Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 155. Rencana Jahat.


__ADS_3

Sebuah hubungan yang di selimuti cinta akan mendatangkan kebahagiaan yang tak terhingga. Di saat menatap wajah kaku yang sedang sibuk menandatangani berkas yang tertumpuk di atas Meja, Fara seketika mengembangkan senyum di wajahnya tanpa mau memalingkan pandangannya. Dari raut wajahnya yang terlihat begitu ceria, menandakan betapa Indah suasana hatinya kala itu. Perasaan itu sampai membuatnya ingin selalu berada di dekat Riyan.


"Mengapa kamu menatapku sambil tersenyum seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" Tanya Riyan setelah menyadari tatapan Fara yang sedang menemaninya mengerjakan pekerjaannya di kantor.


"Aku ngga mau jauh-jauh dari kamu Mas. Aku tu ingin berada di dekatmu setiap saat." Jawab Fara tanpa melepaskan pandangannya.


"Ngga perlu seperti itu! Apa kamu ingin menggantikan posisi asisten aku?" Tanya Riyan tanpa menatap Fara.


"Ya ngga lah Mas.." Jawab Fara.


"Kamu tu akan menemaniku di saat-saat tertentu saja. Bukan setiap saat." Ujar Riyan.


"Saat-saat tertentu seperti apa yang Mas maksud?" Tanya Fara dengan tatapan malu-malu karena pikirannya mulai melayang di saat mendengar apa yang di katakan oleh Riyan barusan.


"Kamu jangan terlalu berpikir jorok! Menemani itu bukan hanya di atas ranjang." Ujar Riyan yang membuat Fara seketika terdiam dengan tampang kebingungan, sambil bergumam di dalam hatinya.


"Loh,, ko Mas Riyan bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan? Apa jangan-jangan, suami aku sekarang sudah memiliki Indra ke enam?"


Fara bertanya-tanya di dalam hatinya sambil melirik Riyan dengan raut wajah penasaran. Dan tanpa dia sadari, ternyata Riyan sudah melihatnya melewati layar laptopnya yang kebetulan ada di depan Fara. Tanpa berbalik menatap Fara, Riyan pun langsung bersuara yang membuat Fara semakin merasa malu dengan jalan pikirannya saat itu.


"Apa kamu bingung mengapa aku bisa tahu yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Riyan yang membuat Fara seketika salah tingkah.


"Apa-apaan sih kamu Mas..? Kagetin saja tahu ngga..? Memangnya apa yang aku pikirkan..?" Tanya Fara kesal karena di kagetkan oleh Riyan.

__ADS_1


"Kamu memikirkan saat menemaniku di atas ranjang kan?" Tanya Riyan dengan sambil berbalik menatap Fara dengan tatapan serius.


"Ngga.. Siapa juga yang berpikir seperti itu..? Aku hanya ngga nyangka saja kamu bisa berpikir seperti itu." Jawab Fara berbohong.


"Tidak usah bohong. Jujur saja sama suami sendiri!" Ujar Riyan yang membuat Fara semakin merasa kesal.


"Memangnya salah, kalau aku berpikir seperti itu..? Aku kan sudah berumah tangga." Ketus Fara dengan tampang datarnya.


"Siapa juga yang bilang kamu salah? Kamu ngga salah. Tapi jangan terlalu berpikir mengenai hal itu. Karena itu bisa membawa pengaruh negatif." Ujar Riyan yang sudah kembali fokus pada pekerjaannya.


"Maksud Mas apa..? Pengaruh negatif seperti apa..?" Tanya Fara dengan tatapan serius.


"Kalau kamu terus memikirkan hal itu, bisa-bisa kamu akan memperkosaku di sini." Jawab Riyan sambil tersenyum menggoda istri cantiknya itu.


"Begitu saja marah,, aku kan hanya bercanda." Ujar Riyan sambil mendekap Fara di dalam pelukannya.


Di saat Riyan dan Fara sedang menghabiskan waktu berdua di dalam ruang kerjanya, Rena dan Deni malah sedang sibuk menyusun rencana jahat mereka. Sejak kejadian malam itu, di saat Rena dan Deni menghabiskan malam bersama di sebuah kamar, Fara semakin haus akan sentuhan seorang laki-laki. Apalagi dia termasuk wanita yang tidak pernah puas di atas ranjang.


Sejak kejadian malam itu, Rena dan Deni selalu berduaan di dalam kamar apartemen milik Deni yang tidak terlalu besar. Beberapa malam itu mereka lalui dengan permainan panas yang luar biasa. Itu semua terjadi atas keinginan mereka dalam keadaan sadar. Tidak dalam keadaan mabuk seperti malam pertama mereka melakukan hal yang tidak sepantasnya.


Rena yang begitu ingin memiliki Riyan, ingin Deni segera menghamilinya. Karena dia akan menjadikan kehamilannya sebagai senjata untuk menjebak Riyan. Tanpa berpikir panjang Deni pun langsung mengiyakan apa yang di inginkan oleh Rena. Laki-laki mana yang mampu menolak, di saat melihat seorang wanita sudah pasrah di hadapannya tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.


Rena termasuk wanita yang tidak pernah puas dengan sentuhan laki-laki. Dan karena itulah sehingga dia memilih untuk meninggalkan sahabat Riyan. Karena sahabat Riyan yang sekarang sudah menjadi mantan pacar Rena, adalah laki-laki yang selalu menjaga kehormatan seorang wanita. Apalagi wanita yang sangat dia cintai. Namun Rena yang sudah berpikiran liar sejak remaja, malah meninggalkan pacarnya itu karena berpikir, kalau kekasihnya itu tidak seperti apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Den,, apa kamu sudah gila..? Kalau sampai Rena mengandung dan melahirkan, apa kamu tega membiarkan darah daging mu di besarkan oleh orang lain..?" Tanya Arlan di saat Deni mampir ke tempatnya, setelah selesai mengantarkan Rena pulang.


"Aku tidak perduli. Asalkan aku bisa miliki wanita pujaan hatiku. Aku akan menghasilkan segala cara demi bisa memilikinya." Jawab Deni dengan tampang serius.


"Astaga Den,, rencana kalian tu konyol banget.. Apa kamu tega melakukan rencana yang sangat tidak masuk akal itu..?" Tanya Arlan dengan kening yang berkerut saking kaget bercampur bingung.


"Kita berdua sudah sepakat, untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang kita inginkan." Jawab Deni yang membuat Arlan tidak mampu untuk bersuara.


Arlan yang juga di libatkan dalam rencana jahat Deni dan Rena, sangat tidak tega untuk melakukan apa yang di rencanakan oleh Deni dan Rena. Karena menurutnya rencana itu benar-benar gila. Apalagi Riyan sudah Arlan anggap sebagai saudaranya sendiri. Karena di antara mereka semua, hanya Arlan yang selalu membantu kesusahan teman-temannya. Termasuk Arlan juga pernah di bantu oleh Riyan. Dan karena hal itu sampai dia sangat merasa bersalah mendengar rencana yang sudah di persiapkan oleh saudaranya itu.


"Arlan.. Kamu harus membantu aku dalam menjalankan rencana yang telah aku dan Rena sepakati. Karena hanya dengan seperti itu, Fara dan Riyan dapat di pisahkan.


"Tapi rencana kalian itu sangat tidak masuk akal. Aku tidak bisa melakukannya.


"Arlan,, apa kamu lupa kalau Ibumu sedang sekarat di RS. Untuk kesembuhannya memiliki banyak biaya. Aku akan menanggung semuanya, kalau kamu mau terima dengan rencana aku." Ujar Deni yang terkesan sedikit memaksa.


"Den,, kamu ko jadi berbicara seperti itu? Kamu bilang kita kan saudara, jadi tidak bisa mengungkit kebaikan kita. Tapi saat ini kamu sangat berubah." Ujar Arlan dengan tampang penuh kekecewaan.


"Makanya kamu harus membantuku, biar aku ngga akan pernah mengungkit semua yang aku berikan kepada keluargamu." Ujar Deni.


"Jadi kamu masih ingin menolak..?" Tanya Deni dengan tatapan tajam ke arah Arlan.


"Aku akan melakukan semua yang kamu inginkan. Tapi mulai hari ini, kamu harus membiayai perawatan Ibuku!" Jawab Arlan.

__ADS_1


__ADS_2