
Riyan benar-benar berubah setelah mengetahui kabar kehamilan Fara. Dia yang selalu bersikap kaku dan datar saat berhadapan dengan semua orang, terlihat begitu ramah hari itu. Sikapnya yang tidak biasa membuat semua kariyawan di kantornya jadi merasa bingung. Terutama sekrestarisnya yang selalu ingin tahu apapun yang tidak dia ketahui.
"Selamat siang Pak." Ujar sekretaris Riyan setelah melihat Riyan keluar dari dalam ruang kerjanya.
"Iya,,, siang." Jawab Riyan dengan senyum ramah.
"Apa semua pekerjaan sudah selesai?" Tanya Riyan dengan nada suara yang terdengar begitu bersahabat.
"Pekerjaanku masih lumayan banyak Pak." Jawab Sekrestarisnya.
"Siapa yang menanyakan pekerjaanmu? Aku tanya buat aku. Apa masih ada berkas yang harus aku tandatangani?" Tanya Riyan yang mulai bersikap datar.
"Ngga ada Pak. Semuanya sudah aku taruh tadi di atas meja kerja Bapak." Tutur sekrestarisnya.
"Semuanya sudah aku tandatangani. Kalau memang sudah tidak ada, aku mau langsung pulang saja." Ujar Riyan yang membuat wanita di depannya itu langsung menatapnya bingung.
"Mengapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" Tanya Riyan dengan kening berkerut saking tidak sukanya.
"Aku hanya merasa aneh saja Pak. Berkasnya kan banyak banget, ko bisa di selesaikan hanya dalam waktu beberapa jam?" Jawab sekretaris Riyan dengan tampang serius.
"Memangnya kamu pikir aku seperti kamu? Yang lebih banyak membuang-buang waktu untuk mengurus urusan orang lain? Makanya,, kalau mau pekerjaan cepat selesai, jangan terlalu sibuk dengan urusan orang." Jawaban Riyan yang membuat sekrestarisnya langsung tertunduk tanpa bisa berkata-kata.
Dengan buru-buru Riyan langsung pergi meninggalkan kantor. Dia tidak sabar untuk segera pulang menemui Fara, yang sejak tadi tidak menelpon ataupun mengirim pesan padanya. Di saat dia sedang melajukan mobilnya, tidak sengaja dia melihat sebuah tokoh bunga yang ada tepat di samping jalan.
Tanpa berpikir panjang, Riyan pun segera menepikan mobilnya dan melangkah masuk ke tokoh bunga itu. Sampainya di dalam, dia di pandangi semua kariyawan toko dengan tatapan yang terlihat sedikit aneh. Pesona Riyan memang selalu dapat menghipnotis semua orang. Terutama para kaum hawa. Dan tatapan seperti itu, sama sekali sudah menjadi hal yang biasa buat Riyan.
Riyan yang berketurunan Indonesia memang terlihat berbeda dengan laki-laki yang ada di negara maju itu. Memiliki rambut hitam, juga alis tebal dan pisik yang sempurna, membuatnya selalu mencuri pandang setiap wanita yang berada di sekelilingnya.
__ADS_1
"Nona,, saya ingin membeli bunga mawar merah." Ujar Riyan menggunakan bahasa Inggris kepada salah seorang penjaga toko.
Wanita bermata biru di hadapan Riyan sama sekali tidak merespon, apa yang baru saja di katakan oleh Riyan. Dia hanya menatap Riyan tanpa bersuara dan tanpa berkedip sedikitpun.
"Nona,, Nona apa anda baik-baik saja?" Tanya Riyan lagi sambil melambaikan tangannya tepat di depan wanita itu.
"Aaaa.. Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya wanita itu gugup setelah sadar dengan apa yang terjadi.
"Saya ingin membeli bunga mawar merah." Jawab Riyan.
Dengan buru-buru wanita bermata biru itu langsung melangkah menuju bagian pojok toko, sambil menggelengkan kepalanya perlahan saking malu dengan apa yang baru saja terjadi. Apalagi saat itu semua teman-temannya sesama kariyawan toko sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Ini bunga mawar merahnya Tuan." Ujar wanita itu setelah mengambil setangkai bunga mawar merah, dan memberikannya kepada Riyan.
"Aku ingin seikat bunga besar. Bukan hanya setangkai." Ujar Riyan sambil menatap setangkai bunga mawar merah yang ada di tangan wanita itu.
"Biar saya saja yang ambil bunganya. Apa bunga ini untuk pacar anda Tuan?" Sambung seorang wanita yang kira-kira berusia 45 tahun. Dan ternyata wanita itu adalah pemilik toko bunga tersebut.
"Ya ampun,, ternyata pria tampan itu suami orang. Siapa wanita beruntung yang dia nikahi?" Bisik seorang wanita kepada temannya.
"Iya,, kayaknya dia itu pengusaha. Bukan kariyawan biasa. Lihat saja merek mobilnya." Sambung wanita yang lainnya, sambil menatap Riyan yang sudah melangkah keluar dari toko bunga menuju mobil mewahnya.
Menyadari Riyan ternyata sudah beristri, wanita-wanita yang tadinya terhipnotis dengan kesempurnaannya seketika jadi malu. Terutama wanita yang tadi sempat hilang kesadaran karena keberadaan Riyan.
Riyan menjalankan kembali mobilnya sambil mencium aroma bunga yang ada di tangannya. Dia yakin Fara akan sangat bahagia apabila menerima hadiah darinya berupa seikat bunga besar seperti itu. Karena selama hidup bersama, itu kali pertama Riyan memberikan hadiah istimewa seperti itu.
Riyan melajukan mobilnya sambil membayangkan ekspresi Fara apabila menerima bunga kesukaannya itu. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Melihat nama Ibunya yang ada di layar ponsel, Riyan dengan buru-buru langsung menjawabnya.
__ADS_1
("Halo Bu." Sapa Riyan setelah telponnya tersambung.)
("Kamu lagi ngapain sayang?" Tanya Melda dari balik telpon.)
("Aku lagi dalam perjalanan pulang Bu." Jawab Riyan sambil memperhatikan jalanan.)
("Fara di mana? Apa dia di Kampus?" Tanya Melda.)
("Dia lagi di rumah Bu. Hari ini dia tidak ke Kampus. Soalnya dia lagi kurang sehat." Jawab Riyan.)
("Sayang,, coba bawa Fara ke Dr. Kayaknya dia bukan sakit biasa." Seru Melda yang membuat Riyan seketika jadi bingung.)
("Bukan sakit biasa gimana Bu?" Tanya Riyan.)
("Mungkin Fara sedang mengandung. Soalnya semalam Ibu bermimpi menggendong bayi. Mungkin itu pertanda kalau Ibu akan memiliki cucu." Jelas Melda yang membuat mata Riyan langsung terbuka lebar saking kagetnya.)
("Riyan,, ko kamu diam?" Tanya Melda karena Riyan sudah tidak bersuara.)
("Bu,, apa yang Ibu katakan memang benar. Fara sekarang sudah mengandung." Jawab Riyan jujur.)
("Syukurlah kalau begitu. Ibu dan Ayah juga berharap seperti itu setelah Ibu bermimpi menggendong bayi. Kamu harus lebih waspada menjaga kesehatannya." Melda yang begitu bahagia mendengar kabar baik dari Putranya langsung bersemangat.)
("Iya Bu. Aku akan menjaganya juga kandungannya." Jawab Riyan.)
"Ya sudah. Kami hati-hati ya! Nanti sampai rumah telpon Ibu. Ibu ingin bicara sama Fara." Ujar Melda dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
Riyan yang tidak bisa berbohong kepada kedua orang tuanya, terpaksa mengatakan yang sebenarnya tentang keadaan Fara. Dia merasa tidak ada gunanya juga menyembunyikan kehamilan Fara dari keluarga besar mereka.
__ADS_1
"Buat apa juga aku harus sembunyikan kabar baik ini dari keluarga besar ku? Cepat ataupun lambat, mereka juga nantinya pasti akan tahu." Riyan berkata-kata sendirian sambil terus fokus mengemudi mobil mewahnya.
Melda yang begitu kesepian hidup hanya berdua dengan suaminya, sangat bersyukur mengetahui kehamilan Fara. Dan tanpa menunggu lama, kabar baik itu langsung dia sampaikan kepada keluarganya di Indonesia. Sebagai seorang Ibu, Aleta yang juga sudah mendambakan seorang cucu, seketika heboh memberitahukan kabar yang baru saja dia dengar dari Melda kepada mertuanya.