Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 26. Beban Hidup Yang Datang Silih Berganti.


__ADS_3

Kekhawatiran akan keselamatan kedua wanita yang amat berarti dalam hidupnya, membuat Reza begitu ketakutan. Rasa takut kehilangan adik yang sangat dia sayangi, juga kekasih hati yang sangat dia cintai semakin tidak terkendali, di saat Faris tidak menjawab teleponnya juga tidak membalas pesannya.


Di dalam pesawat yang sedang terbang menembus cakra wala, Reza hanya terdiam sambil berdoa dalam hatinya, untuk keselamatan Aleta juga Melda. Reza begitu gelisah. Dia sudah tidak sabar untuk segera sampai ke Jakarta. Tapi sayangnya, cuaca tiba-tiba mendung seketika, yang membuat seorang pilot yang sedang menjalankan pesawat, jadi tidak berani untuk melanjutkan perjalanan ke Indonesia.


Cuaca sama sekali tidak mendukung keputusan Reza. Cintanya yang begitu besar, bukan hanya terhalang oleh perjodohan, yang sudah menjadi tradisi dalam keluarga Permana. Namun juga di halangi oleh alam semesta yang tiba-tiba berubah gelap, dan di ikuti rintik hujan yang sangat deras.


Keadaan cuaca yang semakin memburuk, membuat Reza terpaksa harus membatalkan perjalanannya menuju Jakarta, yang sudah setengah perjalanan. Dengan tampang yang penuh beban, Reza menuruni pesawat dan melangkah tanpa memperdulikan hujan, yang turun begitu deras membasahi sekujur tubuhnya. Sampainya di samping jalan, Reza pun langsung menahan sebuah taksi dan memilih untuk kembali pulang ke rumahnya.


Reza hidup sendiri di sebuah rumah mewah, yang di belikan dengan hasil tabungannya selama bekerja di perusahan Pak Rendra. Setelah Papanya meninggal, dia memilih untuk pergi meninggalkan rumahnya dan bekerja dengan Pak Rendra.


Sampainya di rumah, Reza langsung memilih untuk mandi. Di bawah guyuran air yang begitu dingin, Reza tidak henti-hentinya memikirkan Aleta juga Melda, yang sedang sekarat di seberang sana. Reza yang hanya melihat separuh berita, tentang kecelakaan Aleta dan Melda melalui siaran tv, sudah berpikiran macam-macam yang membuatnya begitu khawatir.


Selesai mandi dan berpakaian, Reza yang merasa sangat tidak tenang berpikir untuk kembali melihat siaran tv. Tapi di saat dia mau melangkah meninggalkan kamarnya, tiba-tiba ponselnya yang berada dalam genggaman tangannya berdering. Dengan segera dia pun melihat layar ponsenselnya. Dan ternyata itu panggilan masuk dari Faris.


"Halo Ris,, bagaimana keadaan Aleta dan Melda..?" Suara Reza yang penuh ketegangan, di saat teleponnya tersambung dengan saudara iparnya itu.

__ADS_1


"Aleta sudah selesai di operasi. Keadaannya juga anak aku baik-baik saja. Jadi kamu ngga perlu khawatir! " Jawab Faris dari balik telepon dengan nada suara yang terdengar begitu lesu.


"Terus bagaimana dengan keadaan Melda?" Tanya Reza lagi.


"Kita semua sangat bersedih dengan keadaan Melda, juga supir pribadi Papa." Jawab Faris.


Mendengar apa yang di katakan Faris, detak jantung Reza langsung berdetak dengan begitu kencangnya. Matanya langsung terbelalak mendengar kedaan wanita yang sangat dia cintai itu. Reza begitu takut, karena yang dia ketahui dari berita di tv tadi, kalau supir pribadi Papa Fahri meninggal di tempat kejadian. Dan itu membuatnya berpikir kalau Melda sudah pergi meninggalkannya.


Reza tersandar ke dinding dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia sangat tidak sanggup bila harus kehilangan Melda untuk selama-lamanya. Walaupun cinta mereka tidak bersatu dalam sebuah ikrar pernikahan, tapi Reza masih ingin bisa melihat wanita penghuni hatinya itu berbahagia, walaupun bukan bersamanya.


"Za..!" Panggil Faris karena Reza sama sekali sudah tidak bersuara.


Reza yang begitu hancur mendengar kabar kekasih hatinya di seberang sana, sudah berderai air mata. Dia tidak dapat menahan air matanya setelah pemikiran buruk menguasai kepalanya. Kesedihan yang menyelimuti hatinya, membuat laki-laki gagah yang begitu tegar seketika lemah tak berdaya.


"Za.. sudah dulu ya! Soalnya aku mau mengecek keadaan Melda, apakah dia sudah sadar atau belum." Perkataan Faris yang membuat Reza terkejut.

__ADS_1


"Apa...!" Tanya Reza dengan mata yang terbuka lebar saking terkejutnya.


"Mengapa kamu terkejut seperti itu?" Tanya Faris bingung.


"Ngga apa-apa! Aku pikir Melda sama supir Papa kamu.." Kata-kata Reza tertahan karena langsung di potong oleh Faris.


"Melda masih selamat Za,, tapi kata Dr dia sudah tidak bisa berjalan lagi. Dan itu yang membuat kita semua sangat sedih. Karena kesedihan atas kepergian kedua orang tuanya belum juga hilang, kini dia harus kehilangan kesempurnaan fisiknya." Kata-kata Faris yang membuat Reza menarik nafas panjangnya.


"Sudah dulu ya Za! Karena aku harus mengecek Melda. Kamu ngga usah khawatir dengan Aleta! Dia sekarang baik-baik saja." Kata Faris.


"Iya Ris! " Jawab Reza sambil menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya.


Setelah itu Reza langsung melangkah menuju tempat tidurnya dan berbaring di sana. Reza ingin segera tidur karena dia merasa begitu kelelahan, dengan semua pekerjaannya juga beban pikiran, yang sudah sangat menguras tenaganya hari itu. Tapi kekhawatiran akan keadaan Melda, membuatnya sama sekali tidak bisa untuk tidur. Walaupun sudah hampir setengah jam dia memejamkan mata.


Wanita cantik yang sedang menanggung beban derita tiada henti di seberang sana, tidak pernah hilang dari dalam ingatan Reza walau hanya sebentar. Karena tidak bisa untuk tidur, akhirnya Reza memilih untuk berolahraga. Karena itulah yang sering dia lakukan di saat tidak bisa tidur di malam hari.

__ADS_1


Kebiasaan Reza itu membuat tubuhnya yang kekar semakin terbentuk. Sambil mengangkat beban di tangannya, Reza yang sedang bertelanjang dada itu, tidak henti-hentinya membayangkan beban hidup yang datang silih berganti, menimpa dirinya juga wanita yang tidak berdosa itu.



__ADS_2