
Kerinduan Reza kepada Melda sedikit terobati, di saat melihat wajah cantik yang selalu membayanginya setiap saat, berada tepat di depan matanya. Tapi dia juga begitu sedih, dengan keadaan Melda yang terlihat sangat menderita. Ingin sekali Reza menyapa dan menanyakan keadaan Melda, namun melihat ekspresi Farel dan kedua orang tuanya, membuat Reza kembali mengurungkan niatnya, dan memilih untuk tetap terdiam di samping Aleta.
Sebagai orang lain di dalam ruangan itu, Reza merasa tidak pantas untuk memberi perhatian kepada Melda, setelah menyadari tatapan Farel dan kedua orang tuanya, yang seperti tidak senang dengan kehadirannya.
Reza memilih untuk tetap terdiam, karena dia tidak ingin kehadirannya mengganggu, atapun merusak suasana di dalam ruangan itu. Meskipun cintanya masih sangat besar terhadap Melda, namun dia juga sadar kalau dia hanyalah masa lalu Melda yang tidak pernah di ketahui.
Sebagai seorang wanita, Melda sangat mendambakan perhatian dari laki-laki kaku di hadapannya itu. Tapi sikap diamnya Reza, malah membuatnya merasa sangat kesal bercampur sedih. Melda jadi berfikir kalau Reza sudah tidak mencintainya lagi, dan sudah tidak perduli terhadapnya sama sekali.
Karena merasa kesal dengan sikap Reza yang begitu cuek padanya, juga tidak sudi melihat wajah Farel laki-laki berengsek itu. Melda pun langsung beralasan ingin beristirahat, dan meminta Papa Fahri untuk membantunya naik ke atas tempat tidur.
"Paa,, aku ingin beristirahat, tolong bantu aku naik ke atas tempat tidur Pa!" Ujar Melda sambil menatap Papa Fahri.
"Biar Bang Reza saja Pa!" Sambung Aleta dengan tiba-tiba, yang membuat Melda langsung melirik Reza dengan tampang datarnya.
__ADS_1
Sedangkan Reza yang memang tidak banyak bicara, hanya tersenyum sambil melangkah maju menuju Melda. Tapi belum sempat Reza menghampiri Melda, Mama Farel tiba-tiba bersuara, yang membuat langkah Reza terhenti seketika.
"Biar Farel saja yang membantunya!" Kata Mamanya Farel.
"Ngga apa-apa Bu,, biar Reza saja! Lagian Farel kan lagi di toilet." Sambung Mama Alira.
"Ayo Za!" Tambah Mama Alira.
Reza begitu bingung dengan sikap Melda yang tiba-tiba seperti tidak menginginkan kehadirannya. Padahal dari tatapan Melda tadi, Reza sangat yakin kalau Melda masih mengharapkan kehadiran juga cintanya. Penolakan Melda itu seketika menggoyahkan keyakinan Reza, akan cinta gadis manis itu terhadap dirinya. Sambil melangkah mundur ke samping Aleta, Reza pun berkata-kata dalam hatinya.
"Apa aku yang terlalu percaya diri? Sepertinya dia sudah tidak punya rasa apapun lagi terhadapku. Dan aku juga tidak pantas untuk mengharapkan cintanya, karena sebentar lagi dia akan menjadi istri orang." Reza berkata-kata dalam hatinya, sambil menatap Melda yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya menghadap dinding.
Sedikit rasa bahagia di dalam hati Reza karena rasa rindu yang begitu besar, telah terobati setelah melihat wajah cantik Melda. Namun seketika semua itu berubah menjadi kekecewaan di saat mendapat penolakan Melda. Tapi Reza yang memang selalu tenang dalam setiap situasi, hanya bersikap biasa-biasa saja. Dan sikap tentangnya itu yang membuat Melda begitu sangat kesal terhadapnya.
__ADS_1
Melda yang sudah berbaring menghadap dinding, begitu sakit hati dengan sikap Reza yang tidak perduli padanya. Bola mata indah yang tadinya memancarkan sedikit kelegaan karena hadirnya Reza, kini mulai berkaca-kaca saking kesal terhadap sikap si kutub utara itu.
Karena melihat Melda yang sudah berbaring di atas tempat tidur, Farel yang baru saja datang dari toilet, langsung mengajak kedua orang tuanya untuk pulang dengan alasan, kalau dia masih ada kerjaan di kantor yang harus di selesaikan secepatnya.
Farel yang lagi kasmaran dengan seorang wanita yang baru dia kenal, tidak dapat menahan diri walaupun baru siang tadi mereka bertemu. Dan karena merasa tidak bebas, akhirnya dia beralasan ke toilet untuk bisa menghubungi pacar barunya itu.
Dengan alasan pekerjaan, Farel meminta orang tuanya untuk segera pergi dari Rs setelah keluar dari toilet. Dan kedua orang tuanya pun langsung menyetujuinya. Selesai berpamitan kepada beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu, mereka segera melangkah menuju pintu. Tapi belum sempat Farel membuka pintu, pintu sudah terbuka dan serangan pun mendarat tepat di wajahnya, yang membuat dia langsung tersungkur di atas lantai.
Apa yang terjadi membuat semua yang ada di situ sangat terkejut, apalagi mereka melihat siapa yang telah melakukan itu terhadap Farel. Faris yang sudah seperti predator memangsa, langsung mengeluarkan pistol dari dalam jas yang dia kenakan, dan mengarahkannya ke arah Farel yang masih terlentang dengan hidung yang sudah berdarah di atas lantai.
Melihat tindakan Faris dengan tampang yang sudah seperti monster, mereka semua yang ada di situ langsung berteriak dengan begitu kencangnya, terutama keluarga Faris yang sudah sangat mengenali wataknya. Tapi seiring dengan teriakan keluarganya, dua kali bunyi tembakan yang di lepaskan Faris pun meluncur tepat di kedua kaki Farel.
Teriakan keras yang keluar dari mulut Farel, membuat naluri pembunuh yang ada di dalam diri Faris semakin menggila. Dengan ekspresi yang begitu menakutkan, Faris kembali mengangkat pistol di tangannya ke arah Farel, yang sudah berlumuran darah di bawah sana.
__ADS_1