Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 114. Tuntutan Untuk Setia.


__ADS_3

Fara yang merasa begitu kesakitan hanya terbaring lemas, dengan keringat yang mulai bercucuran. Wajahnya terlihat sangat pucat menahan sakit di perutnya sejak tadi. Semua pekerja yang ada di apartemen jadi kebingungan melihat keadaan Fara. Dan di saat Riyan memasuki apartemen, salah seorang penjaga langsung menghampirinya, dan memberi tahu keadaan Fara.


"Mas Riyan,, Non Fara sejak tadi sedang kesakitan. Dia terlihat begitu pucat dan hanya merintih di atas tempat tidur." Ujar penjaga apartemen Riyan dengan tampang yang terlihat begitu serius.


"Loh,, ko kalian tidak ada yang kasih tahu aku?" Tanya Riyan dengan ekspresi yang terlihat begitu khawatir.


"Kata Non Fara, katanya Mas Riyan sudah di beri tahu." Jawab laki-laki itu.


"Aku pikir sakitnya tidak separah ini." Ujar Riyan dan langsung melangkah menuju lift.


"Non Fara,, minum dulu obat ini! Biar sakitnya bisa sedikit berkurang." Ujar Bi Sari, wanita asal Indonesia yang sudah bekerja di apartemen itu, sebagai pembantu sejak pertama Riyan Kuliah.


Riyan yang begitu mencintai negara asal Ibunya, memilih untuk mengerjakan dua wanita dari Indonesia di apartemennya itu sebagai pembantu. Bahkan beberapa pekerja laki-laki yang ada di apartemennya juga berasal dari Indonesia. Riyan adalah orang yang begitu berhati-hati dalam segala hal. Dan karena itulah sehingga dia memilih untuk mempekerjakan orang Indonesia di apartemennya. Dan bukan hanya itu saja. Semua orang-orang kepercayaannya di berbagai bisnis yang dia miliki, berasal dari Indonesia.


Di dalam kamar, Fara yang sedang di bujuk oleh BI Sari untuk meminum obat penghilang nyeri di perutnya, tetap menolak dengan berbagai macam alasan. Dia hanya merintih sambil meremas perutnya dengan posisi terlentang di atas tempat tidur. Dan di saat melihat Riyan memasuki kamar, Fara semakin mengeraskan suara rintihannya yang membuat Riyan seketika jadi panik.


"Fara,, perutmu sakit bangat..? Tadi kamu makan apa sih, sampai jadi sakit seperti ini?" Tanya Riyan sambil meraba perut Fara dengan tampang yang terlihat sangat khawatir.


"Aku ngga makan apa-apa Mas. Aku juga ngga tahu kenapa bisa sakit seperti ini? Sakit bangat Mas,,, Hiks...Hiks...Hiks.." Jawab Fara sambung menangis membelakangi Riyan.


"Ayo kita ke Dr! Kamu harus periksa biar bisa tahu penyebabnya." Ujar Riyan sambil berusaha membalikan tubuh Fara.

__ADS_1


"Jangan Mas,, aku takut nanti di suntik,," Ujar Fara merengek sambil memeluk lengan Riyan.


Melihat keadaan kedua majikannya, Bi Sari dengan segera langsung melangkahkan keluar dari kamar tanpa berkata apa-apa. Bi Sari melangkah menuju lantai bawah sambil memikirkan sikap Riyan yang begitu berubah, setelah menikah dengan Fara. Karena selama bekerja dengan Riyan, Bi Sari tidak pernah melihat Riyan bersikap selembut itu, terhadap wanita-wanita yang mencoba mendekatinya . Bahkan tidak pernah ada wanita satupun, yang pernah terlihat mesra dengannya. Sambil melangkah menuruni tangga, Bi Sari pun berkata-kata di dalam hatinya.


"Mas Riyan sangat berubah setelah menikah. Aku turut bahagia melihat hidupnya yang sudah berwarna, dengan kehadiran Non Fara di dalam hidupnya. Mereka terlihat sangat romantis, walaupun mereka punya hubungan lain selain suami istri."


Bi Sari melangkah menuju dapur tanpa berhenti mengingat kedua majikannya, yang menurutnya sangat lucu karena perbedaan sifat mereka. Dia jadi senyum-senyum sendiri memikirkan pasangan pengantin baru itu. Dan sikap Bi Sari itu, membuat Bi Santi yang sedang beres-beres di dalam dapur jadi kebingungan.


"Mba,, ko senyum-senyum? Apa yang terjadi?" Tanya Bi Santi yang sedikit muda dari BI Sari. Bi Santi yang berumur 50 tahun, selalu memanggil Bi Sari yang lebih tua lima tahun darinya, dengan sebutan Mba.


Bi Sari dan Bi Santi sama-sama sudah hidup menjanda. Dan di saat berada di Amerika sebagai TKW, mereka sangat senang di saat mendapatkan majikan yang juga berasal dari Indonesia. Mereka berdua sangat menyayangi Riyan seperti anak mereka sendiri. Karena Riyan juga begitu baik dengan mereka, juga pekerja yang lainnya.


"Santi,, kamu perhatikan sifatnya Mas Riyan ngga?" Tanya Bi Sari dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya yang sudah mulai keriput.


"Masa kamu ngga perhatikan? Mas Riyan tu sudah sangat berbeda setelah ada Non Fara." Ujar Bi Sari.


"Mas Riyan tu begitu perhatian terhadap Non Fara. Dan dia tu terlihat sangat khawatir melihat Non Fara yang sedang kesakitan. Sikapnya yang selalu dingin, seketika hilang melihat istrinya terbaring kesakitan di atas tempat tidur." Tambah Bi Sari sambil tersenyum.


"Ooo,,, kalau itu aku tahu. Tapi aku ngga terlalu kaget dengan perubahan Mas Riyan." Jawab Bi Santi yang membuat Bi Sari jadi kebingungan.


"Memangnya kenapa sampai kamu ngga kaget?" Tanya Bi Sari dengan tatapan bingung ke arah Bi Santi.

__ADS_1


"Ya ampun Mba,, laki-laki sedingin apapun akan bisa hangat dan perhatian, kalau memiliki wanita secantik itu. Non Fara itu cantiknya kebangetan, jadi bukan hal yang sulit untuk dia mencairkan gunung es sebesar apapun." Jelas Bi Santi yang membuat Bi Sari langsung mengangguk sambil berkata.


"Iya juga ya? Non Fara tu sangat sempurna. Jadi tidak mungkin di cuekin sama laki-laki. Mana ada laki-laki yang menolak wanita sesempurna itu?" Jawab Bi Sari.


"Tapi aku tu tetap merasa lucu dengan hubungan mereka. Karena selain menjadi suami istri, mereka juga saudara sepupu. Bagaimana keromantisan bisa ada secepat itu tanpa ada rasa canggung sebagai saudara?" Tambah Bi Sari dengan tampang kebingungan.


"Mba,, perjodohan sudah menjadi tradisi dalam keluarga Nyonya Melda. Mereka semua menikah tanpa adanya cinta. Apalagi seperti Mas Riyan dan Non Fara yang ternyata saudara sepupu. Tapi mba,, cinta itu datang tanpa mengenal keadaan. Yang penting bukan pernikahan terlarang." Ujar Bi Santi menjelaskan.


Di saat Bi Sari dan Bi Santi sedang asyik membahas kedua majikan mereka, tiba-tiba muncul kedua orang yang sedang mereka bicarakan sejak tadi. Riyan melangkah memasuki dapur sambil merangkul pinggang Fara, yang membuat kedua pembantunya itu jadi mematung, dengan tatapan tanpa kedipan sama sekali ke arah kedua majikan mereka.


"Bi,, tolong ambilkan air hangat buat Fara." Ujar Riyan sambil membantu Fara untuk duduk di depan meja makan.


"Bi,, ada apa sama kalian..? Ko kalian jadi seperti orang kebingungan..?" Tanya Riyan sambil menatap serius ke arah kedua pembantunya, yang serentak kaget dan salah tingkah dengan pertanyaan juga tatapannya.


"Apa ada yang bisa kita bantu Mas Riyan..?" Tanya Bi Sari dan Bi Santi secara bersamaan, yang terlihat begitu salah tingkah.


"Bi,, kalian tu kenapa sih Bi? Sebenarnya ada apa sama kalian..?" Tanya Riyan bingung.


"Maafkan kami Mas Riyan,, sebenarnya kami tu sejak tadi lagi ngomongin sikap Mas Riyan yang sangat berubah setelah menikah. Dan kami juga begitu kagum dengan kecantikan Non Fara." Jawab Bi Santi jujur yang membuat Fara langsung tersenyum sambil berkata.


"Jangan berlebihan Bi,,! Semua wanita itu cantik, bukan aku saja. Bi Sari sama Bi Santi juga cantik." Ujar Fara sambil tersenyum menatap kedua pembantunya itu.

__ADS_1


"Non Fara ini bisa saja. Bibi jadi malu di bilang cantik sama wanita secantik Non Fara." Ujar Bi Sari dengan begitu polosnya.


"Bi,, kecantikan seorang wanita itu ada di dalam hati. Aku berubah seperti ini, karena aku memang harus berubah. Aku yang sekarang bukan yang dulu. Sekarang aku sudah menjadi seorang suami. Dan aku ingin menjadi suami yang baik. Karena aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Soalnya, kesetiaan adalah hal yang sangat penting dalam keluarga besar kita. Wanita ataupun pria di dalam keluarga Permana, di tuntut untuk harus setia. Karena itu adalah salah satu cara menjaga nama baik keluarga kita." Jelas Riyan yang membuat Fara juga kedua pembantunya, langsung menatapnya tanpa bisa berkata-kata.


__ADS_2