Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 193. Kemarahan Riyan.


__ADS_3

Riyan yang berada di rumah Pak Raul seharian tiba-tiba merasa ada keanehan, di saat mau memasuki kamar tempat putri Pak Raul berada, di saat balik dari kamar mandi. Di dalam kamar sekilas dia melihat istri Pak Raul sedang mendekati putrinya dan berbicara padanya. Dalam pikiran Riyan dia merasa bingung dengan apa yang dia lihat.


Riyan yang mulai merasa ada keanehan dengan kejadian itu, langsung memutar balik dan pergi tanpa berpamitan. Dia yakin ada sesuatu yang tidak dia ketahui di dalam rumah itu. Namun dia bingung mengapa sampai dia harus di libatkan dengan semua keganjalan tersebut. Dalam perjalanan pulang, Riyan sempat berpikir mungkin saja ada niat buruk dari klien bisnisnya itu. Tapi dia sendiri tidak tahu apa yang mereka rencanakan terhadap dirinya. Dan karena itulah sehingga dia memiliki untuk segera pergi dari rumah asing itu.


Riyan memilih untuk langsung pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 5:30 sore. Dia yakin kalau Fara sudah ada di rumah. Sampainya di rumah, Riyan langsung memarkirkan mobilnya dan keluar melangkah menuju rumah.


"Bi,, Fara ada di mana?" Tanya Riyan kepada salah seorang Bibi, yang sedang membersihkan ruang keluarga.


"Non Fara belum pulang Den." Jawab Bibi yang membuat Riyan jadi khawatir.


"Apa... Belum pulang..?" Tanya Riyan bingung.


Tanpa menunggu lama Riyan langsung memutuskan untuk menghubungi nomor Fara. Dan dia semakin khawatir di saat mengetahui kalau nomor telepon Fara berada di luar jangkauan. Dengan tatapan serius ke arah pintu, Riyan pun langsung bergumam di dalam hatinya.


"Di mana dia sampai lupa pulang? Tidak biasanya dia seperti ini?"


Riyan bertanya-tanya dengan pikiran yang sudah mulai kacau memikirkan istrinya. Dan di saat Riyan sedang kebingungan, muncul Pak Radit dari arah belakang dengan memegang segelas air putih di tangannya.


"Pak Radit,, apa Bapak sudah ke Kampus menjemput Fara?" Tanya Riyan dengan segera.


"Belum Pak. Soalnya Ibu Fara belum menghubungi saya." Jawab Pak Radit.


"Loh,, jam segini kenapa dia belum juga pulang? Aku harus ke Kampus melihatnya." Ujar Riyan dan segera buru-buru pergi.


Dalam perjalanan Riyan semakin khawatir karena melihat waktu yang sebentar lagi akan gelap. Di tabah lagi dengan nomor Fara yang tidak bisa di hubungi. Namun Riyan mecoba untuk tenang dengan berpikir positif, kalau Fara mungkin sedang berada di rumah salah satu temannya.


Tanpa berpikir panjang Riyan kemudian menghubungi teman-teman Fara, satu persatu untuk menanyakan keberadaan Fara. Namun tidak ada seorangpun yang tahu di mana Fara berada. Karena sejak pagi Fara tidak terlihat di dalam ruang.

__ADS_1


"Astaga Fara... Kamu di mana sayang?" Riyan bertanya-tanya dengan tampang yang terlihat semakin panik.


Sampainya di Kampus, Riyan segera turun dari mobil dan berlari ke sana kemari mencari keberadaan Fara. Tapi tidak ada seorangpun yang terlihat di sana. Karena tidak menemukan Fara, Riyan kembali ke gerbang Kampus untuk menemui sekuriti yang bertugas jaga hari itu.


"Pak,, apa Bapak melihat istri saya?" Tanya Riyan dengan nafas yang tidak teratur.


"Saya hanya melihatnya pagi tadi masuk ke dalam. Tapi setelah itu saya sudah tidak melihatnya Pak." Jawab sekuriti itu.


Riyan benar-benar khawatir mendengar jawaban dari sekuriti itu. Dia juga tidak tahu harus mencari Fara ke mana lagi. Tapi tiba-tiba datang seorang laki-laki yang sudah sangat kenal baik dengan Riyan.


"Pak Riya,, apa anda sedang mencari sesuatu?" Tanya Pak Luis tukang bersih-bersih di Kampus itu.


"Saya sedang mencari istri saya Pak. Dia belum juga pulang sampai jam segini." Jawab Riyan dengan segera.


"Tadi kalau saya ngga salah lihat, istri anda keluar dari pintu belakang. Sebelumnya dia duduk bersama salah seorang laki-laki di taman belakang." Jelas Pak Luis.


"Kalau ngga salah itu Mahasiswa baru yang satu ruangan dengan istri anda.


"Fero...?" Tanya Riyan.


"Saya tidak tahu namanya Pak." Jawab Pak Luis.


Tanpa mau berlama-lama Riyan segera berlari menaiki mobilnya, dan melaju menuju sebuah apartemen tempat tinggal Fero. Ternyata Fero tinggal di salah satu apartemen yang sama dengan seorang teman Riyan. Dan dari temannya itu Riyan mengetahui tempat tinggal Fero.


Sampainya di apartemen itu, Riyan segera menemui temannya dan buru-buru menanyakan letak kamar yang di tempati Fero. Kedatangan Riyan sangat mengagetkan temannya. Karena dari raut wajah Riyan sangat terlihat kekhawatiran yang luar biasa.


"Sebenarnya apa yang terjadi Yan?" Tanya Exel.

__ADS_1


"Sudah nanti aku jelasin. Sekarang tolong antar aku menemui laki-laki itu dulu!" Jawab Riyan dan langsung menarik tangan Exel.


"Di sini kamarnya." Ujar Exel setelah berada di depan pintu apartemen Fero.


Dengan segera Riyan langsung menekan bel pintu apartemen Fero berulang-ulang. Dan di saat pintu terbuka, Riyan segera menodong Fero dengan pertanyaan yang membuat Exel juga Fero jadi kebingungan.


"Di mana istri saya..? Cepat jawab di mana istri saya..!" Tanya Riyan dengan tatapan mata yang terlihat menakutkan.


"Maksud anda apa? Saya tidak mengerti dengan apa yang anda tanyakan." Jawab Fero.


"Jangan berpura-pura bodoh. Tadi pagi ada yang melihatnya duduk bersama kamu di taman belakang Kampus. Dan sampai saat dia dia belum juga pulang." Ujar Riyan sambil menarik kerah baju Fero.


"Saya benar-benar tidak tahu. Saya memang bersamanya tadi pagi. Tapi setelah itu saya sudah tidak tahu dia pergi kemana?" Jawab Fero yang membuat Riyan semakin geram.


Amarah yang sudah menguasai Riyan saat itu, membuatnya gelap mata. Dia mendaratkan pukulan berantai tanpa berpikir panjang, ke bagian wajah Fero dengan sangat keras. Melihat Fero yang sudah tersungkur dan banyak mengeluarkan darah di bagian hidup juga mulut, Exel langsung menahan Riyan sambil berteriak.


"Riyan... Sudah Riyan...! Semua ini bisa di bicarakan baik-baik." Ujar Exel sambil menarik Riyan yang sudah membabi buta menghajar Fero.


"Di bicarakan baik-baik bagaimana..? Istri saya sekarang tidak tahu di mana..? Dan dia tu lagi mengandung." Ujar Riyan penuh emosi.


"Tapi kalau benar dia tidak tahu apa-apa, kamu bisa di salahkan." Tutur Exel mencoba mengingatkan sahabatnya.


"Lebih baik kita segera mencari istri kamu. Dari pada membuang-buang waktu di sini." Tambah Exel.


"Saya juga akan bantu kalian mencari Fara. Karena saya benar-benar tidak tahu dia di mana." Sambung Fero yang sudah berdiri di depan Riyan dan Exel, dengan hidung juga mulut yang sudah berdarah.


"Kamu memang harus ikut bersama kita. Karena saya sama sekali tidak percaya dengan apa yang kamu katakan." Jawab Riyan dengan tatapan penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2