
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa pernikahan Riyan dan Fara sudah memasuki hari ketiga, dan mereka berencana akan berangkat ke Amerika tepat di hari ke tujuh. Selama tiga hari menjadi pengantin baru, mereka berdua tidak tidur dalam satu kamar layaknya suami istri. Fara yang merasa begitu sedih harus berpisah dengan keluarganya, memilih untuk tidur bersama kedua orang tuanya, dan meninggalkan Riyan tidur sendiri di dalam kamar pengantin mereka.
Rasa cinta yang begitu besar terhadap Riyan, membuat Fara begitu bahagia memilikinya dalam sebuah ikatan pernikahan. Namun di saat melihat air mata Mamanya di malam acara resepsi pernikahan mereka, rasa yang begitu besar di dalam hati Fara terhadap suaminya, seketika dia lupakan karena terlalu sedih memikirkan akan berpisah, dengan keluarganya beberapa hari kemudian.
Selama tiga malam tidur sendiri di dalam kamar pengantin yang di hiasi dengan begitu sempurna, Riyan mulai bersikap aneh di hari ke empat pernikahan mereka. Riyan bersikap semakin dingin dan acuh terhadap Fara, yang memang tidak memperdulikannya selama beberapa hari itu. Tapi sikapnya itu sama sekali tidak di perdulikan oleh Fara yang hanya fokus dengan orang tuanya, juga anggota keluarganya yang lain.
Selesai sarapan di pagi itu, Riyan memilih untuk ikut bersama Alfa keluar kota tanpa memberitahukan Fara. Apalagi Fara terlihat sangat sibuk dengan rencana jalan-jalan bersama Mamanya, juga para wanita yang ada di dalam rumah besar itu termasuk Melda Ibunya Riyan. Fara dan yang lainnya terlihat begitu bersemangat untuk mengunjungi sebuah mall baru milik keluarganya, yang baru saja di resmikan satu bulan yang lalu.
Karena begitu sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga membuat Fara sama sekali tidak menyadari sikap aneh suaminya. Bahkan dia tidak menyadari kalau Riyan sudah berangkat bersama Alfa keluar kota.
Di dalam perjalanan, Riyan hanya terdiam sambil menatap ke luar melalui kaca mobil. Sikapnya itu seketika membuat Alfa yang duduk bersebelahan dengannya merasa sedikit aneh, karena biasanya Riyan selalu mengajaknya untuk mengobrol walaupun dia tidak terlalu suka banyak bicara. Karena merasa ada yang salah dengan Riyan, akhirnya Alfa memilih untuk bersuara.
"Yan,, apa ada masalah?" Suara Alfa yang membuat Riyan jadi kaget dan salah tingkah.
"Ngga,,, ngga ada apa-apa kok Mas." Jawab Riyan sedikit gugup.
__ADS_1
"Syukurlah kalau ngga ada apa-apa. Aku kira ada masalah yang sedang kamu pikirkan." Ujar Alfa sambil menatap lurus ke depan.
"Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan aku di Amerika yang sudah beberapa hari aku tinggalin." Jawab Riyan berbohong.
Sebagai seorang suami, Riyan merasa di campakan oleh istrinya sendiri walau dia tidak memiliki keinginan apapun. Dan hal itulah yang membuat dia terlihat sedikit aneh selama dalam perjalanan. Sikap Fara yang seketika berubah berhasil mempengaruhi pikiran si beruang kutub itu. Tanpa sadar, Riyan mulai merasa kesal dengan sikap istrinya yang tiba-tiba acuh terhadap dirinya.
Karena merasa tidak di perhatikan oleh Alfa yang sudah bersandar di sandaran kursi mobil dengan mata yang terpejam, Riyan kembali menatap ke arah luar sambil memikirkan sikap istrinya yang berubah dengan seketika. Dia jadi bingung dengan Fara yang kemarin bersikap centil dan selalu menggodanya, kini berubah acuh dan tidak memperdulikannya sama sekali. Dengan tampang kesal bercampur bingung, Riyan pun mulai bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa maksud wanita itu? Sikapnya itu seperti bunglon, yang begitu cepat berubah-ubah.
Riyan yang tidak pernah perduli dengan apapun, kini terlihat seperti orang bodoh memikirkan istrinya yang bersikap seperti orang yang tidak memiliki suami. Sikap Fara yang tiba-tiba berubah, menimbulkan sedikit pemikiran buruk di dalam pikiran Riyan. Riyan yang sering berpikir salah tanpa mengetahui kenyataan, mulai menduga-duga di dalam hatinya.
Entah apa yang terjadi dengan Riyan. Namun dari ekspresi wajahnya, dia terlihat mulai terpengaruh dengan sikap istri centilnya itu. Dia juga berpikir kalau istrinya itu kemungkinan punya kekasih di luar sana. Dan pemikirannya itu seketika telah mempengaruhi dirinya, yang membuat dia langsung mengepalkan tangannya dengan sangat kencang. Kemudian tanpa memalingkan pandangannya dari arah kaca mobil, dengan ekspresi penuh kekesalan Riyan langsung membanting tangannya, yang sudah di kepal ke arah bawah dengan begitu kuat. Apa yang baru saja dia lakukan itu, tanpa dia duga membuat Alfa yang sedang memejamkan matanya, langsung mengeluarkan suara yang sangat besar.
"Aaaaa..." Suara teriakan Alfa karena tanpa sengaja Riyan telah mendaratkan pukulannya, tepat di sebelah paha Alfa, di saat dia hampir saja terlelap.
__ADS_1
"Aduh Mas,, aku benar-benar tidak sengaja." Ujar Riyan dengan tampang kagetnya sambil menatap Alfa yang sedang kesakitan.
"Astaga Riyan,, sebenarnya ada apa sama kamu?" Tanya Alfa sambil mengusap-usap pahanya, yang terasa sangat sakit karena pukulan Riyan barusan.
"Coba kamu jujur sama Mas! Sebenernya apa yang membuat kamu seperti ini?" Tanya Alfa karena Riyan belum juga menjawab pertanyaannya. Dan tidak lama, akhirnya Riyan pun menceritakan apa yang sedang mengganggu pikirannya.
"Sebenernya aku tu lagi kesal Mas." Jawab Riyan dengan tampang dinginnya.
"Kesal kenapa?" Tanya Alfa.
"Aku tu kesal bangat sama Fara. Dia sama sekali tidak memperdulikan aku selama beberapa hari ini." Jelas Riyan sambil menatap lurus ke depan.
"Astaga Riyan,, kamu kalau kesal sama Fara, jangan lampiaskan sama aku! Aku kan ngga tahu dengan urusan kalian berdua." Ujar Alfa.
"Aku minta maaf Mas. Tadi itu aku benar-benar ngga sengaja." Ujar Riyan dengan tampang memohon.
__ADS_1
"Ya sudah Mas maafin. Kalau menurut Mas, kamu jangan terlalu pusing dengan istrimu yang gila itu. Paling sebentar malam dia sudah nelpon kalau ngga ngeliat kamu." Ujar Alfa sambil tersenyum menatap Riyan.
Riyan yang selalu merasa gengsi untuk menceritakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, terpaksa harus jujur kepada Alfa karena merasa bersalah, dan tidak punya alasan untuk membohongi Alfa yang lebih dewasa darinya.