
Dalam keheningan malam di bawa pancaran sinar purnama. Riyan duduk saling berhadapan dengan Arsen di balkon kamar yang dia tempati malam itu. Dengan suara lirih menahan kesedihannya. Riyan mencoba memberi pengertian kepada Arsen, yang terlihat murung seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Nak,, apa kamu tetap ingin bersama Om Riyan?" Tanya Riyan sambil mengusap-usap kepala Arsen.
Tanpa bersuara Arsen segera menatap Riyan, dengan anggukan kepala menanggapi pertanyaan Riyan barusan. Dari pancaran mata Arsen, terlihat jelas ada ketakutan di sana.
"Apa kamu takut di tinggal Om Riyan?" Tanya Riyan dengan sentuhan lembut meraih kedua tangan Arsen.
"Aku takut di sakiti sama mereka." Jawab Arsen dengan kata-kata yang tidak terlalu jelas layaknya anak berusia lima tahun.
Mendengar Jawaban Arsen, timbul rasa ragu di dalam benak Riyan dengan keputusan yang sudah dia ambil. Riyan mulai berpikir untuk kembali berunding dengan Daniel mengenai Arsen. Namun diapun tiba-tiba teringat akan kata-kata Daniel. Kalau hanya Arsen satu-satunya yang dia punya.
"Om,, apa aku bisa ikut dengan Om saja? Aku janji akan selalu jadi anak yang baik." Ucap Arsen dengan tatapan memohon. Yang membuat hati Riyan seketika terenyuh.
'Ya Tuhan,, aku benar-benar tidak tega harus meninggalkan dia di sini. Tapi aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi semua ini adalah permintaan terakhir Anton.' Batin Riyan dengan tampang penuh beban.
"Om,, kalau aku tidak bisa tinggal denganmu, aku mau tinggal saja di panti tempat aku tinggal waktu itu. Di sana ada banyak teman aku." Ucap Arsen.
"Nak,, Om juga ingin menjadi orang tua buat kamu. Begitupun dengan Tante Fara. Tapi di sini masih ada Pamanmu. Dia sendirian tanpa ada satupun keluarga sama seperti kamu. Apa kamu tidak kasihan melihat keadaannya?" Jawaban Riyan yang berhasil membuat Arsen terdiam sejenak.
"Kamu anak yang sangat baik. Siapapun ingin memiliki anak sepertimu. Tapi kamu juga harus percaya, kalau Pamanmu adalah orang baik. Dia sangat menyayangimu seperti Om Riyan." Tambah Riyan.
"Aku kasihan sama Paman. Tapi aku takut kalau dia itu orang jahat dan bukan Pamanku." Ucap Arsen dengan begitu polosnya.
__ADS_1
Kejadian yang menimpah mereka sebelum bertemu Daniel. Tanpa Riyan sadari telah menjadi satu ketakutan dalam benak Arsen. Di usia yang masih sekecil itu, Arsen hanya berpatokan pada kejadian yang dia alami. Bukan bukti ikatan persaudaraan antara Daniel juga Anton Ayahnya. Apalagi Arsen sendiri belum pernah melihat sosok Ayahnya.
"Dia adalah Pamanmu. Saudara satu-satunya dari Ayahmu. Dia bukan orang jahat seperti orang yang kita datangi kemarin." Dengan begitu tenang, Riyan mencoba untuk meyakinkan Arsen.
"Om,, aku punya foto. Kata Ibu panti itu foto Ibu dan Ayahku." Ujar Arsen yang membuat Riyan langsung menatapnya tanpa suara.
"Om tunggu di sini ya,, biar aku ambil foto itu." Tambah Arsen dan segera berlari masuk ke dalam kamar.
"Mana fotonya?" Tanya Riyan setelah Arsen sudah kembali duduk di hadapannya.
"Apa Om punya foto Ayah? Kalau dia benar Ayahku, berarti fotonya akan sama."
Pertanyaan yang diajukan Arsen benar-benar mengagetkan Riyan. Dia tidak menyangka anak berusia lima tahun bisa memiliki pemikiran seperti itu. Belum lagi keraguan yang ada di dalam pikirannya tentang Daniel.
Selembar foto yang di bawa oleh Arsen seketika menciptakan kekhawatiran di dalam benak Riyan. Dia takut kalau itu ternyata bukan foto Anton. Apalagi hubungan Anton dengan kekasihnya yang tidak lain adalah Ibu dari Arsen, telah berakhir sebelum adanya Arsen.
'Bagaimana ini? Kalau ternyata bukan gambar Anton yang ada di dalam foto itu, Arsen tidak akan percaya Anton adalah Ayahnya.' Batin Riyan.
"Mana foto Ayah aku Om? Aku pengen lihat." Ucap Arsen yang seketika mengagetkan Riyan dari kebingungannya.
"Tunggu sebentar ya,," jawab Riyan sambil membuka galeri foto yang ada di ponselnya.
Melihat Riyan yang hanya terdiam dengan tatapan tertuju pada layar ponselnya, Arsen yang sudah tidak sabar menunggu langsung berdiri dan duduk di pangkuan Riyan. Riyan yang sedikit kaget ingin segera menyembunyikan foto yang sedang di tatapnya saat itu. Namun semuanya sudah terlambat. Sebab Arsen dengan cepat langsung meraih tangannya.
__ADS_1
"Apa dia Ayahku Om?" Tanya Arsen sambil menunjuk gambar Anton yang ada bersama Riyan juga beberapa temannya di layar ponsel Riyan saat itu.
"Iya sayang. Sama kan dengan foto yang ada di tangan kamu?" Tanya Riyan mulai bersemangat.
"Iya Om. Ini foto Ayah dan Ibuku." Jawab Arsen sambil memperlihatkan foto Anton bersama seorang wanita cantik yang ada di tangannya.
"Ibu kamu benar-benar cantik." Ujar Riyan mengagumi wajah bule wanita yang ada di dalam foto bersama Anton.
"Dia adalah Ayahmu. Dan sebelum dia pergi meninggalkan kita semua, dia meminta Om untuk membawamu ke sini. Ke rumah Paman kamu. Karena hanya Paman kamu satu-satunya orang yang di miliki Ayah kamu." Jelas Riyan.
"Apa kamu tega meninggalkan Paman kamu yang tidak punya siapa-siapa? Siapa yang akan menjaganya kalau bukan kamu?"
"Aku mau tinggal di sini saja Om. Aku ingin menjaga Paman. Tapi kita masih bisa bertemu kan Om?" Tanya Arsen.
"Kita bisa bertemu kapanpun kamu mau. Om janji akan mengunjungimu kalau Om punya waktu luang." Jawab Riyan sambil mengusap-usap kepala Arsen.
Ikatan Riyan dengan Arsen sudah semakin dekat layaknya anak dengan Ayahnya. Tapi keadaan tidak memungkinkan mereka untuk bersatu. Karena biar bagaimanapun, Arsen masih memiliki keluarga yang berhak atas dirinya. Apalagi tanggung jawab Arsen sangatlah besar, untuk semua warisan keluarga Ayahnya yang tidak akan pernah habis walau di makan tujuh turunan.
Dengan terpaksa Riyan dan Arsen harus berpisah. Air mata yang mengalir membasahi wajah polos Arsen, menunjukkan betapa berat dia melepaskan kepergian Riyan. Begitupun dengan Riyan yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Arsen.
Riyan begitu sedih melihat Arsen meneteskan air mata menyaksikan kepergiannya. Apalagi di saat pesawat mulai melaju kencang hendak menembus awan. Saat itu air mata Riyan langsung menetes melihat lambaian tangan Arsen di kejauhan sana.
"Tuan muda,, ayo kita pulang. Tuan besar sudah menunggu lama di dalam mobil." Ujar salah seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang berdiri tepat di samping kanan Arsen.
__ADS_1
Tanpa bersuara Arsen pun segera berbalik dan melangkah pergi bersama beberapa orang yang sejak tadi bersamanya. Arsen di kawal dan di perlakukan seperti seorang putra mahkota. Dia yang belum memahami keadaan keluarga Ayahnya, hanya terdiam dan mengikuti semuanya tanpa ada keluhan. Yang ada dalam benaknya saat itu, hanyalah kesedihan karena di tinggal pergi oleh sahabat baik Ayahnya.