
Senyum di balik tatapan Fara, menimbulkan sedikit rasa yang aneh dalam benak Aleta sebagai wanita yang lebih dewasa. Dari ekspresi putrinya, Aleta mulai curiga kalau terdapat rasa yang tak bisa dari putrinya, terhadap sosok tampan yang sedang dia tatap di layar ponselnya. Rasa curiga juga penasaran menjadi satu di dalam hati Aleta, yang membuatnya tidak lama memilih untuk bersuara.
"Fara,, kamu ko jadi senyum-senyum mandangin foto Riyan?" Suara Aleta yang mengagetkan Fara putrinya.
"Aku,,, aku,,, ngga apa-apa ko Ma, lagian siapa juga yang senyum-senyum." Jawab Fara sedikit grogi dan salah tingkah yang membuat Aleta langsung tertawa lepas.
"Hahahaha.." Suara tertawa Aleta yang membuat Fara jadi bingung.
"Loh Mama ko ketawa? Ada apa sama Mama?" Tanya Fara bingung namun dengan tatapan mencari tahu.
"Kamu seperti kucing kecil yang di tangkap sedang mencuri ikan." Ujar Aleta setelah berhenti tertawa.
"Maksud Mama apa?" Tanya Fara sedikit kesal karena di samakan dengan kucing oleh Mamanya.
"Kucing itu selalu bersikap malu-malu apabila melihat makanan lezat." Jawab Aleta yang membuat Fara semakin kebingungan.
"Apa sih maksud Mama?" Tanya Fara lagi dengan kening yang berkerut.
"Kamu tu sudah jatuh hati hanya dengan menatap foto Riyan." Jawab Aleta yang sudah berdiri di samping tempat tidur, sambil mencakar-cakar rambut putrinya kemudian melangkah keluar dari kamar itu.
Mendengar apa yang di katakan oleh Mamanya barusan, wajah Fara langsung memerah saking malunya. Dia sendiri bingung dengan perasaannya yang tiba-tiba ingin memiliki sosok tampan itu, hanya dengan sekali melihatnya lewat foto yang ada di ponsel Mamanya. Fara langsung tertarik dengan sosok Riyan yang terlihat begitu tampan juga menarik.
__ADS_1
Sedangkan Riyan yang berada jauh di sebuah negara yang begitu maju, sedang duduk di taman belakang kampus bersama beberapa orang teman-temannya. Mereka sedang duduk membahas wisuda mereka yang tinggal beberapa hari lagi. Di saat mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba ponsel yang ada di saku celana Riyan berdering tanda ada panggilan masuk. Dengan segera Riyan langsung menjawab telepon, setelah melihat kalau itu panggilan masuk dari Ibunya.
"(Halo Bu,,)" jawab Riyan setelah telponnya sudah tersambung dengan Ibunya.
"(Iya sayang,, kamu baik-baik saja kan nak?)" Tanya Melda dengan penuh perhatian.
"(Aku baik-baik saja ko Bu! Ibu belum tidur? Sekarang kan sudah malam di situ.)" Ujar Riyan.
"(Sebentar lagi Ibu sudah mau tidur sayang. Tapi Ibu ingin memberitahukan sesuatu sama kamu.)" Perkataan Melda yang membuat Riyan putranya jadi penasaran.
"(Memangnya apa yang ingin Ibu katakan?)" Tanya Riyan yang sudah menjauh dari teman-temannya.
"(Yan,, ko kamu diam sih sayang,)" suara Melda karena tidak ada tanggapan dari Riyan.
"(Kalau pernikahanku yang Ibu inginkan, aku siap untuk segera menikah. Karena cepat ataupun lambat, aku juga akan tetap menikah dengannya.)" Jawab Riyan yang membuat wanita cacat itu tersenyum bahagia.
Melda memang sudah bisa melangkah sejak beberapa tahun lalu. Tapi karena patah tulangnya waktu itu terlalu parah, dan seluruh sendi-sendi kakinya sudah kaku, membuatnya sudah tidak bisa berjalan dengan sempurna. Dan hal itulah yang membuat Riyan sangat sakit hati tiap kali menatap Ibunya.
Beberapa tahun yang lalu, dikala itu Riyan masih berada di bangku SD kelas 5. Di malam itu, dia yang terbangun di malam hari, melangkah menuju dapur karena merasa haus. Tapi sampainya di ruang keluarga, dia melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hati. Di saat itu, langkah Riyan seketika terhenti setelah melihat Ayahnya sedang memeluk Ibunya, yang menangis sambil mengeluarkan keluh kesahnya yang tidak pernah Riyan ketahui.
"Mel,, kamu jangan seperti ini! Di balik cobaan, pasti akan ada hikmanya." Ujar Reza pada malam itu yang di dengar oleh Riyan dari balik dinding.
__ADS_1
"Aku tahu Bang, tapi keadaanku ini sangat membuatku menderita. Aku tidak bisa seperti wanita lain di luar sana yang bisa pergi kemanapun." Jawab Melda dengan berderai air mata.
"Abang akan berusaha untuk menyembuhkanmu. Tapi kamu jangan jadikan keadaanmu ini sebagai suatu beban! Nanti kamu jadi sakit kalau terlalu banyak pikiran." Reza mencoba menghibur istrinya.
"Aku juga ingin punya seorang putri seperti Mas Faris dan Mbak Aleta. Tapi semua itu sangat tidak mungkin dengan keadaanku ini. Riyan saja untung ada bibi yang merawatnya. Dan aku tidak mau melahirkan anak tapi tidak bisa merawat sepenuhnya." Ujar Melda lagi yang membuat Riyan menyadari, betapa besar penderitaan yang selama ini di tanggung oleh Ibunya, dalam mengurusnya dengan keadaan seperti itu.
"Mel,, kalau Riyan sudah dewasa, dia kan akan menikah dengan Fara. Dan Fara akan menjadi putri kamu juga. Apalagi nanti kalau mereka punya anak." Ujar Reza yang membuat Melda bisa sedikit tentang.
Setelah mendengar keluh kesah Ibunya, di tambah lagi dengan penjelasan Melda beberapa waktu lalu yang tidak akurat tentang kecelakaannya, membuat kebencian Riyan semakin bertambah besar kepada keluarga Ibunya di Indonesia. Dan sejak itu pula, dia menanamkan niatnya untuk membalas semua itu, dengan perjodohan yang sudah di sepakati kedua orang tuanya.
Riyan adalah anak yang patuh juga penuh kasih sayang terhadap kedua orang tuanya, walaupun dia tidak pernah mengungkapkan semua itu dengan kata-kata. Tapi rasa yang begitu besar yang dia miliki terutama kepada Ibunya, membuatnya menjadi salah sangka kepada orang yang tidak bersalah sama sekali. Dan lebih parahnya lagi, dia berniat membalas semua sakit hatinya atas penderitaan Ibunya selama ini, kepada wanita polos yang sama sekali tidak berdosa.
Riyan yang sudah berada di apartemennya, hanya duduk terdiam di dalam sebuah ruangan dengan tampang yang terlihat sangat kacau. Dia seperti terbebani dengan keputusannya sendiri. Riyan seperti itu, bukan karena dia punya cinta yang lain. Tapi dia tidak ingin terikat dengan wanita yang terlahir dari keluarga yang sangat dia benci selama ini. Tapi apapun yang terjadi, Riyan sudah bertekad untuk menikahi Fara, dan membuat Fara merasakan sakit yang di rasakan Ibunya. Dengan tatapan yang sangat tajam ke sebuah foto yang tergantung di dalam ruangan itu, Riyan pun berkata-kata dalam hatinya.
"Aku akan menikahimu, tapi jangan pernah berharap, aku akan memperlakukanmu sebagai seorang istri. Hanya penderitaan yang akan aku berikan sampai kamu sendiri yang meminta untuk berpisah." Riyan berkata-kata dalam hatinya sambil menatap sebuah foto yang ada di dinding.
Dendam Riyan begitu sangat besar kepada keluarga Ibunya. Sampai-sampai dia memilih untuk menggantung foto Fara di dinding kamarnya, biar dia tidak pernah melupakan calon istrinya yang suatu hari nanti, akan membayar semua penderitaan yang dialami Ibunya selama puluhan tahun.
__ADS_1