Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 39. Kabar Bahagia.


__ADS_3

Keadaan Melda terlihat begitu lesuh pagi itu, yang membuat Reza merasa sangat khawatir dengannya. Di dalam perjalanan, Melda duduk tersandar di sandaran kursi tepat di samping Reza yang sedang mengemudi, dengan wajah yang semakin terlihat pucat. Perasaan Melda begitu tidak nyaman menahan apa yang sedang dia rasakan saat itu.


Ingin sekali Melda mengeluh dan merengek kepada Reza, dengan rasa pusing di kepalanya juga rasa mual, yang membuatnya begitu sangat tidak nyaman. Tapi setelah melirik ke arah Reza, Melda pun langsung mematung dengan tampang penuh beban.


Dengan keadaannya yang tidak bisa beraktifitas seperti istri-istri pada umumnya, yang selalu menyiapkan kebutuhan suami, membuat Melda begitu merasa bersalah dan berdosa kepada Reza. Selama hidup bersama Reza di Malaysia, Melda hampir tidak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


Setiap hari Reza selalu menyiapkan pakaian gantinya sendiri. Sedangkan yang lainnya di siapkan oleh pembantu mereka. Dan Reza melakukan semua itu tanpa mengeluh sama sekali. Bahkan dia selalu melarang Melda di saat Melda ingin menyiapkan pakaian ganti untuknya. Reza tidak ingin membebani Melda untuk mengurus kebutuhannya, selama dia masih bisa melakukannya sendiri.


Hidup Reza sangat di prioritaskan untuk wanita malang yang sangat dia cintai itu. Walaupun dalam hatinya ingin sekali di perhatikan, namun dia tidak bisa memaksa apa yang dia inginkan, dengan keadaan istrinya yang sangat tidak berdaya.


Reza adalah laki-laki sejati yang mencintai wanita tanpa memandang pisiknya. Kasih sayang yang dia miliki tidak pernah berkurang sedikitpun, selama hidup bersama Melda yang sudah tidak sesempurna dulu. Dia melewati hari-hari bersama Melda dengan canda tawa dan penuh kebahagiaan.


Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Melda tidak melepaskan tatapannya kepada suminya di samping. Sedangkan Reza yang begitu serius mengemudi, awalnya tidak menyadari tatapan sendu istrinya. Tapi di saat dia tidak sengaja menatap ke spion yang ada di atasnya, dia langsung terkejut melihat keadaan Melda yang sudah bercucur air mata di sampingnya. Dengan segera, Reza pun langsung menepikan mobilnya di samping jalan kemudian bertanya.


"Kamu kenapa sayang..? Apa ada yang sakit..?" Tanya Reza panik.

__ADS_1


Tanpa menjawab apa-apa, Melda yang sudah bercucuran air mata, langsung memeluk tubuh kekar suaminya di samping sambil menangis terisak, yang membuat Reza semakin bingung juga cemas.


"Ada apa sayang?" Tanya Reza lagi dengan tampang penuh kekhawatiran.


"Maafkan aku Bang." Pinta Melda yang membuat Reza semakin kebingungan.


Reza begitu bingung dengan permintaan maaf yang di ucapkan istrinya. Karena setahu dia selama hidup bersama, Melda sama sekali tidak pernah melakukan suatu hal yang salah. Malah hadirnya Melda dalam kehidupannya, membuat dia bisa tersenyum dan merasakan kebahagian yang sudah lama hilang dari dirinya.


"Buat apa kamu harus minta maaf?" Tanya Reza sambil menatap wajah Melda yang sudah di penuhi dengan air mata.


"Selama ini aku hanya bisa membebanimu. Aku tidak pernah melakukan tugasku sebagai seorang istri yang baik. Padahal setiap hari kamu selalu menjalankan tugasmu sebagai seorang suami yang baik. Aku sangat merasa bersalah juga berdosa atas semua itu Bang." Jawab Melda panjang lebar menjelaskan semua yang ada di dalam hatinya.


"Sayang,, kamu jangan berkata seperti itu lagi.! Sebagai pasangan suami istri, kita harus siap untuk saling menjaga, dan mengurusi pasangan kita di saat sedang sakit. Apa yang aku lakukan ini, juga akan di lakukan olehmu apabila aku yang berada di posisimu. Jadi jangan pernah kamu merasa jadi beban dalam hidupku." Reza berkata-kata sambil mengusap-usap kepala Melda yang masih terus menangis.


"Jangan bersedih lagi! Karena aku sangat tersiksa di saat melihat air matamu." Pinta Reza sambil menghapus air mata Melda.

__ADS_1


"Aku menangis karena bahagia Bang. Terima kasih atas kesabaran juga pengorbananmu selama ini mendampingiku." Ujar Melda sambil tersenyum menatap wajah tampan suaminya yang juga sedang menatapnya.


Setelah berhasil membuat Melda kembali tersenyum, Reza segera melajukan mobilnya menuju Rs besar yang berada tidak jauh dari situ. Hanya memakan waktu beberapa menit, mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju. Selesai memarkirkan mobilnya, Reza langsung melangkah masuk ke dalam Rs, sambil mendorong Melda di atas kursi roda.


Mereka menuju ruangan salah seorang Dr yang kenal baik dengan mereka berdua, karena Dr itu adalah teman Reza. Sampainya di depan pintu ruangan yang mereka tuju, Reza langsung mengetuk pintu yang masih tertutup itu. Dan baru beberapa kali pintu di ketuk, sudah keluar seorang laki-laki berpakaian Dr, sambil menyapa mereka dengan nada suara yang sangat ramah.


"Akhirnya kalian muncul juga. Ayo silahkan masuk!" Ajak Dr Arif yang tidak lain adalah teman Reza.


"Sudah lama kamu nunggunya Rif?" Tanya Reza sambil mendorong kursi roda Melda masuk kedalam ruangan temannya itu.


"Belum juga. Tapi aku pengen aja ketemu kalian. Abisnya kita kan belum pernah ketemu sejak aku dari luar negeri." Jawab Dr Arif.


"Ya sudah, aku langsung periksa saja ya?" Ujar Dr Arif.


"Iya silahkan!" Jawab Reza.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Dr Arif segera memeriksa keadaan Melda. Dan Reza yang sedang berdiri di samping Melda, hanya terdiam dengan tampang penuh kecemasan. Reza sangat menghawatirkan keadaan Melda. Tapi seketika dia pun langsung kaget, mendengar apa yang di katakan Dr Arif.


"Selamat Za,, Mel,, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua." Kata Dr Arif yang membuat Reza juga Melda merasa sangat bahagia. Reza dengan segera langsung memeluk Melda yang sudah terduduk di atas tempat tidur Rs, sambil mengecup pucuk kepalanya berulang-ulang dengan tampang penuh kebahagiaan. Dan Melda pun membalas pelukannya dengan air mata bahagia, yang berlinang membasahi wajah cantiknya.


__ADS_2