Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Ekstra part (4).


__ADS_3

Kecerdasan juga cara berpikir Fara dalam melindungi rumah tangannya, turun dari Omanya yang tidak lain adalah Alira Anastasya. Mereka adalah wanita yang sama-sama, tidak pernah membiarkan seorang pengganggu seperti Amora mendekat, apalagi masuk dalam kehidupan rumah tangga mereka.


"Mas,, ini di kantor. Kalau ada yang melihat bagaimana?" Ujar Fara yang membuat Riyan langsung menyadari perbuatannya saat itu.


Sementara di balik pintu, Amora yang tidak melihat jelas apa yang terjadi barusan antara Riyan dan Fara semakin penasaran. Dia terus mengintip tanpa menyadari keberadaan seorang wanita di belakangnya.


"Maaf Bu. Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Lauren salah seorang pegawai Riyan yang terkenal judes dalam bersikap.


"Saya,, saya,, saya hanya ingin menemui Istrinya Pak Riyan." Jawab Amora salah tingkah saking kagetnya.


"Kalau mau menemui Ibu Fara, mengapa anda hanya mengintip dari balik pintu? Tadinya saya pikir anda mau maling." Ujar Lauren yang membuat Amora seketika tersinggung.


"Maksud kamu apa berkata seperti itu? Aku ini tamu pentingnya Pak Riyan. Jangan asal bicara kamu." Tegas Amora dengan tatapan mata yang sangat tajam.


"Maaf ya Bu. Setahu saya seorang yang terhormat, tidak berprilaku seperti Ibu. Kelakuan Ibu ini tidak ada bedanya dengan seorang maling." Ketus Lauren dengan tatapan mengejek.


"Kurang ajar kamu ya.. Kamu pikir saya ini wanita seperti kamu..? Yang hanya seorang pegawai biasa." Tutur Amora dengan begitu angkuhnya, tanpa tahu kalau Fara sudah berada di belakangnya.


"Ada apa ini?" Fara berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi di luar ruang kerja Suaminya.


"Maaf Bu. Saya hanya menegur Ibu ini. Dia bilang mau bertemu Ibu. Tapi dia hanya.." Kata-kata Lauren langsung di potong Amora.


"Begini Ibu Fara. Tadinya saya itu mau menemui anda. Tapi saya di cegah sama wanita ini." Amora langsung memutar balikkan fakta.


"Ibu Amora yang terhormat. Saya sudah sangat kenal dengan Lauren. Wanita yang tadi anda bilang cuman pegawai biasa. Sedangkan anda sama sekali tidak saya kenal. Jadi kalau anda mau mengatakan sesuatu, di pikir-pikir dulu. Sebab saya bukan orang bodoh." Kata-kata Fara yang membingungkan Amora.


"Maksud anda apa Ibu Fara? Memang itu yang terjadi." Amora tetap berbohong.


"Biar anda tahu, kedatangan Lauren yang tiba-tiba tadi, itu semua atas perintah saya. Saya memintanya untuk cepat datang ke kantor. Takutnya ada maling. Abisnya sepi banget." Kata-kata Fara yang benar-benar menyinggung Amora.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Fara yang begitu malu dengan ucapan Fara langsung pergi meninggalkan kantor Riyan tanpa berpamitan sama sekali. Sementara Fara yang merasa puas telah memberikan pelajaran berharga terhadap Amora, hanya melipant kedua tangan di dada sambil tersenyum sinis.


"Bagaimana sayang? Apa dia sudah pergi?" Tanya Riyan yang baru saja keluar dari dalam ruangannya.


"Hmmm,, dia tidak akan tahan dengar kata-kata aku Mas." Jawab Fara santai.


"Ya sudah. Kalau gitu kita pulang saja." Riyan segera meraih tangan Fara dan melangkah pergi meninggalkan Lauren, yang hanya bisa tersenyum menanggapi sikap Fara.


********


Semakin hari perut Fara mulai kelihatan dengan perkembangan bayi di dalam kandungannya. Hal itu semakin membawa perubahan dalam kehidupan mereka. Riyan yang tadinya selalu fokus dengan urusan pekerjaan, kini mulai betah berada di rumah menemani Fara.


"Mas,, Apa perlu kita melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayi kita?" Tanya Fara saat berada di balkon kamar menikmati suasana sore pada suatu hari.


"Tidak perlu, biarkan semua itu menjadi kejutan untuk kita semua. Aku hanya berharap dia di beri kesempurnaan."


"Mas,, apa suatu hari anak kita akan mengalami perjodohan juga seperti kita? Itu kan sudah menjadi tradisi dalam keluarga Permana." Tanya Fara sambil menyandarkan kepala di dada bidang Riyan.


Seketika senyum pun terpancar di wajah Fara, saat pikirannya tertuju pada seseorang yang baru beberapa hari menghubunginya.


"Mas,, aku sudah punya rencana untuk anak kita kalau nantinya dia seorang perempuan." Fara langsung berbalik menatap Riyan dengan begitu bersemangat.


"Apa rencana mu?" Tanya Riyan.


"Mas tahu Manda kan?"


"Teman SMA kamu di Indonesia kan?" Tanya Riyan.


"Iya Mas. Kemarin kan dia hubungi aku. Dia sudah punya seorang anak laki-laki baru berusia satu tahun. Dia bilang ingin menjodohkan anaknya sama anak kita nanti kalau anak kita perempuan." Fara semakin bersemangat menyampaikan semua itu.

__ADS_1


"Menurut kamu bagaimana Mas?"


"Kita juga belum tahu apa jenis kelamin anak kita. Jadi aku juga belum bisa mengatakan apapun." Jawab Riyan dengan tampang dinginnya.


"Benar Mas apa kata kamu."


*********


Hari berlalu dengan begitu cepat, terlihat di pagi itu Riyan berdiri di depan ruang persalinan dengan raut wajah penuh kecemasan. Dia seorang diri menunggu Fara yang sudah di tangani beberapa Dr di dalam sana. Sementara itu kedua orang tuanya masih berada dalam perjalanan dari Malaysia.


Riyan benar-benar gugup menghadapi situasi darurat seperti itu. Apalagi itu pengalaman pertama untuk dia juga Fara. Sedangkan Fara yang sedang berjuang melahirkan bayinya, terlihat lebih bersemangat saat menerima telepon dari Aleta Mamanya, yang sudah bersiap-siap menuju Amerika bersama Faris.


Hanya Aleta dan Faris yang bisa berangkat melihat Fara di Amerika, setelah menerima kabar dari Riyan. Sementara anggota keluarga Permana yang lainnya, juga sedang menunggu kelahiran sesar anak kembar Alfa, yang akan di lakukan beberapa hari ke depan.


Tepat pukul 9:30 pagi waktu Amerika, terdengar suara tangis seorang bayi yang memenuhi seisi ruang persalinan itu. Melihat perjuangan Fara sejak beberapa jam yang lalu, membuat Riyan yang kebetulan di minta untuk menemani Fara dalam proses persalinan, langsung meneteskan air mata haru bercampur bahagia.


"Mas,, aku sudah menjadi seorang Ibu." Tutur Fara yang juga ikut menangis karena merasa bangga pada dirinya sendiri.


"Iya sayang. Kamu sangat hebat." Bisik Riyan di samping telinga Fara.


Fara yang saat itu sedang memejamkan mata seketika kaget mendengar ucapan salah seorang perawat yang menangani bayinya.


"Dia cantik sekali."


"Apa.. Cantik..? Mas,, anak kita perempuan." Ujar Fara sambil tersenyum menatap Riyan.


"Aku tahu sayang. Aku sudah melihatnya sejak dia lahir tadi."


Kehadiran malaikat kecil itu benar-benar satu anugrah terindah bagi sepasang suami-istri itu. Sebagai seorang Ibu, Fara sangat mendambakan seorang putri cantik. Sementara Riyan juga terlihat begitu lega, setelah mengetahui jenis kelamin putri kecilnya.

__ADS_1


Akhirnya kehidupan Fara dan Riyan pun semakin bahagia dan sempurna, memiliki seorang putri yang sangat cantik. Walaupun menikah tanpa adanya cinta, namun kebersamaan telah membawa sebuah berkah dalam hidup mereka. Berkah yang tidak bisa di tukar dengan apapun di dunia ini.


\#TAMAT\#


__ADS_2