
Kesalahan yang sudah membutakan mata hatinya, membuat laki-laki dingin itu begitu menyesal setelah mengetahui semuanya. Rasa bersalah yang begitu besar terhadap keluarga Ibunya, membuatnya semakin membeku di samping Ayahnya dengan perkiraan yang sangat kacau. Apalagi di saat pikirannya tertuju kepada Fara yang entah di mana keberadaannya. Dengan terburu-buru Riyan pun berdiri dan segera melangkah pergi tanpa berkata apa-apa. Dan tingkah lakunya itu, membuat Melda Ibunya yang tiba-tiba merasa khawatir langsung bersuara.
"Riyan.. Kamu mau kemana?" Tanya Melda sambil menatap putranya yang sudah melangkah menuju pintu.
"Aku mau menjemput Fara.." Jawab Riyan.
Riyan melajukan mobil sambil terus memikirkan kesalahan, yang selama ini bersemayam di dalam hati dan pikirannya. Dia tenggelam dalam rasa penyesalannya, karena sikapnya yang sudah menyakiti wanita yang sama sekali tidak berdosa. Dia ingin segera menemui Fara dan meminta maaf atas semua kesalahannya.
Riyan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat di mana dia meninggalkan Fara tadi. Tapi tiba-tiba dia langsung menginjak rem mendadak, di saat matanya tertuju kepada seorang wanita yang sedang melangkah dari depan sana, dengan tampang yang terlihat sangat berantakan.
Dengan buru-buru Riyan pun turun dari mobil dan melangkah menuju Fara, yang hanya terdiam setelah menyadari keberadaannya.
Melihat keadaan Fara Riyan semakin merasa bersalah. Dan di saat dia ingin bersuara, tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan sebuah motor dari arah sana. Langkah kaki Riyan pun terhenti di saat melihat laki-laki itu menghampiri Fara dan mengajaknya untuk pergi.
__ADS_1
"Ayo kita pergi!" Ajakan laki-laki itu sambil menarik sebelah tangan Fara.
"Biar dia pulang sama aku saja!" Suara Riyan yang membuat laki-laki itu langsung menatap ke arahnya, tanpa melepaskan tangan Fara.
Ternyata laki-laki sederhana itu adalah sahabat baik Fara sejak berada di bangku SMP. Dan sejak dulu dia sudah jatuh cinta kepada Fara. Namun dia tidak berani untuk mengungkapkannya, karena merasa dirinya tidak sebanding dengan Fara yang berasal dari keluarga konglomerat.
"Fara,, ayo kita pulang!" Riyan berkata sambil meraih tangan Fara. Namun Fara yang sudah terlanjur kecewa dan kesal terhadapnya, segera menarik tangannya dan berkata.
"Aku mau pulang sama Erik saja." Ujar Fara tanpa menatap Riyan yang sudah berada di dekatnya.
"Aku adalah orang yang selalu ada untuknya." Jawab Erik sambil tersenyum menatap Riyan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Tapi jangan salahkan aku apabila ada masalah di rumah nanti." Ujar Riyan dan melangkah menuju mobilnya yang sedang terparkir di samping jalan.
"Mendengar apa yang di katakan oleh Riyan barusan, Erik yang tidak ingin menambah masalah Fara, segera meminta Fara untuk pulang bersama Riyan. Apalagi Erik juga sudah tahu, kalau Riyan adalah calon suami dari wanita yang dia cintai selama ini.
"Kamu pulang saja bersamanya! Aku tidak ingin kamu terkena masalah." Ujar Erik sambil memeluk Fara.
Riyan yang sudah duduk di balik kemudi mobilnya, hanya terdiam melihat calon istrinya yang sedang di peluk oleh laki-laki lain. Karena tidak ada rasa cinta sedikitpun terhadap Fara, membuatnya begitu tenang menyaksikan kejadian itu. Tanpa berpikir panjang, Riyan pun langsung menghidupkan mobilnya dan hendak memutar balik. Tapi belum sempat dia menjalankan mobilnya, Fara sudah melangkah menghampirinya. Dan dia pun kembali terdiam dengan tatapan yang tertuju kepada Fara.
Fara membuka pintu mobil dan masuk tanpa melirik Riyan yang berada di sampingnya. Dia seperti itu karena masih sangat kesal dengan sikap Riyan padanya. Dan tanpa bersuara, Riyan yang juga tidak memperdulikan Fara langsung melajukan mobilnya, dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Dalam perjalanan tidak ada satu katapun yang terlontar dari mulut calon pengantin itu. Riyan yang tadinya ingin meminta maaf kepada Fara, memilih untuk mengurungkan niatnya karena Fara sama sekali tidak menghiraukan dirinya. Sebenarnya Fara ingin sekali membicarakan pernikahan mereka yang tidak pasti itu. Tapi kekecewaan di dalam hatinya yang begitu besar atas kata-kata Riyan tadi, membuatnya tidak ingin bersuara ataupun melirik Riyan.
Penghalang terbesar atara kedua calon pengantin itu adalah keegoisan mereka yang tidak mereka sadari. Keegoisan itulah yang telah menciptakan kata-kata tajam, yang melukai hati Fara sampai untuk bersuara pun dia tidak sudi melakukannya.
Sebagai seorang wanita, Fara ingin sekali di mengerti oleh laki-laki yang dia cintai. Namun keinginannya itu hanya menambah perih di dadanya. Karena laki-laki yang dia cintai itu bukanlah laki-laki romantis, yang pandai merayu wanita di saat sedang marah.
__ADS_1