
Rasa cinta seorang laki-laki akan semakin kuat, saat melihat kesungguhan seorang wanita yang sangat mencintainya. Begitupun dengan Riyan yang sudah tidak bisa jauh dari Fara yang semakin hari semakin cantik, dengan bentuk tubuh yang sudah mulai berisi. Fara yang memang selalu ceria, semakin berbahagia mendapatkan perhatian dari suaminya. Dan hal itulah yang membuat berat badannya semakin hari semakin bertambah.
"Sayang,, aku tu senang banget melihat kamu semakin hari semakin berisi." Ujar Riyan yang sedang mengemudikan mobilnya menuju kampus.
"Maksud kamu apa Mas?" Tanya Fara dengan tatapan penuh curiga.
"Ya aku senang melihat bentuk tubuh kamu yang semakin menggoda." Jawab Riyan sambil menatap Fara dengan tatapan mata liarnya.
"Astaga Mas,, ini masih pagi lo. Segitunya rasa tertarik kamu sama aku Mas?" Tanya Fara dengan tatapan centilnya.
"Kamu tu ngga bisa di puji sedikit. Di puji langsung kumat tingkah centilmu." Ujar Riyan yang selalu risih melihat sifat istrinya.
"Bagaimana ngga kumat Mas? Rayuan kamu itu benar-benar menggetarkan hati aku." Jawab Fara sambil menyandarkan kepalanya, di pundak Riyan yang sudah seperti jalan tol datarnya.
"Fara,, aku mau nanya sesuatu sama kamu. Apa di ruangan kamu ada mahasiswa pindahan dari Prancis?" Tanya Riyan dengan tatapan lurus ke depan.
"Iya Mas,, dan kamu tahu ngga Mas? Semua teman-teman aku sangat mengagumi ketampanannya." Jawab Fara dengan spontan.
"Kalau menurut kamu gimana?" Tanya Riyan dengan segera.
"Kalau menurut aku,, dia memang tampan sih. Tapi lebih tampan kamu ko Mas. Teman-teman aku juga berkata seperti itu." Jawab Fara sambil terus menyandarkan kepalanya di pundak Riyan yang sedang fokus mengemudi.
"Baguslah kalau memang seperti itu." Ujar Riyan yang membuat Fara kebingungan.
"Memangnya kenapa sih Mas?" Tanya Fara yang mulai merasa aneh dengan pertanyaan suaminya tadi.
"Ngga apa-apa. Aku cuman ingin tahu pendapat kamu." Jawab Riyan.
"Mas,, kita nanti pulang ke mana kalau liburan?" Tanya Fara.
__ADS_1
"Kita ke Malaysia dulu. Nanti setelah beberapa hari di sana sama Ibu dan Ayah, baru kita berangkat ke Indonesia." Jawab Riyan yang sudah sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Iya Mas,, aku juga ingin tinggal beberapa hari di Malaysia. Aku ingin lihat tempat-tempat favorit kamu di sana." Tutur Fara sambil tersenyum seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Mengapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Tanya Riyan yang tidak sengaja melihat ekspresi Fara, melalui kaca spion yang ada di atas kepala mereka.
"Aku hanya lagi membayangkan sesuatu." Jawab Fara sambil terus tersenyum.
"Apa yang kamu bayangkan?" Tanya Riyan bingung.
"Aku tu lagi membayangkan, seandainya kalau aku hamil, mereka semua pasti akan sangat bahagia. Apalagi Ibu dan Ayah di Malaysia." Jawab Fara.
"Mas,, sebenarnya kapan sih aku bisa hamil? Ko belum ada tanda-tandanya?"Tanya Fara dengan tampang sedihnya.
"Semoga dalam waktu cepat kamu akan hamil." Jawab Riyan mencoba menyemangati Fara.
"Tapi kalau aku ngga hamil gimana Mas? Apa kamu akan ninggalin aku?" Tanya Fara yang semakin terlihat sedih.
Mendengar jawaban Riyan, Fara malah kepikiran karena merasa bersalah dengan dirinya, yang belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Apalagi dia begitu yakin, kalau Riyan juga kedua orang tuanya sangat mendambakan anak dari pernikahan mereka.
"Ngga usah khawatir! Kita pasti akan punya anak. Kita masih punya banyak waktu untuk memiliki beberapa anak." Ujar Riyan saat melihat raut wajah istrinya yang mulai murung.
"Apa kamu yakin Mas?" Tanya Fara.
"Iya,, aku yakin kita bisa menjadi orang tua seperti pasangan suami-istri pada umumnya." Jawab Riyan penuh keyakinan.
"Bukan itu Mas yang aku tanyakan. Aku tidak yakin kalau kamu akan tetap bersamaku walaupun aku tidak bisa memberimu anak." Ujar Fara yang membuat Riyan langsung menepikan mobilnya.
"Lihatlah aku seperti senja, yang tidak pernah berjanji namun tetap ada." Tutur Riyan yang begitu menyentuh hati Fara.
__ADS_1
"Mas,, terimakasih atas ketulusanmu. Aku sangat beruntung mendapatkan pendamping hidup seperti dirimu." Tutur Fara sambil memeluk lengan Riyan dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Janganlah menangis! Aku tidak ingin melihat air matamu. Karena air matamu hanya akan menjadi sebuah beban bagiku." Ujar Riyan sambil mengecup kening Fara penuh kasih sayang.
Kehangatan yang di tunjukkan Riyan juga ketulusannya, seketika membuat kekhawatiran Fara pun menghilang. Tatapan mata Riyan benar-benar menunjukkan ketulusan seorang laki-laki sejati. Dan itulah yang sangat di butuhkan seorang wanita rapuh seperti Fara.
Sampainya di Kampus, Fara dan Riyan langsung melangkah menuju ruangan Fara, setelah memarkirkan mobil di parkiran Kampus. Kehadiran mereka di Kampus selalu mencuri perhatian semua yang ada di sana. Ada yang menatap mereka dengan penuh kekaguman, juga ada yang menatap dengan tatapan yang menunjukkan rasa tidak suka.
"Mereka berdua memang sangat serasi. Yang satunya tampan, dan yang satunya begitu cantik. Apalagi mereka sama-sama berasal dari keluarga yang kaya raya." Ujar salah seorang adik tingkat Fara yang begitu mengidolakan pasangan Riyan dan Fara.
"Kalau menurut aku, pasti kekayaan yang mereka miliki itu milik suaminya. Atau mungkin itu milik orang tua suaminya." Sambung salah satu dari mereka, yang juga berasal dari keluarga kaya Raya di negara itu.
"Kamu salah. Mereka berdua itu sama-sama anak konglomerat." Sambung seorang wanita yang kebetulan memiliki darah keturunan Malaysia bernama Dara.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya beberapa temannya.
"Ibuku berasal dari negara yang sama dengan Kak Riyan. Jadi aku tahu sedikit banyak tentang keluarganya. Dan istrinya itu juga adik sepupunya sendiri."Jelas Dara yang membuat teman-temannya langsung berbalik, menatap ke arah Fara dan Riyan tanpa bisa berkata-kata.
Riyan yang mulai tidak tenang dengan keberadaan Mahasiswa pindahan di ruangan Fara, tidak membiarkan Fara pergi ke ruangannya sendirian seperti biasanya. Dan sikapnya yang tidak biasa itu malah membuat Fara semakin kecentilan.
"Mas,, apa kamu takut?" Tanya Fara sambil bergelayut manja di lengan Riyan, yang sedang melangkah di sampingnya.
"Maksud kamu apa?" Tanya Riyan dengan kening berkerut.
"Kamu takut kan aku di goda sama Mahasiswa pindahan itu?" Tanya Fara sambil menatap Riyan dengan senyum centilnya.
"Mulai kamu mulai! Apa kamu ngga bisa diam saja? Banyak pertanyaan kamu ini." Ujar Riyan dengan ekspresi datarnya.
"Jujur saja kenapa sih Mas?" Goda Fara yang membuat Riyan semakin kesal.
__ADS_1
"Kalau gitu aku mau ke ruangan aku saja. Dan aku ngga akan pernah mengantarmu lagi ke ruanganmu." Tutur Riyan sambil berbalik menatap Fara serius.
"Aku ngga masalah. Memangnya aku ngga tahu jalan menuju ruangan ku? Selama ini aku sendirian ke ruangan ku ko." Jawab Fara yang membuat Riyan langsung melangkah pergi menuju ruangannya, tanpa berucap satu katapun.