sini." Ujar Riyan sambil menatap asistennya, dengan tampang yang terlihat sangat tidak bersemangat.


Asisten Riyan yang bernama Semi, merasa sangat bingung dengan ekspresi Bosnya yang tidak biasa. Riyan tidak pernah terlihat seperti itu selama ini. Dan Semi yang sudah bekerja selama beberapa tahun dengannya, sangat mengenal sifat juga sikapnya. Namun sampai saat itu, dia sendiri belum mengetahui pernikahan Riyan dan Fara.


"Pak,, apa Bapak baik-baik saja?" Tanya Semi dengan tatapan mencari tahu ke arah Riyan.


"Aku baik-baik saja." Jawab Riyan tanpa menatap Semi.


Mendengar jawaban Riyan, Semi langsung melangkah pergi tanpa ingin bertanya lagi. Walau sebenarnya dia sangat penasaran dengan tingkah Riyan selama dua hari ini. Semi memilih untuk turun ke lantai bawah karena ingin memesan makanan kesukaan Riyan.


Cinta yang telah bersemi di dalam hati Riyan, telah melemahkan semangat Riyan dalam melakukan apapun. Dia yang tidak pernah serius dalam menjalin hubungan dengan beberapa wanita selama ini, telah terjebak dalam hubungan yang awalnya tidak dia inginkan sama sekali. Dan setelah semuanya sudah seperti itu, barulah Riyan sadar arti sebuah hubungan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aku bisa gila kalau terus seperti ini. Apa aku selemah ini hanya karena masalah hati?" Riyan bertanya-tanya sendirian sambil memikirkan dirinya, yang begitu tidak berdaya karena cinta.


"Aku harus bisa mengendalikan diriku. Bagaimana aku bisa bekerja kalau setiap detik selalu memikirkan istriku? Apa semua laki-laki yang sudah menikah sama sepertiku?" Tanya Riyan lagi karena sudah mulai merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Riyan yang sudah di bodohi oleh hati dan pikirannya yang tidak pernah lepas dari Fara, memutuskan untuk mempertanyakan situasi dan keadaannya saat itu, kepada Semi yang kebetulan sudah berumah tangga hampir 10 tahun. Sebenarnya dia tidak ingin ada yang tahu tentang masalahnya. Namun belenggu di hatinya membuat dia merasa semakin terjebak dan tak berdaya.


"Aku harus mempertanyakan semua yang aku rasakan ini kepada Semi. Karena dia sudah sangat berpengalaman dalam berumah tangga." Kata-kata Riyan yang hampir tidak terdengar.


"Pak,, ini makanannya." Ujar seorang pegawai wanita di hotel itu, sambil melangkah menuju meja yang ada di samping tempat tidur Riyan. Dan Semi yang selalu setia untuk melayani Riyan, juga ada di belakang wanita itu.


Riyan yang begitu fokus dengan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, sama sekali tidak memperdulikan dua orang yang ada di dalam kamar itu. Jangankan untuk bersuara, melirik saja tidak dia lakukan saking serius dengan masalah yang sedang dia hadapi.


"Kamu boleh pergi." Ujar Semi setelah wanita cantik itu, meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja.


Setelah wanita itu pergi meninggalkan mereka, Semi langsung berpikir untuk memancing Riyan, yang terlihat hanya seperti patung sejak tadi. Semi ingin memuji wanita cantik itu, untuk melihat ekspresi Riyan sebagai seorang laki-laki yang sempurna. Dia ingin memastikan kalau Bosnya itu masih memiliki rasa terhadap wanita. Karena semi merasa sangat aneh dengan sikap Riyan, yang terus termenung seperti sedang memikirkan masalah yang sangat berat.


"Pak,, menurut Bapak wanita tadi cantik kan?" Tanya Semi sambil menatap Riyan yang hanya tertunduk sejak tadi. Namun Riyan sama sekali tidak menjawab. Dan itu membuat Semi semakin bingung juga khawatir. Sambil melirik Riyan dengan lirikan yang aneh, Semi pun mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Apa yang terjadi sebenarnya sama Pak Riyan? Apa jangan-jangan dia ini manusia jadi-jadian yang menyerupai Bos aku." Semi berkata-kata dalam hati dengan tampang yang terlihat aneh.


"Pak,, Pak Riyan,, apa anda benar-benar Pak Riyan?" Pertanyaan Semi yang begitu sangat bodoh. Dan pertanyaannya itu seketika membuat Riyan langsung menatapnya tajam sambil berkata.


"Maksud kamu apa? Kalau aku bukan Riyan, berarti aku siapa? Siluman maksud kamu?" Tanya Riyan kesal yang membuat Semi jadi malu sendiri.


"Ngga ko Pak,, aku ngga bilang siluman. Cuman aku merasa sangat aneh dengan sikap Bapak dari kemarin." Jawab Semi sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan tampang malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2