Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 85. Dalam Posisi Serba Salah.


__ADS_3

Setiap wanita pasti mendambakan pria yang sempurna seperti Riyan. Begitupun dengan Katrin yang sudah lama berhayal menjadi istri dari anggota keluarga Permana. Seketika kekaguman dan harapan yang selama ini telah tertanam di dalam dirinya, membuat wanita matre itu lupa akan janji yang telah terikat antara dia dan Alex, yang pada saat itu sedang berdiri tepat di sampingnya.


"Pak Riyan,, kalau ada waktu saya ingin mengundang Bapak makan malam di rumah saya sebentar malam nanti." Ujar Pak Fero yang langsung di sambut putrinya penuh semangat.


"Aku setuju Pa." Sambung Katrin dengan ekspresi berlebihan, yang membuat raut wajah Alex berubah seketika.


Melihat ekspresi Alex yang tiba-tiba berubah aneh, Riyan jadi merasa tidak enak. Sejenak dia pun terdiam sambil memikirkan alasan untuk menolak undangan makan malam dari Pak Fero. Namun belum sempat dia mendapatkan ide, Pak Fero kembali berkata-kata yang membuatnya tidak bisa untuk menolak.


"Ayolah Pak Riyan! Kapan lagi kita bisa makan malam bersama? Saya harap Pak Riyan tidak menolak undangan saya ini." Ujar Pak Fero.


"Baiklah. Sebentar malam nanti aku akan berangkat bersama Alex ke rumah Bapak." Jawab Riyan.


"Kenapa sama Alex?" Tanya Katrin dengan ekspresi tidak setuju dengan apa yang baru saja di katakan oleh Riyan.


"Kan dia ngga tahu tempatnya." Sambung Alex dengan wajah datarnya.


"Iya,, dan di sini kan, hanya Alex orang yang paling aku kenal. Kamu mau kan Lex jemput aku nanti malam?" Tanya Riyan dan Alex hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Walaupun di dalam hatinya yang paling dalam dia tidak setuju dengan acara makan malam itu. Karena dia sendiri sudah tahu, apa yang di inginkan calon istrinya juga orang tuanya selama ini.

__ADS_1


Laki-laki manapun pasti akan merasakan apa yang di rasakan Oleh Alex saat itu, apabila melihat wanita yang dia cinta, begitu mengharapkan kedatangan laki-laki lain di rumahnya. Apalagi orang tua dari Katrin sejak tadi terus-menerus membangga-banggakan Riyan di depannya.


Sebagai sesama laki-laki, Riyan sangat mengerti perasaan temannya saat itu. Dan dia juga merasa sedikit aneh dengan Katrin juga Papanya, yang sangat tidak memperdulikan keberadaan Alex. Terutama Katrin yang sudah berstatus sebagai calon istri Alex. Dalam hati Riyan, dia merasa sedikit kesal terhadap kedua orang di depannya itu, juga merasa prihatin dengan temannya yang hanya terdiam di samping mereka.


Riyan berada di dalam posisi serba salah. Di sisi lain, dia sangat menghargai perasaan temannya. Namun di sisi lainnya, dia tidak punya alasan untuk menolak permintaan Pak Fero dan putrinya, yang terkesan sedikit memaksa. Tapi dia berencana untuk membicarakan semuanya dengan Alex nanti malam. Biar Alex tidak salah paham dengannya, yang menerima undangan makan malam dari Pak Fero juga Katrin.


Bukan hanya Katrin yang mendambakan memiliki pendamping hidup dari anggota keluarga Permana. Hampir semua anak pengusaha, juga orang tua mereka ingin menjalin kekeluargaan dengan keluarga ternama itu. Itu juga yang di inginkan Pak Fero saat itu. Ternyata Pak Fero sudah punya rencana ingin mendekatkan Katrin dengan Riyan. Namun dia merasa sedikit terganggu dengan keberadaan Alex. Dan tanpa memikirkan perasaan Alex, Pak Fero kembali bersuara yang membuat Riyan hampir menolak undangan makan malamnya.


"Pak Riyan,, makan malam ini kan hanya untuk para pengusaha. Jadi saya mau hanya anda yang datang ke rumah saya nanti malam. Jadi Pak Riyan tidak perlu di jemput Alex. Biar supir pribadi saya saja yang jemput." Ujar Pak Fero yang membuat Alex terlihat sangat malu pada dirinya sendiri yang bukan siapa-siap.


"Ya sudah kalau gitu. Terserah Pak Riyan saja." Ujar Pak Fero dengan senyum yang terlihat sangat terpaksa.


Melihat ekspresi Pak Fero, Alex pun mengerti kalau kehadirannya nanti malam sangat tidak di harapkan. Akhirnya dia langsung memilih untuk tidak menghadiri makan malam itu bersama Riyan. Tapi dia tidak mengatakan apa yang sudah dia putuskan itu di depan mereka. Karena kalau dia sampai mengatakannya, Riyan pasti tidak akan setuju.


Sedang Katrin yang sudah menghayal jauh, sama sekali tidak menyadari kalau dia dan Papanya, sudah menyakiti laki-laki yang selama ini selalu setia menemaninya. Tatapan Katrin kepada Riyan memang sangat nyata menunjukan apa yang ada di dalam pikirannya saat itu. Dan tatapannya itu membuat Riyan jadi merasa tidak betah berada lama-lama di situ. Untung saja tidak lama, Semi yang entah dari mana berlari menghampiri Riyan, dan berkata kalau ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.


"Pak Riyan,, ada hal penting yang ingin aku katakan." Ujar Semi yang membuat Riyan langsung menatapnya tajam sambil berkata.

__ADS_1


"Dari mana saja kamu? Aku tu cari-cari kamu sejak tadi." Ujar Riyan dengan tatapan tajam. Namun di dalam hatinya merasa sangat lega karena akan meninggalkan tempat itu.


"Pak Fero,, Alex,, aku pergi dulu ya,, soalnya aku masih punya urusan lain." Ujar Riyan berpamitan sambil menyalami Pak Fero juga Alex. Dan di saat dia ingin menyalami Katrin, dengan tidak tahu malunya Katrin langsung memeluknya sambil berbisik.


"Aku tunggu kedatangan mu nanti malam." Bisik Katrin yang tidak di dengar oleh yang lain selain Riyan.


Tanpa menjawab apapun, Riyan yang seketika kesal dengan sikap Katrin yang terlalu berlebihan, langsung memundurkan posisinya dan melangkah pergi bersama Semi dengan tampang yang sangat datar. Bukan hanya Riyan, Semi pun kaget dengan sikap wanita yang belum dia kenali itu. Dan tanpa menunggu lama dia pun langsung bertanya.


"Pak Riyan,, apa mereka kerabatmu?" Tanya Semi dengan tatapan mencari tahu ke arah Riyan, yang sedang melangkah di sampingnya dengan tampang yang begitu datar.


"Bukan. Laki-laki berambut putih itu juga seorang pengusaha. Dan wanita tadi adalah putrinya. Kalau yang satunya itu teman lama aku waktu baru masuk kuliah di Amerika. Dan dia calon suami wanita tadi." Jelas Riyan dengan tampang yang tetap sama.


"Kalau dari penglihatan ku, sepertinya wanita itu punya perasaan dengan anda Pak Riyan." Sambung Semi.


"Aku tidak perduli dengan perasaannya. Karena aku sangat mencintai istriku." Ujar Riyan tanpa menatap Semi.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Riyan, Semi jadi terdiam dengan tampang penuh kebingungan. Dia tidak menyangka ternyata Riyan sangat mencintai istrinya, walaupun dia tidak menginginkan pernikahan mereka karena wanita yang dia nikahi itu tidak sempurna menurut Semi.

__ADS_1


__ADS_2