
Mental Faris memang tidak bisa di ragukan dalam keadaan menantang seperti itu. Di saat semua orang sedang menegang mencekam dalam suasana menegangkan, dia malah terlihat tenang memutar otaknya untuk berfikir lebih jenius, menghadapi musuh yang sudah bermain-main dengannya. Namun dari pancaran kedua bola matanya, terlihat api kemarahan yang tidak akan bisa di padamkan.
"Hentikan mobil beberapa meter dari arah apartemen!" Ujar Faris di saat mereka mulai mendekati apartemen Riyan.
"Ayo turun! Dan kamu harus bawah pergi mobil ini setelah kita keluar nanti! Biar tidak ada yang tahu keberadaan kita." Ujar Faris kepada laki-laki yang mengemudikan mobil mereka, dan dia langsung keluar dari dalam mobil.
"Bagaimana dengan Anton Om?" Tanya Riyan.
"Bawa dia,, dan lepaskan ikatan tangannya." Jawab Faris yang membuat Riyan langsung menatapnya bingung sambil berujar.
"Tapi dia tidak bisa di percaya Om. Apa yang dia katakan belum tentu benar." Protes Riyan.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Om tidak sebodoh itu untuk mempercayainya begitu saja." Jawab Faris yang membuat Riyan tanpa ragu segera membuka ikatan tangan Anton.
Setelah ikatan di tangan Anton terlepas, Faris segera menariknya dan memakaikan jaket kulit berwarna hitam kepadanya. Melihat apa yang di lakukan Faris, Anton yang merasa bingung, hanya menatap Faris tanpa bersuara sedikitpun. Sedangkan Riyan yang juga bingung langsung menatap Reza Ayahnya. Tapi dengan segera Reza pun mendekat ke arah Riyan kemudian berbisik.
"Itu jaket yang sudah di pasang alat peledak. Dia akan meledak apabila tombolnya tertekan atau jaket itu terlepas, tanpa menonaktifkan alat peledaknya terlebih dulu." Jelas Reza yang membuat putranya langsung mengangguk tanda mengerti.
Setelah mobil yang membawa mereka pergi dan tidak terlihat lagi, Faris mulai memberi kode untuk berpencar. Faris memilih untuk melewati samping kanan apartemen tanpa melepaskan Anton, sedangkan Riyan bersama Reza melewati bagian kiri apartemen. Sebelum mendekati apartemen tadi, mereka semua sudah memakai penutup wajah termasuk Anton. Anton yang hanya terdiam, tidak bisa melakukan apa-apa setelah tahu kalau jaket yang di pasang Faris padanya sudah terdapat alat peledak yang kapan saja bisa mengakhiri hidupnya.
Riyan yang sudah berada tepat di samping gudang bersama Reza Ayahnya, tiba-tiba terkejut dan mematung seketika saat melihat seorang laki-laki bertopeng keluar dari dalam gudang dengan membawa segelas air juga sepiring nasi yang sama sekali tidak tersentuh. Dari gerakan Riyan, terlihat jelas kalau dia ingin sekali melabrak orang itu, tapi dengan cepat dia di tahan oleh Ayahnya, karena ada seorang laki-laki bertopeng lainnya yang ikut keluar dari dalam gudang milik Riyan.
"Tapi Ayah,, ini apartemen aku. Dan mungkin di dalam gudang ada istriku yang sedang di siksa oleh orang-orang itu. Coba Ayah bayangkan! Di rumahku sendiri Istriku di sekap." Ujar Riyan sambil mengepalkan tangan saking emosinya.
__ADS_1
"Itu adalah kelalaian kamu sendiri. Kita tidak boleh terlalu mudah percaya sama orang yang baru kita kenal, hanya karena melihat wajah polos mereka. Belum tentu mereka itu orang baik." Sambung Reza mencoba memberi pengertian kepada Riyan.
"Iya Yah." Jawab Riyan.
Di saat Riyan dan Reza sedang memperhatikan orang-orang yang sedang mengobrol di depan pintu gudang, tiba-tiba muncul Faris yang seperti kilat menyambar salah satu dari mereka, dengan pisau yang dia tancapkan langsung ke bagian leher orang itu. Tindakan Faris memang begitu nekat dalam menghadapi para musuh yang sudah berada di depan mata.
Faris tidak pernah ragu dalam bertindak saat dia berada di dalam situasi seperti itu. Dia tidak pernah perduli dengan keselamatannya sendiri, demi menyelamatkan orang-orang yang dia sayangi. Apalagi yang harus dia selamatkan saat itu adalah putri satu-satunya yang teramat sangat dia kasihi sebagai seorang Ayah.
"Siapa kamu...?" Teriak laki-laki yang satunya sambil melemparkan makanan juga segelas air ke arah Faris, saat melihat temannya sudah tersungkur di lantai dengan bersimbah darah.
"Aku yang harus tanya siapa kamu? Beraninya kamu melakukan semua ini di apartemen aku?" Tanya Riyan yang tiba-tiba muncul dari balik dinding bersama Ayahnya.
__ADS_1
Melihat orang yang sudah berdiri tepat di depannya, laki-laki bertopeng itu langsung terlihat salah tingkah. Dan di saat dia ingin melarikan diri melewati samping apartemen, Anton yang baru menampakkan diri segera menghajarnya dengan sekali pukulan yang begitu keras. Sampai-sampai dia pun jatuh tanpa gaya ke atas lantai tepat di samping temannya yang sudah tak bernyawa.
Melihat reaksi Anton, Riyan, Reza, juga Faris hanya menatap satu sama lain tanpa bersuara. Tapi tiba-tiba mereka pun di buat kaget dengan munculnya sesosok laki-laki, dari dalam gudang sambil menodongkan pistol di kepala Fara, yang sudah tidak sadarkan diri.