
Senyuman Fara yang terukir lebar di wajah cantiknya, menunjukan betapa bahagianya dia di hari pernikahan seseorang yang sangat dia sayangi. Dengan penampilan bagaikan seorang putri kerajaan, Fara melangkah menghampiri Riyan yang sedang berdiri sendirian menunggu sejak tadi di luar kamar, sambil menanyakan pendapat Riyan tentang penampilannya.
"Mas,, menurut kamu aku cantik ngga berpenampilan seperti ini?" Tanya Aleta sambil bergaya di depan Riyan dengan senyuman penuh kebahagiaan.
Melihat penampilan istrinya yang begitu jauh berbeda dari hari-hari biasanya, Riyan seketika mematung tanpa bisa berucap satu katapun. Dalam diam Riyan benar-benar mengagumi kesempurnaan istrinya. Tapi belum sempat dia bersuara, sudah terdengar suara Ibunya yang membuatnya seketika jadi salah tingkah.
"Kamu sangat cantik sayang. Riyan saja sampai tidak bisa untuk menjawab karena kagum dengan kesempurnaan mu." Jawaban Melda yang sudah berada tepat di samping Riyan.
"Masa sih Bu? Selama ini Mas Riyan tu ngga pernah memuji aku lo Bu. Dia selalu bilang aku tu wanita centil." Fara berkata-kata dengan raut wajah yang sudah berubah datar.
"Sayang,, suami kamu memang sudah seperti itu. Ibu saja tidak pernah dia puji. Tapi sebenarnya, dia tu begitu kagum dengan kesempurnaan dirimu." Jawab Melda sambil mengusap-usap lengan Fara.
"Dari mana Ibu tahu?" Tanya Fara penasaran.
"Dari suami kamu sendiri. Dia tu sering hubungi Ibu dan menceritakan rasa kagumnya terhadap kamu." Jawab Melda yang membuat Riyan langsung bersuara.
"Apa-apaan sih Bu? Ko Ibu jadi ngomongin itu?" Ujar Riyan dengan tampang datarnya.
"Ibu tu harus mengatakan semua yang Ibu tahu tentang kamu kepada Fara. Dia kan istri kamu. Lagian sampai kapan kamu mau menyembunyikan rasa kagum kamu itu? Apa susahnya memuji istri sendiri?" Perkataan Melda yang membuat Riyan semakin salah tingkah, karena malu dengan semua yang sudah di ketahui Fara.
__ADS_1
"Ya sudah,, Ibu pergi dulu ya.. Ibu mau menemui Mama kamu sayang." Ujar Melda sambil tersenyum menatap Fara.
"Ibu bisa sendiri? Apa perlu aku bantu?" Tanya Riyan penuh kekhawatiran.
"Yan,, Ibu tu sudah bisa jalan sayang. Kamu ngga usah khawatir. Kata Dr, Ibu tu harus banyak latihan jalan,, biar Ibu bisa kembali berjalan normal." Jawab Melda dan segera melangkah perlahan-lahan menuju tangga.
Setelah Ibu mertua sekaligus Tantenya itu pergi meninggalkan mereka, Fara yang sudah mengetahui sesuatu yang belum dia ketahui selama ini, kembali bertingkah yang membuat Riyan semakin malu dengan dirinya sendiri.
"Mas,, kamu ni diam-diam ternyata sangat mengagumi kecantikan ku. Pintar juga kamu menyembunyikan semua itu. Di balik sikap dinginmu, ternyata kamu sangat tergila-gila sama aku." Fara berkata-kata sambil meraba-raba dada bidang suaminya, dengan tatapan menggoda.
"Apa-apaan sih kamu..? Siapa juga yang tergila-gila?" Tanya Riyan sambil memalingkan mukanya yang sudah memerah karena menahan rasa malunya.
Mendengar perkataan Fara, raut wajah Riyan langsung berubah seketika. Dalam diam dia berpikir kalau bukan dirinya saja yang mengagumi kecantikan istrinya. Tapi ada banyak laki-laki lain yang juga mengagumi kesempurnaan istrinya itu.
"Maksud kamu apa berkata seperti itu?" Tanya Riyan datar.
"Ya aku berbicara sesuai kenyataan yang terjadi. Asal kamu tahu saja ya Mas,, aku tu sangat di idolakan banyak orang saat aku berada di bangku sekolah." Jawab Fara yang membuat Riyan semakin merasa kesal.
"Kamu jangan terlalu bangga karena di idolakan banyak laki-laki. Lihat tu berita-berita yang sering tayang di acara TV. Banyak wanita cantik yang sering menjadi korban. Apa kamu mau seperti itu..?" Tanya Riyan dengan tatapan serius ke arah Fara.
"Apa-apaan sih kamu Mas? Pertanyaan kamu ko seperti itu? Apa kamu mau aku menjadi korban pemerkosaan seperti yang kamu bilang tadi..?" Fara berkata-kata dengan tampang kesalnya.
__ADS_1
"Makanya,, kamu ngga usah terlalu bergaya hanya untuk menjadi pujian banyak orang. Dan aku sangat tidak suka kalau kamu di puji sama laki-laki lain. Apalagi menjadi idola laki-laki lain." Ujar Riyan yang membuat Fara langsung tersenyum lebar, dengan sikap yang membuat Riyan seketika tergoda.
"Mas,, makannya kamu tu harus jujur dengan perasaanmu sendiri. Biar aku tidak ragu dengan kesungguhan mu. Semua wanita pasti menginginkan pujian dari pasangan mereka." Ujar Fara sambil membelai dada Riyan.
Fara yang tidak pernah menjaga sikap centilnya, selalu membuat Riyan tidak dapat untuk mengendalikan dirinya. Apalagi setelah menikah, Riyan semakin tidak bisa menahan diri untuk memenuhi tuntutan batinnya sebagai seorang laki-laki. Dengan tatapan yang sudah mulai aneh, Riyan meraba pipi Fara tanpa bersuara. Melihat ekspresi Riyan yang sudah mulai berubah, Fara kembali berpikir untuk mengerjai suami kakunya itu.
"Mas,, apa kamu menginginkan sesuatu dariku?" Tanya Fara sambil membelai pipi suami tampannya itu.
"Apa-apaan kamu..? Jangan berpikir yang aneh-aneh! Aku tidak menginginkan apapun darimu." Jawab Riyan yang seketika sadar dari pemikiran liarnya, setelah mendengar pertanyaan Fara. Dan dia terlihat begitu gugup karena berusaha menyembunyikan rasa yang sudah mulai bergejolak di dalam dadanya.
"Benar kamu ngga menginginkan apapun dari istri cantikmu ini? Kalau gitu nanti malam, aku tidur saja sama Mama." Ujar Fara sambil terus meraba dada Riyan dengan tatapan yang membuat Riyan semakin tergoda. Namun Riyan yang begitu besar ego, berusaha untuk tidak memperdulikan tingkah istrinya.
"Jangan aneh-aneh Fara! Ada banyak orang di dalam rumah ini. Apa kamu tidak takut di lihat orang?" Ujar Riyan sambil memalingkan mukanya ke arah tangga.
"Ya sudah kalau gitu." Jawab Fara dan hendak melangkah pergi. Tapi dengan segera Riyan langsung menahannya dan ******* bibirnya dengan begitu rakus, sampai Fara hampir saja terjatuh saking kagetnya.
Keterkejutan Fara seketika hilang karena permainan suaminya yang selalu membuatnya hampir hilang akal. Mereka berdua saling beradu bibir tanpa memperdulikan sekeliling mereka. Apalagi mereka tahu, kalau mereka berdua saja yang masih berada di lantai atas. Dengan hasrat yang sudah mulai menguasai dirinya, Riyan menyandarkan Fara ke dinding tanpa menghentikan permainannya.
"Astagaaaa... Apa yang terjadi..?" Suara Bi Tuti yang tidak terdengar oleh kedua insan yang sudah tenggelam dalam kenikmatan.
Bi Tuti yang baru selesai merapikan tempat tidur Alfa, begitu terkejut melihat apa yang sedang di lakukan Fara dan Riyan, tepat di dekat tangga turun menuju lantai bawah. Karena tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Bi Tuti memilih untuk bersembunyi di balik dinding, sambil sesekali melirik ke arah Riyan dan Fara yang semakin hilang kendali.
__ADS_1